5 Prestasi Shireen Abu Akleh Selama Menjadi Seorang Jurnalis

Terkini.id, JakartaShireen Abu Akleh merupakan seorang jurnalis senior di Aljazeera yang tewas di tangan pasukan israel usai melibut di Tepi Barat Palestina pada 11 Mei 2022 kemarin. Lebih tepatnya, Shireen Abu Akleh terbunuh ketika mengabarkan terhadap serang Israel di kamp pengungsi Jenis, di Tepi Barat. 

Di sepanjang karirnya, Shireen telah mengabdi sepenuh hati untuk warga Palestina. 

Dilansir melalui Aljazeera menyebutkan jika Shireen bergabung sebagai seorang jurnalis ketika berusia 26 tahun. 

Baca Juga: Heboh Warga Israel Pawai di Palestina: Matilah Orang Arab! Hidup...

Tanggung jawab yang dilaksanakan oleh Shireen adalah melaporkan tentang kehidupan sehari-hari warga Palestina atas tindasan yang dilakukan oleh Israel. Tidak heran jika ia dijuluki sebagai “Putri Palestina”.

Aljazeera mengklaim terdapat lima prestasi besar yang diraih oleh Shireen.

Baca Juga: Bendera Israel Berkibar Saat Pidato Anies di JIS, Warganet: Pendukungnya...

1. Mendirikan dan bekerja untuk radio Voice of Palestine

Shireen belajar media sekaligus sebagai seorang jurnalis di Universitas Yarmouk di Yordania. Akan tetapi, ketika kampus tersebut berada di wilayah pendudukan Israel maka pihak Israel menutup universitas tersebut. 

Kemudian Shireen kembali ke Tepi Barat yang mendapatkan persetujuan atas penandatanganan Kesepakatan Oslo pada tahun 1993. Dia dan 12 rekannya belajar sebagai penyiar radio dalam kurun waktu enam bulan.

Baca Juga: Bendera Israel Berkibar Saat Pidato Anies di JIS, Warganet: Pendukungnya...

Setelah itu, pada tahun 1994, mereka berhasil mendirikan stasiun radio yang bernama “Voice of Palestine (Sawt Filasteen)”.

“There was an overwhelming feeling of pride in establishing the first radio station for Palestine, from inside Palestine, (Ada perasaan bangga yang luar biasa dalam mendirikan stasiun radio pertama untuk Palestina, dari dalam Palestina),” ujar Shireen dalam wawancara dengan Aljazeera tahun lalu dan dilansir melalui Aljazeera.com pada Jum’at 20 Mei 2022.

2. Salah satu reporter lapangan wanita pertama di dunia Arab

Shireen Abu Akleh mengabdikan dirinya sejak tahun 1997, sebagai seorang jurnalis untuk warga Palestina. Shireen merupakan sosok wartawan wanita yang sangat berani untuk menyuarakan hak warga Palestina kepada dunia.

“Masing-masing liputan memiliki cita rasa tersendiri,” ucap Shireen.

“Ada peristiwa tertentu yang tidak dapat diabaikan, seperti serangan Israel Ke Tepi Barat,” tambahnya.

Pada sebuah kejadian di tahun 2006 silam, di mana masa itu merupakan proses evakuasi Israel terhadap permukiman di Jalur Gaza. Shireen dan tim menyewa sebuah rumah, dan rumah tersebut memiliki coretan-coretan anti-Arab, serta berhati-hati untuk tidak berbicara bahasa Arab.

Ancaman kerap sering diterimah oleh Shireen selama meliput keadaan di Palestina. Tapi, ia tidak merasa takut dan ia mampu menyelesaikan tanggung jawabnya untuk meliput kejadian atas tindasan pihak Israel terhadap Palestina.

“Meskipun ketegangan selama peliputan yang berlangsung selama tiga hari, itu adalah momen yang indah untuk berada di tempat itu, setelah dikendalikan oleh pemukin dalam waktu yang lama,” ucapnya.

3. Liputan perang yang panjang dan Intifadah kedua

Shireen menjadi lebih dikenal oleh bangsa Arab ketika meliput terkait Intifadah Kedua pada tahun 2000-2005, terkhusus terhadap invasi Israel dan diberlakukan jam-jam malam di Kota Palestina.

“Saya tidak akan pernah melupakan besarnya kehancuran atau perasaan bahwa kematian terkadang sudah dekat,” ucapnya kepada Aljazeera pada bulan Oktober.

“Kami biasa tidur di rumah sakit atau di bawah atap rumah orang yang kami tidak kenal, dan meskipun berbahaya, kami bertekad untuk terus melapor,” katanya.

Selain itu, Shireen Abu Akleh berhasil meliput serangan yang diterimah oleh warga Palestina di Jalur Gaza pada tahun 2008,2009,2012, dan 2021.

Dikabarkan juga bahwa ia pernah meliput perang di Lebanon pada tahun 2006 dan pemilihan presiden Amerika Serikat pada tahun 2016.

4. Pelatih media di Universitas Bir Zeit

Shireen juga seorang pelatih di Pusat Pengembangan Media Universitas Bir Zeit. Selain itu, ia juga mengajar kepada mahasiswa di sana untuk beberapa mata kuliah di fakultas media.

5. Penghargaan Anumerta

Abu Akleh menerimah mendali Bintang Yerussalem, yang merupakan penghargaan yang diberikan bagi pejabat publik oleh otoritas Palestina.

Selain itu, ia juga mendapatkan penghargaan dari Universitas Bir Zeit atas prestasi luar biasa di bidang media. Prestasi tersebut ia dapatkan selama menjadi jurnalis dan reporter yang memberitakan kehidupan warga Palestina di bawah kedudukan Israel.

Bagikan