Masuk

Waspada! Hal Ini Bisa Jadi Ancaman Kesehatan, Hindari Sebelum Terlambat

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Kadang membangun kebiasaan hidup yang sehat memang menjadi sangat penting dan hal yang paling diminati semua orang Indonesia.

Namun, sayangnya sebagian orang masih sering menerapkan kebiasaan umum yang tanpa disadari justru bisa membahayakan kesehatan.

Adapun penjelasan yang disampaikan oleh ahli gizi Ilana Muhlstein MS RD yang mengungkapkan kebiasaan sehat yang bisa merugikan kesehatan.

Baca Juga: Inilah Lima Efek Tidur dengan Kipas Angin Menyala Semalaman

“Mulai dengan satu kebiasaan sehat dan kemudian lanjutkan dari sana dengan menambahkan satu kebiasaan lagi, lalu satu kebiasaan lagi, sampai Anda menciptakan fondasi yang kuat,” ungkap Ilana Muhlstein MS RD.

Terkait hal itu upaya membentuk kebiasaan sehat ini, ada lima kebiasaan umum yang sebaiknya dihindari karena bisa merugikan kesehatan Tubuh.

Berikut ini adalah kelima kebiasaan sehari-hari tersebut. Dikutip terkini.id dari Berbagai Sumber.

Baca Juga: Ternyata Kebiasaan Umum Ini Berbahaya Untuk Kesehatan, Waspada!

1. Tidak bertanya pada dokter

Saat berkonsultasi, dokter menginginkan pasien menjadi rekan yang aktif. Dalam hal ini, pasien diharapkan bisa aktif bertanya kepada dokter mengenai masalah kesehatan mereka.

Hindari melakukan diagnosis sendiri melalui Google hanya karena takut bertanya kepada dokter tentang sesuatu.

Aktif bertanya kepada dokter juga dapat membantu pasien untuk mendapatkan perawatan yang terbaik.

Baca Juga: Ternyata! Serangan Stroke Bisa Dicegah dengan Deteksi Dini

2. Mengorek kuping dengan cotton bud

Kebiasaan mengorek kuping dengan cotton bud sebenarnya merupakan hal kontraproduktif.

Kuping pada dasarnya memproduksi wax yang berfungsi mencegah infeksi, memerangkap kotoran, dan menjaga kuping tetap kering.

Mengorek kuping hanya akan membuat wax terdorong semakin ke dalam, memicu cedera di kulit liang telinga, dan memicu infeksi atau bahkan merusak gendang telinga.

Bila ingin membersihkan kuping, cukup bersihkan area paling luar dengan kain yang lembap.

Jangan mendorong apa pun masuk ke dalam liang telinga. Bila merasa ada kotoran telinga yang membuat tidak nyaman, coba konsultasi dengan dokter.

3. Tetap ke tempat kerja meski sakit

Cukup banyak orang yang memaksakan diri tetap pergi ke tempat kerja meski sedang merasa sakit.

Hal ini juga ditemukan dalam sebuah survei yang melibatkan pekerja kantoran dari 28 kota di Amerika Serikat.

Survei tersebut menunjukkan, 90 persen warga Amerika tetap pergi bekerja meski mereka sakit.

Bekerja saat sakit juga merupakan hal yang kontraproduktif. Di satu sisi, pekerja yang sakit tidak bisa mendapatkan waktu istirahat untuk bisa memulihkan diri dengan optimal.

Di sisi lain dia juga berisiko menularkan penyakit kepada rekan kerja, terlebih di masa pandemi. Gunakan izin sakit dan beristirahat di rumah selama sakit.

4. Parkir terlalu dekat

Banyak orang senang untuk memarkirkan kendaraan mereka dekat dengan lokasi tujuan. Alasannya, mereka tak perlu berjalan jauh untuk masuk ke lokasi yang mereka tuju, seperti kantor atau mal.

Meski menguntungkan di satu sisi, kebiasaan tersebut dapat membuat orang-orang menjadi kurang bergerak. Pola hidup yang tidak aktif bisa memberikan dampak kurang baik bagi kesehatan, mulai dari jantung hingga sistem imun.

Salah satu cara untuk meningkatkan aktivitas fisik adalah dengan memarkirkan kendaraan agak jauh dari lokasi tujuan. Dengan begitu, orang-orang bisa berjalan kaki lebih banyak untuk mencapai tujuan mereka.

5. Berdekatan dengan perokok

Paparan asap rokok tak hanya berbahaya pada situasi di dalam ruangan, tetapi juga di luar ruangan.

Peneliti dari Stanford University menemukan bahwa non perokok yang duduk dengan jarak 18 inchi dari perokok yang menghisap dua batang rokok dalam satu jam di luar ruangan akan mendapatkan paparan rokok yang sama seperti duduk satu jam di dalam bar berasap rokok.

Tingkat paparan racun dari asap rokok akan menurun seiring dengan semakin jauhnya jarak perokok dari non perokok.

Menurut studi yang dilakukan peneliti Stanford University, non perokok sebaiknya menjaga jarak enam kaki atau sekitar dua meter dari perokok di luar ruangan.