Masuk

3 Ustaz Pondok Pesantren di Depok yang Cabuli 11 Santriwati Ditetapkan Tersangka Tapi Belum Ditahan

Komentar
DPRD Kota Makassar

Terkini.id, Jakarta-Polda Metro Jaya telah menetapkan 4 tersangka dalam kasus pelecehan seksual atau kekerasan seksual terhadap 11 santriwati di bawah umur di Pesantren Riyadhul Jannah Beji, Depok, Jawa Barat.

Para tersangka diduga telah secara paksa meniduri 11 santriwati yang merupakan anak di bawah umur.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Endra Zulpan mengatakan keempat tersangka adalah 3 ustaz di pondok pesantren tersebut dan 1 orang yang merupakan santri senior .

Baca Juga: Modus Beri Korban Uang Rp 10 Ribu, Guru Ngaji Cabuli 7 Anak

Menurut polisi meskipun telah ditetapkan sebagai tersangka, mereka berempat belum ditangkap dan ditahan.

“Sudah disampaikan tadi, kasus ini sudah naik dari lidik ke sidik dan empat orang jadi tersangka,” kata Zulpan di Mapolda Metro Jaya, Senin 04 Juli 2022.

Menurut Zulpan, penetapan tersangka setelah dilakukan gelar perkara oleh tim penyidik Sub Direktorat Remaja, Anak dan Wanita (Renakta) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

Baca Juga: Guru Ngaji di Mojokerto Idap Pedofilia dan Biseksual, Cabuli 3 Murid hingga Belasan Kali

Dalam gelar perkara ini juga menentukan status proses hukum kasus pelecehan seksual dari penyelidikan naik menjadi pentidikan.

Zulpan mengatakan bahwa seorang pelaku dikenal memainkan peran dalam menyetubuhi santriwati yang merupakan anakk di bawah umur.

Dua orang lain melakukan pelecehan seksual dan satu orang yang merupakan santri putra senior menyetubuhi dan mencabuli santriwati itu.

“Jadi ya sudah dinaikan ke penyidikan ya, kemudian statusnya sudah naik sidik dan jadi tersangka,” ujar Zulpan.

Baca Juga: Anggota DPR Berisial DK Diduga Lakukan Pencabulan di 3 Tempat

Polisi Datangi Pondok Psantren 

Sebelumnya, Polisi Metro Depok datang ke Pondok Pesantren Riyadhul Jannah di Jalan Dedet, Kelurahan Beji Timur, Kecamatan Beji, Depok, Jawa Barat, Kamis 30 Juni 2022 pagi.

Dari pantauan lokasi, polisi berkomunikasi dengan pemilik pondok pesantren.

Ini mengikuti kasus dugaan pelecehan seksual terhadap 11 siswa perempuan berusia 9 hingga 11 tahun.

Robin, salah satu pengurus pondok pesantren, mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat membuka komunikasi dengan kru media.

Karena, pada saat ini pemilik dan pengurus Ponpes  Yatim Riyadhul Jannah sedang mengomunikasikan masalah pelecehan seksual dengan aparat kepolisian.

“Saya juga enggak tahu kebenarannya seperti apa, saya juga kan tinggal di sini,” ujarnya.
Menurutnya, jika pihaknya sudah berkomunikasi dengan aparat kepolisian, maka baru bisa memberikan keterangan dikutip dari tribunnews.com

Jadi, Robin meminta kru media untuk menunggu sampai pihak dari pondok pesantren membuka suara yang terkait dengan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

“Nanti tunggu saja ya, masih komunikasi masalah itu,” ucap pria berkaos abu-abu.

Polisi memeriksa korban

Penyelidik Polda Metro Jaya melakukan pemeriksaan tiga korban pelecehan seksual terhadap Santriwati Pondok Pesantren Depok, Jawa Barat, Rabu 29 Juni 2022.

Pengacara para korban, Megawati mengatakan ada sekitar 10 pertanyaan yang diajukan untuk masing -masing kliennya.

“Ditanya seputar kronologis kejadiannya kapan hari apa, tahun berapa, bulan apa,” ujarnya.

Menurutnya penyelidik Polda Metro Jaya bersama dengan pengacara korban mengunjungi tempat kejadian.

Namun, dia tidak tahu tujuan penyelidik untuk pergi ke Pondok Pesantren yang berada di wilayah Beji Timur, Depok.

“Tapi ternyata ada yang bocorin, ada yang lapor ke Ponpes kalau kita melapor ke Polda. Kami kasih tahu juga ke penyidik, mungkin itu yang membuat penyidik langsung bergerak,” tegasnya.

Sementara itu, polisi sektor Beji telah selesai berkomunikasi dengan pihak Pondok Pesantren  Yatim Riyadhul Jannah di Jalan Dedet Rt 04/12, Kelurahan Beji Timur, Kecamatan Beji, Depok, Jawa Barat.

Kapolsek Beji Kompol Cahyo terlihat keluar dari Pondok Peantren sekitar pukul 10:00 WIB yang ditemani oleh para anggotanya.

Namun, ketika ditanya oleh kru media, ia enggan memberikan penjelasan terkait kedatangannya ke pondok pesantren  di mana Pencabulan itu dillakukan.

“Bukan kita yang tangani, Polda yang tangani,” katanya sembari berjalan.

“Nanti kesalahan lagi (kalau komentar),” sambungnya meninggalkan lokasi.Dari pantauan lokasi, kondisi di sekitar lokasi sepi dari aktivitas belajar mengajar ilmu agama dari santri ataupun santriwati.

Sebab, saat ini para pelajar sedang diliburkan selama dua Minggu dan justru hal ini membuat para santtiwati berbicara kasus pencabulan dikutip dari tribunnews.com.