Terkini.id, Jakarta – Tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Gus Sahal mengomentari soal pernyataan Komedian Pandji Pragiwaksono yang membandingkan Front Pembela Islam (FPI) dengan dua ormas terbesar di Indonesia NU dan Muhammadiyah.
Lewat cuitannya di Twitter, Sabtu 23 Januari 2021, Gus Sahal menilai terdapat tiga kesalahan fatal dari pernyataan Pandji soal FPI yang mengutip pendapat dari Prof Tamrin Tomagola.
Kesalahan fatal pertama, kata Gus Sahal, Pandji Pragiwaksono tidak paham dengan pendapat Prof Tamrin perihal NU dan Muhammadiyah yang disebut Pandji lebih elitis dibanding FPI.
“Kesalahan fatal pandji : Gak paham Prof Tamrin. Kalo NU-MD kurang menyambangi Miskin Kota, itu BUKAN elitis, tapi punya kelemahan/keterbatasan. Elitis itu kalo menolak nyambangi,” cuit Gus Sahal.
Kesalahan yang kedua, lanjut Sahal, Pandji telah menggeneralisir pernyataannya yang menyebut FPI lebih banyak membantu masyarakat dibanding NU dan Muhammadiyah. Padahal, hal tersebut hanya terjadi di Jakarta dan tidak secara nasional.
- Melayani Tanpa Batas Waktu, Disdukcapil Jeneponto Buka Layanan di Hari Libur, Terbitkan 119 Dokumen
- Korban Penganiayaan di Tamalatea Terbaring Lemas, Diduga Pelaku Lebih dari 1 Orang, Kapolsek Bilang ini
- Kuliah Umum Prodi MHU UIN Alauddin Makassar Hadirkan Wakil Menteri Haji dan Umrah RI
- Pertamina Tambah Pasokan LPG 3 Kg di Sulawesi untuk Antisipasi Lonjakan Kebutuhan Saat Long Weekend
- Gammara Hotel Hadirkan Paket "Stay & Bring Home Happiness", Tamu Bisa Bawa Pulang Kelinci Lucu
“Kasus Jakarta digeneralisir jadi nasional,” tutur Gus Sahal.
Sementara kesalahan fatal Pandji yang ketiga, menurut Gus Sahal, yakni analisis Prof Tamrin terkait FPI tersebut berdasarkan pengamatannya pada 2012 silam. Namun, Pandji menyebut hal itu adalah fenomena yang terjadi di 2021.
“Analisa tahun 2012 diterapkan gitu aja untuk 2021,” ungkapnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
