Untuk Randi

Ayolah, ayo, ayo… Derap derukan langkah
Dan kibar geleparkan panji-panji
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Sejarah ummat telah menuntut bukti

Randi, aku menangis saat menuliskan bait-bait mars yang tentu sama-sama pernah kita nyanyikan itu. Mars yang kita teriakkan dengan dada bergemuruh dan tangan mengepal. Barangkali waktu itu kamu nyanyikan ketika mengikuti DAD, kadang-kadang kita lantangkan sambil memejamkan mata, atau ketika kita dikumpulkan dalam sebuah barisan, bersiap menyuarakan nurani—meski kadang dicibir atau dinyinyiri.

Kita berbeda generasi, Randi. Tetapi kita sama-sama pernah berjaket merah dengan logo IMM di dada. Kita sama-sama bangga melihat bendera merah berkibar di kampus, di jalanan, atau di tempat-tempat lainnya. Kita selalu merasa berhutang janji pada ummat, pada rakyat, pada bangsa, pada sejarah… Kita selalu ingin berbuat sesuatu untuk negeri ini.

Maka dengan cara kita masing-masing, Randi, kita mencoba menunaikan janji itu, mencoba memberi bukti, bahwa gelora perjuangan tak pernah padam di dada kita. Bahwa kita tak pernah kehilangan nyali untuk turun, untuk berbuat, untuk bertindak. Meski kadang pilihan-pilihan perjuangan kita tidak disukai atau disalahpahami.

Ingatlah, ingat, ingat… Niat t’lah diikrarkan
Kitalah cendekiawan berpribadi
Susila, cakap, takwa kepada Tuhan
Pewaris tampuk pimpinan umat nanti

Randi, kamu sudah menuliskan sejarahmu sendiri. Ikrarmu sudah tunai. Kaulah cendekiawan berpribadi: Yang tak takut membela nuranimu sendiri, tak kehilangan nyali membela apa yang harus disuarakan, tak gentar membela ummat dan rakyat.

Telah purna tugasmu, Dik. Meski aku jalan duluan, kewajibanku adalah melanjutkan apa yang sudah kau perjuangkan. Jika kini aku menempuh jalan lainnya, dengan tak berteriak dan mengepalkan tangan di jalan-jalan, bukan berarti aku meninggalkan barisan. Kita tahu kekuasaan harus direbut, harus ditaklukkan, kadang harus kita lakukan dari dalam… Kita harus bisa dan bersedia menjadi pewaris tampuk pimpinan ummat nanti.

Aku berjanji, Dik, sekuat tenaga aku akan berjuang untuk menunaikan apa yang kau perjuangkan.

Immawan dan Immawati
Siswa teladan, putera harapan
Penyambuing hidup generasi

Untukmu, aku berduka, Dik. Tetapi sekaligus bangga. Kepergianmu akan dikenang. Kepulanganmu menuliskan sejarahnya sendiri. Immawan dan Immawati di seluruh pelosok negeri ini bangga padamu. Istirahatlah dengan tenang, Randi, kami akan melanjutkan semua perjuangan ini. Sampai tuntas. Sampai lunas.

Bahwa tak boleh ada penguasa yang merasa berhak bertindak sewenang-wenang. Bahwa tak boleh ada rakyat yang merasa ditindas, dimiskinkan, diancam dan dikerdilkan. Bahwa tak boleh ada pemufakatan jahat untuk melindungi kelompok tertentu dan menghancurkan kelompok yang lain. Bahwa jangan ada lagi yang terluka bahkan terbunuh ketika membela rakyatnya sendiri. Bahwa penguasa yang tak tahan kritik boleh masuk ke keranjang sampah sejarah, karena mereka bukan dewa dan kita bukan kerbau!

Umat Islam seribu zaman
Mendukung cita-cita luhur
Negeri indah adil dan makmur

Kita tahu, Randi, bahwa demokrasi yang kita perjuangkan bukan tentang membela seorang individu atau sebuah kelompok. Demokrasi kita adalah perjuangan membela nilai-nilai. Siapapun yang setia pada nilai-nilai itu, harus kita bela dan perjuangkan… Tetapi kapanpun ia berkhianat pada nilai-nilai itu, maka wajib kita didik dengan kritik. Fardu ‘ain untuk kita ingatkan dan luruskan. Bagi kita, nilai-nilai itu adalah komitmen untuk menghormati akal budi (intelektualitas), keteguhan untuk setia pada kebenaran (religiusitas), dan keteguhan untuk membela nilai-nilai kemanusiaan (humanitas).

Randi, pulanglah dengan tenang. Dengan senyuman dan dada yang bangga. Lantunan mars IMM dari kami semua mengiringi kepergianmu. Terima kasih karena telah memberiku satu keyakinan: Bahwa jika memang aku tak bisa terus berjuang dengan caraku ini, bahwa jika semua ini tiba pada sebuah jalan buntu, maka aku akan pergi… Keluar dan mengibar geleparkan panji-panji!

FAHD PAHDEPIE

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Pilpres

Tugas TKD Jokowi-Ma’ruf Sulsel Resmi Berakhir

Terkini.id -- Tugas Tim Koalisi Daerah (TKD) Jokowi-Ma'Provinsi Sulawesi Selatan resmi berakhir, sejak, Joko Widodo-Ma'ruf Amin (Jokowi-Ma'ruf) ditetapkan sebagai pasangan presiden dan wakil presiden