Terkini.id, Jakarta – Terkait kemunculan aksi aparat kepolisian di Desa Wadas Bener beberapa hari yang lalu yang sempat viral, nama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menuai berbagai sorotan.
Seperti yang diketahui bahwa dari ribuan aparat kepolisian diterjunkan ke Desa Wadas dalam rangka mengamankan pengukuran tanah lokasi tambang batu.
Proyek tambang tersebut diperuntukkan bagi pembangunan Bendungan Bener yang menjadi proyek nasional .
Sayangnya, tak hanya lakukan pengawalan terhadap tim BPN, polisi justru menangkap puluhan warga Desa Wadas yang menolak rencana proyek tersebut.
Imbas peristiwa tersebut, selain pemerintah yang dinilai lebih pro investasi, Ganjar Pranowo menjadi yang paling disorot.
- Nasib Ganjar Pranowo Ceramah di UGM Kena Spanduk Protes, Lari ke USU Diteriaki soal Desa Wadas
- Pilih Mana? Sama-sama ke Masjid UGM, Ganjar Dihadang Spanduk Warga Wadas, Anies Diteriaki 'Presiden'
- Gempadewa Bantah Batalkan Debat Terbuka di UGM: Pak Ganjar Terlalu Berlebihan
- Tegas Memperjuangkan Hak, Warga Wadas dan Mahasiswa Unjuk Rasa, Warganet: Hanya Gubernur yang Terlihat, Ke mana Bupati Purworejo?
- Ganjar Seperti Sendirian Selesaikan Kasus Wadas, Relawan Tuding Bupati Purworejo Lepas Tangan
Salah satunya yakni Politisi Demokrat Yan Harahap melalui sebuah cuitan di akun media sosial Twitter miliknya.
Dalam cuitannya, Yan Harahap menyindir Ganjar seolah ‘mati gaya’ melihat kondisi warga Desa Wadas yang kini wilayahnya terancam tambang.
“Kalau lagi bikin konten, Gubernurnya ‘banyak gaya’. Soal bela rakyat ia ‘mati gaya’,” sindir Yan Harahap lewat akun Twitter @YanHArahap. Dikutip dari Galamedia. Kamis, 10 Februari 2022.
Sementara itu, Wakil Ketua MUI, Anwar Abbas terkait kejadian tersebut.
Anwar Abbas menyesalkan sikap polisi yang seolah represif kepada warga Desa Wadas.
“Hal ini tentu jelas sangat kita sesalkan dan sangat tidak kita inginkan,” kata Anwar Abbas.
Lanjut “Karena dalam hal ini negara yang semestinya menampakkan sosok yang lembut dan mengayomi, tapi wajahnya malah sudah berubah menjadi monster,” sambungnya.
Dia menyebut bahwa tindakan polisi kepada warga penolak tambang itu sangat tak bisa diterima.
Ditegaskannya tindakan itu sudah bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
“Sehingga tindakan yang seperti ini dalam bahasa buku bisa dimasukkan ke dalam kategori teror by the state, di mana yang melakukan dan menciptakan teror dan ketakutan di tengah masyarakat itu bukanlah individu dan atau jaringan teroris tapi adalah negara,” ungkapnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
