I’tikaf dan Lailatul Qadar

Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi) kolom firdaus muhammad
Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi)

PADA Jumat, 24 Mei 2019 bertepatan hari ke-19 ramadan 1440 Hijriyah, saya mendapat amanah khotbah Jumat di Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar.

Panitia memberi topik; “I’tikaf dan Kemuliaannya”. Topik ini relevan menjelang memasuki malam-malam sepuluh terakhir bulan Ramadan, salah sunah Nabi adalah i’tikaf di waktu tersebut. Maka siapa yang menunaikan itikaf tersebut tergolong menjalankan sunah nabi.

Tujuan lain itikaf, mendapatkan pahala berlipat ganda sekaligus menghormati bulan Ramadan. Tujuan penting lainnya, itikaf untuk menanti hadirnya malam lailatul qadar.

Kemuliaan lailatul qadar melebihi seribu bulan. Karenanya siapa yang beribadah saat itu, niscaya menggapai derajat kemuliaan melampaui seribu bulan.

Namun kehadiran lailatul qadar dirahasiakan oleh Allah Swt, sehingga para ulama memberikan petunjuk bahwa kehadirannya pada salah satu malam-malam ganjil yakni, malam ke-21, malam ke-23, malam ke-25 atau malam ke-29.

Lebih dari itu, ulama menganjurkan berjaga-jaga pada malam-malam ganjil tersebut yang hadir setiap tahunnya. Seharusnya di sepuluh akhir Ramadan menjadi momen dinanti dengan memaksimalkan beribadah untuk menggapai lailatul qadar tersebut.

Rasulullah Saw mencontohkan bahwa dirinya di sepuluh akhir Ramadan semakin bersungguh-sungguh beribadah hingga menyingsingkan lengan bajunya, beliau lebih optimal dibandingkan malam-malam sebelumnya.

Sebuah perbandingan terbalik bagi sebagian umat Islam saat ini. Dimana-dimana macet karena shopping untuk kebutuhan lebaran sementara masjid-masjid semakin sepi.

Sekiranya umat Islam sepenuhnya memahami dengan pemaknaan yang benar ihwal keutamaan beribadah kala lailatul qadar tiba, tentunya mall atau segala pusat perbelanjaan sepi lalu memenuhi masjid sebagaimana tradisi nabi.

Selain mendapatkan pahala yang dilipatgandakan tersebut, juga dijanjikan diampuni dosa-dosanya, terdahulu, kini, dan yang akan datang.

Salah satu bentuk kegiatan Rasulullah Saw dalam menyongsong kehadiran lailatul qadar berupa i’tikaf, berdiam diri di masjid dengan berzikir dan shalat sunnat serta tadarus al-Qur’an.

Kemudian beliau juga mengajarkan doa kepada para sahabat-sahabatnya untuk dibaca menyambut lailatul qadar. Diantara doanya, “Ya Allah, Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau senantiasa memaafkan salah dan kilaf hamba lagi pemaaf, oleh itu maafkanlah salah dan khilafku.

Amalan yang lebih utama dilakukan berupa beribadah serta bertaubat. Dalam hal ini taubat nasuha, pengakuan terhadap segala kesalahan yang telah diperbuat serta memohon kepada Allah Swt agar amalan ibadah senatiasa diterima dengan limpahan pahala sebagai investasi akhirat.

Adapun tanda-tanda datangnya lailatul qadar doantaranya; seseorang akan melihat cahaya yang terpancar di segala penjuru. Selain itu, mendengarkan bisikan dari malaikat. Kemudian menyaksikan segala sesuatu di alam ini termasuk segala benda dan pepohonan bersujud. Maka saat itulah doa akan terkabulkan.

Sungguh suatu keutamaan dan kebahagiaan tak terkira bagi seorang hamba yang berhasil menggapainya karena akan mendapatkan pahala melimpah, doa makbul, serta dosa-dosanya terampuni.

Setidaknya kita memaksimalkan amaliah Ramadan dengan berikaf di masjid, bukan di mall, untuk merasakan kenikmatan ibadah dan meraih ketenangan hati. Semoga kita mampu meluangkan waktu untuk itikaf di masjid pada akhir Ramadan untuk menggapai lailatul qadar. Amin !

Firdaus Muhammad

Pembina Pesantren An-Nahdlah, Dosen UIN Alauddin Makassar, Pengurus MUI Sulsel

Komentar

Rekomendasi

Berita Lainnya

Belajar Berhitung

Pandemi yang Membuka Banyak Bobrok

Menyikapi Corona dan Hoax Melalui Intervensi Sosial

Corona oh Corona!

Mengharukan: Sepenggal Kisah Guru Pesantren di Tengah Covid-19

Dokter Tuhan

Opini: Jokowi Mendengar Saran Oposisi

SOP Salat Jumat Masjid ‘Jarang’

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar