Penulis sempat bertanya alasan gadis milenial ini berjualan dengan memakai mobil SUV tangguh kepada pedagang nasi kuning ini.
“Berjualan nasi kuning ini biar mandiri,serta tidak bergantung kepada orang tua, mengingat orang tua pergi berlayar dan mobil hanya tinggal percuma , tidak ada salah dan rugi kalau mobil ini dipakai berjualan mencari rezeki yang halal .” ulas gadis milenial itu.
Namun, Penulis mencoba mengulik lebih dalam lagi mengapa memilih berdagang dalam kegiatan sehari-hari, bukan hal yang lain.
“Ada prinsip dalam berjualan yakni membantu orang lain mendapatkan ragam pilihan dikala mencari makanan murah namun enak, apalagi harga yang ditawarkan sangatlah terjangkau bagi khalayak umum.” Ujar gadis milenial yang berjualan mulai pagi hingga malam setiap hari, seraya tersenyum setelah menjawab beberapa pertanyaan yang penulis lontarkan.
Kisaran harga yang dimulai 5000 hingga 15.000 tentunya menjadi pilihan pas buat warga kota Makassar terutama yang berada diseputaran BTP, Unhas, Antang, Daya dll.
Diakhir perbincangan singkat, penulis membayar menu yang dipesan dengan selembar uang kertas 20.000 rupiah, namun ditolak dengan alasan Jumat berbagi . ” tabe, cukup kita bayar saja 5000, hari ini kami diskon harga sebab ada namanya Jumat Berbagi.” timpal pedagang milenial naskun gaul, yang berlamatkan di jalan Biola raya 13, Antang, Makassar.
Terharu itulah yang bisa disematkan penulis dalam hati.
Sudah mobilnya yang dipakai jualan keren dan memaksa mata orang menoleh melihat , akhlak pedagangnya pun tidak kalah kerennya.
Top abis, salut, zaman boleh milenial , namun pedagang Nasi Kuning ini tetap memikirkan norma kebaikan termasuk indahnya membantu dan berbagi kepada orang lain.
Semoga niat tulus mendapatkan ganjaran pahala kebaikan .