Masuk

Ustadz Ini Bicara Soal Kedekatan Ferdy Sambo dan Tito Karnavian

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Ustadz Suharsono memberikan pendapatnya terkait hubungan otak pembunuhan Brigadir J alias Brigadir Yoshua, Ferdy Sambo dan mantan Kapolri Tito Karnavian.

Melalui saluran YouTube bernama Uli Albab Media, Ustadz Suharsono melampirkan beberapa berita tentang kasus pembunuhan Brigadir J terutama pernyataan yang pernah dilontarkan oleh Kamaruddin Simanjuntak.

Diketahui Kamaruddin Simanjuntak selaku pengacara Brigadir J berujar bahwa Ferdy Sambo sangat dekat dengan Tito Karnavian.

Baca Juga: Heboh, Terobos Ruang Sidang Ferdy Sambo, Syarifah: I Love You Pak Sambo, Aku Ingin Jadi Istrimu

 “Menurut Kamaruddin Ferdy Sambo sangat dekat dengan Mantan Kapolri yang saat Ini menjadi Menteri Dalam Negeri,” ujar Ustadz Suharsono, dikutip terkini.id dari suara.com, Sabtu 24 September 2022.

Lebih lanjut, Ustadz Suharsono berpendapat bahwa kedekatan yang dijalin oleh kedua petinggi Polri tersebut merupakan hal yang lumrah.

“Menurut saya wajar, karena dulu dia menjadi Kapolri dan Sambo menjadi anak buah medan dulu yang mendirikan Satgasus,” kata Ustadz Suharsono.

Baca Juga: Ferdy Sambo Disebut Musuhi Brigadir J Sejak Hadir Wanita Misterius yang Menangis di Rumah Bangka

Sebagai informasi, Kamaruddin Simanjuntak beberapa waktu lalu mengungkapkan rasa frustasinya terkait perkembangan kasus pembunuhan Brigadir J ini.

Kamaruddin Simanjuntak menilai ada peran Presiden Jokowi dalam lambatnya proses hukum yang sedang berjalan.

Kamaruddin Simanjuntak menyebutkan keterlambatan perkembangan kasus Brigadir J ini disebabkan oleh sikap dari Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi yang melimpahkan kewenangan kasus ini kepada Polri membuat kasus ini berjalan ditempat.

Baca Juga: Brigadir J Disebut Sempat Bopong Putri Candrawathi Saat di Rumah Magelang

Selain itu, Kamaruddin Simanjuntak menilai Presiden Jokowi tidak melakukan tindakan apapun terhadap kasus kematian Brigadir J.

Ia juga menyatakan perintah yang selama ini diberikan Presiden Jokowi tidak cukup untuk membongkar fakta dibalik pembunuhan Brigadir J.

“Tetapi karena presiden tidak mau berbuat sesuatu. Maka pada akhirnya, kecuali hanya mengatakan empat kali, buka seterang-terangnya,” ucap Kamaruddin Simanjuntak.

“Memang kita akui dia mengatakan itu empat kali, dalam empat kali momen,” lanjut Kamaruddin Simanjuntak.

“Presiden membiarkan Polri terjebak dalam lumpur. Itu akhirnya sampai dengan hari ini, mereka terjebak tidak bisa keluar,” sambung Kamaruddin Simanjuntak.

Berdasarkan pengamatannya, semestinya sudah ada lebih dari lima tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir J.

“Harusnya sudah banyak tersangka, minimal 35-30 orang. Tapi sampai hari ini baru lima ditambah dengan tujuh,” ungkap Kamaruddin Simanjuntak.

“Yang tujuh itu pun juga satu di antara lima, itu yaitu tersangka obstruction of justice,” pungkas Kamaruddin Simanjuntak.