Terkini, Makassar – Persoalan sampah masih menjadi tantangan dalam upaya Pemerintah Kota Makassar mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang. Sejalan dengan kebijakan pengelolaan sampah dari sumbernya, berbagai upaya terus dilakukan agar hanya sampah residu yang berakhir di TPA.
Salah satu tantangan tersebut dihadapi UPTD Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Paotere Makassar. Karakteristik sampah yang dihasilkan di kawasan pelelangan ikan berbeda dengan sampah rumah tangga karena didominasi limbah perikanan yang bercampur dengan sampah anorganik. Kondisi ini membuat proses pengelolaan membutuhkan penanganan yang lebih kompleks.
Untuk melihat potensi solusi yang dapat diterapkan, UPTD TPI Paotere menerima kunjungan Rappo Indonesia, sebuah usaha sosial yang bergerak di bidang pengelolaan sampah dan telah berpengalaman selama enam tahun mendampingi berbagai pihak dalam pengurangan dan pengolahan sampah.
Kepala UPTD TPI Paotere, Nursyamsul Burhan, S.Tr.Kes., M.M., mengatakan pihaknya masih menghadapi tantangan besar dalam menangani sampah yang berasal dari aktivitas pelelangan ikan.
“Kami masih kesulitan mengelola sampah dari pusat pelelangan ikan karena membutuhkan penanganan yang lebih banyak dibandingkan sampah rumah tangga pada umumnya. Karakter sampah organik dari hasil perikanan yang bercampur dengan jenis sampah lain menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.
- Tiga Kepala Daerah Temui Wawali Aliyah Mustika Ilham, Pelajari Program Unggulan Makassar
- Pemkot Makassar Jadi Rujukan, Bupati Brebes Pelajari Inovasi Pelayanan dan PAD
- Jaga Ketahanan Pangan, Bupati Jeneponto Hadiri Rakor Penetapan LP2B
- Perkuat Kriya Lokal Luwu Timur, PT Vale Hadirkan Anyaman Teduhu di Ajang Dekranas yang Dipusatkan di Makassar
- Suriana Raih Gelar Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa dengan IPK Sempurna 4,0
Sementara itu, Founder dan CEO Rappo Indonesia, Akmal Idrus, menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan untuk meninjau langsung kondisi pengelolaan sampah di kawasan Paotere.
“Kami senang bisa dilibatkan dalam upaya pengelolaan sampah di Paotere. Namun, kami melihat tantangannya memang tidak sederhana karena sampah sudah bercampur. Jika ingin didaur ulang, diperlukan sumber daya tambahan, baik dari sisi pemilahan, teknologi, maupun kolaborasi berbagai pihak,” kata Akmal.
Menurut Akmal, penyelesaian persoalan sampah di kawasan pelabuhan dan pusat pelelangan ikan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara pemerintah, pengelola kawasan, pelaku usaha, komunitas, hingga sektor swasta agar tercipta sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Melalui kunjungan tersebut, kedua pihak berdiskusi mengenai peluang kolaborasi untuk meningkatkan pengelolaan sampah di kawasan TPI Paotere. Langkah ini diharapkan dapat mendukung program Pemerintah Kota Makassar dalam mengurangi timbulan sampah yang dibuang ke TPA sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah yang lebih efektif sejak dari sumbernya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
