Terkini.id, Makassar – Menjelang masuknya malam-malam sepuluh terakhir bulan Ramadan, ada dua hal yang selalu menjadi perhatian umat muslim, yakni itikaf dan lailatul qadar.
Seperti diketahui, malam lailatul qadar digambarkan di dalam Alquran dan Hadits sebagai malam yang paling mulia. Orang yang beribadah bersamaan pada saat turunnya Lailatul Qadar, maka pahalanya berlipat ganda dengan kemuliaan melebihi seribu bulan.
Nah, untuk mendapat kemuliaan tersebut, salah satunya dilakukan umat muslim dengan melakukan itikaf.
Itikaf memang telah menjadi sunah nabi Muhammad Saw.
Dosen UIN Alauddin Makassar, yang juga pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel, Dr Firdaus Muhammad, menyebutkan, tujuan lain itikaf adalah mendapatkan pahala berlipat ganda sekaligus menghormati bulan Ramadan.
“Tujuan penting lainnya, itikaf untuk menanti hadirnya malam lailatul qadar,” tulisnya.
Dia menyebutkan, meskipun malam yang paling mulia, lailatul qadar itu dirahasiakan oleh Allah Swt, sehingga para ulama memberikan petunjuk bahwa kehadirannya pada salah satu malam-malam ganjil yakni, malam ke-21, malam ke-23, malam ke-25 atau malam ke-29.
“Lebih dari itu, ulama menganjurkan berjaga-jaga pada malam-malam ganjil tersebut yang hadir setiap tahunnya. Seharusnya di sepuluh akhir Ramadan menjadi momen dinanti dengan memaksimalkan beribadah untuk menggapai lailatul qadar tersebut,” tambahnya lagi.
Rasulullah Saw mencontohkan bahwa dirinya di sepuluh akhir Ramadan semakin bersungguh-sungguh beribadah hingga menyingsingkan lengan bajunya, beliau lebih optimal dibandingkan malam-malam sebelumnya.
Tulisan selengkapnya tentang tanda-tanda malam lailatul qadar bisa dibaca di artikel yang ditulis Firdaus Muhammad ini: I’tikaf dan Lailatul Qadar
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
