OPINI : Wawasan Persatuan Rasulullah

OPINI : Wawasan Persatuan Rasulullah

R
Rianti
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.Id, Makassar- Dulu, Kaum Muslimin hanya mengenal persatuan. Satu kepemimpinan dalam satu daulah. Tidak dipisahkan oleh sekat-sekat kebangsaan.

Kaum Muslimin tidak pernah mengenal perpecahan. Tak pernah menganggap yang lain berbeda karena perbedaan suku, warna kulit maupun kebangsaan.

Di mata Rasulullah SAW orang yang paling mulia di antara Kaum Muslimin adalah yang paling bertakwa. Yang paling taat kepada Syariah. Bukan mereka yang paling kaya, rupawan, berdarah biru (bangsawan) atau pejabat pemerintahan.

Rasulullah SAW sangat membenci ashobiyah dan kehidupan jahiliyah. Ketika Abu Dzar Al Ghifari RA memanggil Bilal bin Rabah RA dengan sebutan hitam, Rasulullah marah dan menegur Salman. Karena itu adalah panggilan jahiliyah, panggilan yang buruk, yang bisa merusak persaudaraan.

Rasulullah SAW menekankan pada Kaum Muslimin arti persaudaraan. Mereka bagaikan satu tubuh apabila sakit satu bagian maka sakit bagian yang lainnya.

Baca Juga

Ibarat seseorang yang sakit gigi maka sakit semua badannya. Malam pun tak dapat tidur. Bila sakit hati maka merana seluruh badan.

Rasulullah SAW setelah menjabat menjadi Kepala Negara di Madinah tidak pernah menempatkan para wali (gubernur) nya di setiap provinsi atas dasar kebangsaan. Tidak pernah menyuruh Sahabatnya agar kembali ke negeri masing-masing dan memerintah karena paham kebangsaan.

Tetapi Beliau memilih mereka yang paling bertakwa dan mujtahid agar bisa memutuskan perkara umat dengan seadil-adilnya.

Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Muadz bin Jabal RA ketika diangkat menjadi gubernur di Yaman.

“Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu’adz?”

“Kitabullah,” jawab Mu’adz.

“Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?”, tanya Rasulullah pula.

“Saya putuskan dengan Sunnah Rasul.”

“Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?”

“Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia,” jawab Muadz.

Maka berseri-serilah wajah Rasulullah. “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah,” sabda Beliau.

Ini lah wawasan persatuan Rasulullah SAW yang sekarang hilang di tengah kaum Muslimin. Misalnya banyak kaum Muslimin yang menganggap pembantaian di Palestina hanya masalah kemanusiaan bukan masalah agama.

Muslim Palestina bukan saudara kandung muslim di negeri yang lainnya. Padahal setiap hari dibombardir dan dizhalimi. Tidak tergerak hati untuk mengirimkan pasukan militer menghentikan kebiadaban zionis Israel.

Begitu juga berbagai krisis yang melanda semua negeri kaum Muslimin karena mereka meninggalkan Kitabullah, Hadis dan ijtihad. Krisis itu antara lain tingginya hutang luar negeri, korupsi, mahalnya pajak, riba, prostitusi, aborsi, miras, pengangguran dan lain-lain.

Padahal Kaum Muslimin pernah memimpin dunia karena berpegang teguh terhadap ajaran Rasulullah SAW. Dunia pernah kaya dalam sistem Islam.

Afrika dulu benuanya orang kaya, karena pernah menolak zakat dari pemerintahan Islam. Bandingkan dengan keadaan sekarang Afrika benuanya dunia ketiga. Dunianya orang fakir miskin melarat.

Semoga kita mencintai Nabi Muhammad SAW bukan saja meniru aspek ibadahnya. Namun, selalu berusaha optimal meniru tata cara Beliau dalam mengatur kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat dan bernegara. []

Penulis : Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Blasteran Timor Alor)

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.