Prof. Suharman menilai keterlibatan Unhas dalam forum tersebut bukan sekadar agenda hubungan antaruniversitas, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menerjemahkan pengalaman sejarah menjadi pembelajaran akademik.
“Bagi Unhas, forum ini lebih dari sekadar pertemuan antaruniversitas. Kita melihat bagaimana pengalaman sejarah dapat diterjemahkan menjadi pembelajaran, penelitian, dan pendidikan untuk membangun generasi yang lebih terbuka terhadap perbedaan dan lebih kuat dalam semangat kolaborasi,” ujar Prof. Suharman.
Menurutnya, posisi Unhas sebagai perguruan tinggi yang tumbuh di kawasan Indonesia Timur dengan keragaman masyarakat dan budaya memberikan pengalaman yang relevan dalam dialog internasional mengenai perdamaian dan keberlanjutan.
Ia menegaskan, perdamaian tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai gagasan, tetapi perlu diwujudkan dalam proses pendidikan, penelitian, maupun kerja sama perguruan tinggi dengan masyarakat dan institusi internasional.
“Sebagai perguruan tinggi, pembelajaran di Unhas menempatkan isu perdamaian lebih luas dari sekadar gagasan. Ide ini perlu hadir dalam cara kita mendidik mahasiswa, mengembangkan penelitian, dan membangun kerja sama dengan masyarakat maupun institusi di negara lain,” jelasnya.
- Tanda-tanda Ada Tersangka, Tiga Kasus yang Menyeret Bupati Gowa Naik ke Tahap Penyidikan
- Wali Kota Munafri Ibaratkan Makassar Taman Bunga: Saya Akan Bersihkan Ilalang yang Menutupi Keindahan
- Kota Makassar Kian Memikat Investor, Nilai Investasi Awal 2026 Capai Rp2,7 Triliun
- Oknum Guru Di Jeneponto Diduga Aniaya Siswa, Korban Demam Dan Merasakan Sakit Jika Menelan
- 10 Penggerak HAM Sulsel dan Wilker Sultra Resmi Teken Kontrak, Kakanwil Tekankan Perubahan Nyata di Masyarakat
Internasionalisasi Bukan Sekadar Jumlah Mitra
Kehadiran Unhas dalam forum tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi.
Prof. Suharman mengatakan, interaksi dengan perguruan tinggi dari berbagai negara memberikan kesempatan untuk memperluas perspektif akademik sekaligus membuka peluang pengembangan kerja sama yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan masing-masing institusi.
“Perjumpaan dengan perguruan tinggi dari berbagai negara juga membuka ruang untuk memperluas perspektif akademik dan mengembangkan bentuk kerja sama yang sesuai dengan konteks masing-masing. Internasionalisasi perguruan tinggi tidak semata diukur dari jumlah mitra, tetapi dari kualitas interaksi dan kontribusi yang lahir dari kemitraan tersebut,” katanya.
Sementara itu, Presiden Hiroshima University, Mitsuo Ochi, dalam sambutan pembukaannya menekankan pentingnya meneruskan ingatan dan pembelajaran dari tragedi bom atom Hiroshima.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
