Touring Pendidikan RPI dan KPAY FM di Buttue Pangkep, Warga Keluhkan Akses Jalan

Terkini.id, Pangkep – Relawan Pendidikan Indonesia (RPI) bersama KPAY FM disupport komunitas Ide Berbagu melakukan touring pendidikan dengan mengusung tema Membangun Sinergitas untuk Pendidikan Lebih Maju di daerah pesisir tepatnya pada Kampung Buttue, Desa Kanaungan, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep, Minggu, 23 Februari 2020.

Perkampungan yang berdiri di pinggir pesisir ini memiliki penduduk sekitar 30 Kepala Keluarga dengan mata pencaharian utama adalah nelayan.

Perjalanan para relawan memerlukan waktu kurang lebih 2 jam dari Kota Makassar, dari dua jam tersebut sekitar 40 menit digunakan untuk berjalan kaki karena tidak adanya akses jalan yang mendukung masuknya kendaraan di Kampung Buttue.

Kedatangan Relawan Pendidikan Indonesia sangat disambut baik oleh masyarakat setempat, salah satu warga menuturkan bahwa mereka bersyukur ketika masih ada pemuda yang mau berkunjung dengan niat yang baik meski dengan keadaan serba kekurangan.

Sekitar 157 relawan turut andil dalam touring pendidikan tersebut, yang kemudian dibagi dalam 5 kelas, yaitu kelas agama, inspirasi, karakter, bahasa dan infrastruktur.

Baca juga:

Setiap kelas yang tentu sudah memiliki bahan dan trik untuk mengajar siswa-siswa agar pembelajaran dapat berlangsung tanpa rasa bosan dan ngantuk.

Dengan keadaan sekolah yang disebut sebagai sekolah terapung berdiri tegak layaknya rumah panggung yang dikemas dengan kayu seadanya dan terdiri dari dua kelas serta dua pengajar dengan jumlah siswa/i 23 orang tidak mengurangi semangat adik-adik untuk tetap belajar dan juga guru-guru yang mengajar.

Setiap kelas berlangsung dengan waktu masing-masing yang telah ditentukan disambut antusias oleh siswa/i dengan hangat, terbukti dengan keaktifan adik-adik dalam setiap sesi kelas dan juga semangat luar biasa dari para relawan yang terus membangun dan mendorong adik-adik untuk terus mengejar cita-cita meski dengan berbagai badai rintangan.

Kolaborasi yang sangat hebat antara adik-adik dan relawan membuat suasana kelas begitu hidup. Hal tersebut sangat tergambar pada wajah adik-adik yang memiliki mimpi dan semangat untuk belajar.

Selain mengajar adik-adik SDN 38 Buttue, para relawan juga turut membantu kegiatan masyarakat sambil melakukan wawancara.

Kurangnya infrastruktur menjadi keluhan utama masyarakat Kampung Buttue, mulai dari akses jalan, masjid, listrik, dan air bersih yang belum mampu diakomodir dengan baik oleh pemerintah setempat.

Khususnya akses jalanan yang sampai detik ini belum dibangun membuat masuknya akses listrik dan air bersih menjadi sulit dan anak-anak di desa setempat yang mempunyai semangat untuk tetap bersekolah perlahan redup diterpa kelelahan berjalan kaki yang ditempuh setiap hari sekitar 5 kilo untuk melanjutkan pendidikan ditingkat SMP.

Meski ada perahu yang dapat digunakan untuk sampai lebih cepat, namun tidak bisa digunakan setiap hari. Sebab perahu adalah sarana utama orangtua adik-adik di sana dalam mencarai nafkah, bensin yang mahal juga menjadi alasan mengapa adik-adik memilih untuk berjalan kaki.

Bahkan dari hasil wawancara, hanya ada satu anak yang mampu bertahan hingga kini untuk tetap melanjutkan sekolah di tingkat SMP dan lainnya yang tidak melanjutkan sekolah membantu pekerjaan orang tuanya.

Tidak adanya infrastruktur seperti akses jalanan yang baik menuju sekolah tingkat SMP dan SMA membuat adik-adik tidak dapat memenuhi kebutuhannya akan dunia pendidikan.

Sehingga, pemerintah sudah seharusnya bertanggungjawab dalam hal ini sebagaimana maksud Pasal 28I UUD RI 1945 bahwa perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggungjawab negara, terutama pemerintah.

Untuk itu, sudah sepatutnya pemerintah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan mampu mengakomodir masalah-masalah tersebut.

Mengingat tujuan bangsa Indonesia yang sangat jelas tertera pada pembukaan UUD 1945 alinea 4 yaitu mewujudkan kesejahteraan umum.

Ketercapaian tujuan ini tidaklah terlihat di Kampung Buttue. Mengapa demikian? Hal mana yang dapat dikatakan sejahtera jika akses jalan sulit, tidak terdapat listrik, bahkan tempat ibadah yaitu masjid ataupun mushollah tidak terdapat pada kampung tersebut yang masyarakatnya adalah muslim.

Daerah atau perkampungan tanpa masjid sangatlah miris, ditengah-tengah Indonesia dikenal dengan negara dominan muslim. Hal ini tidaklah sejalan dengan UUD 1945 pasal 29 ayat 2 yakni Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Kenyataannya, berbagai keluhan untuk kepala desa diutarakan warga setempat yang sudah dua periode menjabat namun hingga sekarang hanya sedikit bantuan yang diberikan di Kampung Buttue, padahal warga setempat telah dijanji akan dibangunkan jalanan, masjid dan pengadaan listrik bahkan data dari pusat menunjukkan bahwa sudah ada anggaran untuk alokasi pembangunan masjid di Kampung Buttue yang bersamaan dengan pembangunan sekolah dasar, kenyataannya hanya sekolah yang dibangun, akan tetapi masjid tidak ada.

Warga mengeluhkan tidak adanya masjid sebagai tempat beribadah membuat ibadah mereka tergganggu, khususnya saat salat jumat dan bulan ramadhan.

“Di bulan puasa paling susah karena kami harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai ke masjid menunaikan tarawih, belum lagi ongkos bensin untuk perahu yang mahal, cuaca yang kurang mendukung seperti hujan dan ombak yang tinggi seringkali menghalangi untuk berangkat,” ujar salah seorang warga.

“Syukur-syukur kami menunaikan tarawih empat kali selama ramadhan, belum lagi saat idul fitri. Ungkap salah seorang warga,” sambungnya.

Tujuan bangsa akan mensejahterkan seluruh rakyatnya sampai detik ini sepertinya masih berjalan di tempat.

Hal itu kemudian tentu tidak sejalan dengan konstitusi dimana dalam Pasal 28 C ayat (1) diatur bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.

Saripuddin selaku Kepala RT Kampung Buttue sangat berharap agar pemerintahan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan lebih memperhatikan lagi persoalan infrastruktur yang begitu dibutuhkan warga Kampung Buttue seperti akses jalan yang dirasa begitu sulit untuk bergerak sebab ketiadaannya, masjid sebagai tempat beribadah, dan listrik sebagai penerang warga.

Citizen Reporter: Ahmad Yani

Komentar

Rekomendasi

Ketua Demokrat Sulsel Salurkan Bantuan Paket Sembako ke Warga Pangkep

Bully dan Aniaya Penjual Jalangkote, 8 Pelaku Mengaku Cuma Iseng

Soal Kasus Perundungan di Pangkep, Anir: Semoga Tak Terulang

Gubernur Sulsel: Stop Perundungan Terhadap Anak

Komunitas Sepeda Makassar dan Pangkep Bantu Anak Korban Perundungan

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar