Terkini.id, Jakarta – Reuni massa aksi PA 212 saat ini masih menjadi topik perbincangan hangat di media sosial. Yang menakjubkan, nama Jusuf Kalla dan Gatot Nurmantyo disebut-sebut sebagai bekingan massa aksi ini.
Ya, hal itu disuarakan oleh pegiat media sosial Eko Kuntadhi saat berbincang di acara kanal Youtube Cokro TV seperti dilansir terkini.id dari Hopsid, Rabu, 1 Desember 2021.
Pada mulanya, Eko Kuntadhi mengungkap alasan mengapa acara reunu dipindahkan dari yang rencana diadakan di Monas, Jakarta Pusat menjadi di Masjid Az Zikra, Sentul, Kabupaten Bogor.
Katanya, pemindahan lokasi acara Reuni Akbar 212 tersebut lantaran tidak ada lagi nama-nama besar yang jadi pendukung.
“Mereka memindahkan acara dari Monas ke Sentul karena memang tidak ada lagi dukungan untuk menggelar hajat yang paling nyeleneh ini,” ujarnya.
- Parmusi Sulsel Serukan Tabayyun Terkait Isu Jusuf Kalla
- Beredar Seruan Aksi Dukungan untuk JK,KALLA Minta Semua Pihak Menahan Diri
- Pidato Jusuf Kalla Dipolemikkan, LBH Hidayatullah: Tidak Ada Penistaan Agama!
- Beredar Video JK Disebut Terbang ke Teheran, Jubir Sebut Cuma ke Negara-negara ASEAN
- Tanah Dibeli 30 Tahun Lalu, JK Heran Tiba-Tiba Ada yang Datang Mau Merampok Lahannya di Depan TSM Makassar
Lantas, siapa saja yang dimaksud nama-nama besar dibalik pendukung reuni besar tersebut?
Eko Kuntadhi mengungkapkan bahwa kondisi saat ini tentu jauh berbeda dengan sebelumnya lantaran aksi 212 selalu mendapat angin segar dari sejumlah pihak yang memiliki kepentingan politik.
“Dulu boleh saja mereka merasa berhasil menggelar demo besar-besaran di Jakarta, karena wajar saat itu pentolan di pemerintahan seperti memberi angin pada kelompok-kelompok seperti ini,” ucap Eko Kuntadhi.
Adapun nama-nama tersebut menurut Kuntadhi ialah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Anies Baswedan, keluarga Cikeas, hingga mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.
“Kita ingat saat demo 212 digelar berkenaan dengan Pilkada Jakarta, Yusuf Kalla waktu itu masih menjabat sebagai Wapres dan kita tahu dia adalah pendukung Anies Baswedan nomor satu,” jelasnya.
“Sementara panglima TNI dipimpin Gatot Nurmantyo, sang jenderal berkopiah putih saat itu,” paparnya.
Lebih lanjut ia menegaskan bahwa kondisi sekarang sudah jelas berbeda, di mana para petinggi aparat keamanan TNI-Polri sudah dijabat oleh sosok tegas yang tidak menyukai gerakan penyokong agama.
“Sekarang kondisi berubah. Petinggi-petinggi TNI sudah berubah wajah, Jenderal Andika Perkasa duduk sebagai Panglima TNI, sedangkan Jenderal Dudung Abdurachman sebagai KASAD, dan Kapolda masih dijabat Fadil Imran,” tutur Kuntadhi.
“Ketiga petinggi aparat ini dadanya dikenal sangat merah putih, mereka risih dengan usaha membenturkan agama. Makanya para kelompok pengasong agama sebel banget sama mereka,” pungkasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
