PT Vale sendiri sudah melakukan reforestrasi di luar area konsesi dan melakukan rehabilitasi (penghijauan lahan bekas tambang) di Kawasan konsesi tambang yang luasnya mencapai dua kali lipat dari total bukaan tambang perusahaan itu.
Hingga saat ini, Vale telah merealisasikan total 10.000 hektare penghijauan di luar area konsesi untuk tahap pertama, termasuk 250 hektare lahan di Lappa Laona untuk tahap pertama. Sebagian telah diserahkan ke pemerintah dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup.
Perusahaan yang memegang konsesi 118.000 hektare di Pulau Sulawesi ini, punya prinsip untuk mengganti lahan bukaan tambang dengan aksi rehabilitasi yang luasnya bisa sampai tiga kali lipat.
“Artinya, kalau kita menambang lahan yang sudah direklamasi 10 hektare, maka kami ganti (rehabilitasi) 30 hektare,” ujar Direktur Strategic Permit PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), Budiawansyah.
Mengawal Visi Indonesia Menuju Net Zero Emisi
Rehabilitasi dan reklamasi lahan yang dilakukan Vale, bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban sebagai pemegang izin konsesi. Menurut Febriany Eddy, CEO PT Vale Indonesia, apa yang dilakukan PT Vale selalu sejalan dengan prinsip ESG atau Environmental, Social and Governance. ESG Ini adalah prinsip yang sudah disepakati para pemimpin dunia untuk menghadapi perubahan iklim, yang harus dijalankan perusahaan.
- PT Vale Promosikan Produk UMKM Binaan di Perayaan HKG PKK Nasional dan HUT Dekranas
- PT Vale Tetap di Jalur Pengurangan GRK, Penurunan Emisi Karbon Berlanjut di 2025
- PT Vale Terus Perkuat Tata Kelola ESG, Skor Risiko Keberlanjutan Turun Hampir 20 Persen pada 2025
- PT Vale Buka Suara Terkait CSR Pengadaan Ambulance di Lutim, Perseroan Ikut Terdampak
- Jejak Perjalanan ESG PT Vale 2026: Menavigasi Tantangan, Memberi Dampak Besar
“ESG sudah seperti DNA perusahaan. Ketika menjadi DNA, maka setiap langkah perusahaan akan selalu sejalan dengan ESG ini,” ungkap Febriany saat berbicara di depan sejumlah pemimpin perusahaan, termasuk di antaranya Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, dalam event skala nasional Makassar Leadership Summit yang digelar Perhimpunan Manajemen SDM (PMSM), Selasa 28 November 2023 lalu.
Perusahaan yang mengoperasikan pabrik smelter di Kawasan Sorowako, Luwu Timur itu sudah punya peta jalan untuk mengawal net zero emisi.
Beberapa langkah penting yang dilakukan perseroan, di antaranya membuat industri peleburan nikel di Sorowako, menggunakan 100 persen energi hijau, dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA). “Kami membangun dan mengoperasikan tiga PLTA dengan kapasitas total 365 Megawatt. Tiga PLTA Ini bisa mengurangi emisi karbon sampai 1 juta ton per tahun,” ungkap Febriany.
Keputusan penting yang dilakukan perseroan adalah memilih untuk tidak menggunakan energi dari batu bara untuk industri smelter yang sedang dibangun di dua Provinsi di Sulawesi: Pomalaa Sultra dan Morowali Sulteng. Padahal, belum ada aturan yang melarang batu bara.
Jika menggunakan batu bara, menurut Febriany, Vale sebenarnya bisa untung sampai USD 40 juta per tahun. Tapi dampak buruknya, penggunaan baru bara itu bisa menambah emisi karbon sampai 200 ribu ton per tahun. Yang juga berarti Vale melenceng dari jalan untuk menempuh net zero emmission.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
