Masuk

Ahli: Australia dan Singapura Tidak Melakukan Screening Vaksin Covid-19

Komentar

Terkini.id, Makassar – Sebagian masyarakat masih menganggap vaksinasi Covid-19 punya efek yang buruk untuk lansia dan penyandang penyakit penyerta (komorbid). Padahal, kelompok tersebut justru jadi sasaran utama vaksinasi di berbagai negara seperti Australia dan Singapura.

Di negara dua negara ini, untuk vaksinasi tidak perlu ada pemeriksaan tensi darah atau screening lain dengan menanyakan kondisi calon peserta vaksin, seperti diabetes, jantung atau riwayat penyakit lainnya.

Peneliti Biokimia dan Biologi Molekuler di Universitas Adelaide Australia, Dr Ines Atmosukarto menceritakan bagaimana vaksinasi di negara kanguru itu dilakukan.

Baca Juga: Gelar Workshop Pencegahan Penyakit Ruminansia, Mahasiswa Polbangtan Kementan Siap Atasi PMK

“Tidak ada namanya screening. Tidak ada ditanyai macem-macem. Cuma ada kuesioner yang menanyakan apakah kita punya riwayat alergi yang spesifik untuk jenis vaksin mRNA. Tidak ada pertanyaan soal tekanan darah, diabetes, dan lain-lain,” ungkap dia saat berbicara dalam Workshop Komunikasi Risiko yang digelar AIHSP pada 13 April 2022 lalu.

Justru, kata dia, sasaran vaksinasi pertama di Australia adalah mereka yang berusia lanjut. “Karena kalau kita lihat tingkat fatalitas Covid-19, kelompok lansia paling rentan,” ungkapnya.

Ines yang juga menjabat sebagai CEO Lipotek Pty (perusahaan bioteknologi di Australia), mengungkapkan aturan yang sama berlaku di berbagai negara lain termasuk Singapura.

Baca Juga: Jaga Komitmen, AXA Mandiri Finansial Prioritaskan Perlindungan Jiwa dan Kesehatan Nasabah

“Bahkan ibu saya (usia 73 thn) yang divaksinasi di Singapura (menggunakan vaksin Pfizer dua kali dan Moderna) tidak ada screening apapun yang dilakukan sebelumnya,” terang Ines lewat aplikasi tukar pesan WhatsApp.

Orang Tua Harus Diprioritaskan untuk Divaksin

Lebih jauh, Ines jug menyoroti kecenderungan negara-negara Asia yang membuat vaksin menjadi seolah-olah hal yang menakutkan. Padahal, sejauh ini, vaksinasi aman digunakan.

“Cara kerja vaksin itu kan menstimulasi sistem imun kita untuk mengenali petogen sehingga bertambah banyak antibodinya. Efek sampingnya seperti demam, meriang, memang seperti itu. Itu justru tanda sistem imun kita bekerja,” ungkapnya.

Kata dia, sejauh ini efek samping pada vaksin yang tidak diperkirakan adalah jenis astrazenecca yakni penggumpalan darah. Namun, dengan uji klinis yang baik, masalah itu sudah bisa ditangani.

Baca Juga: Berikut Jenis Vaksin Aman Buat Ibu Menyusui

Terkait banyaknya persepsi orang-orang soal penyandang komorbid tidak boleh divaksin, Ines balik bertanya: ketika pandemi terjadi, siapa yang paling berisiko ketika terkena covid-1? “Jawabannya adalah orang tua dan komorbid. Jadi orang tua dan yang berisiko itu justru jadi target utama vaksinasi, untuk mencegah kematian pada kelompok ini” ungkap dia.

Mengapa harus melakukan screening?

Pemberlakuan kebijakan ini rupanya tidak lepas dari masalah kultur masyarakat Indonesia yang cenderung menyalahkan vaksinasi jika terjadi masalah terkait kesehatannya.

Apalagi sejak awal sudah muncul resistensi tinggi terhadap kehadiran vaksin di berbagai daerah di Indonesia. Ini ditandai dengan merebaknya hoaks vaksin termasuk yang menyalahkan vaksin sebagai biang keladi munculnya bermacam dampak buruk kesehatan. 

Untuk menghindari hoaks serupa, pemerintah perlu sangat berhati-hati untuk memastikan vaksin berfungsi sebagaimana mestinya dan meminimalisir risiko munculnya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Karena itulah screening dibutuhkan untuk menghindari ada risiko KIPI yang berat. 

Di lapangan sempat muncul kasus di mana vaksinator tidak berani menyuntik pasien lansia dengan riwayat jantung, sebelum ada surat pengantar dokter. Vaksinator di Puskesmas di Makassar menolak mengambil risiko dan memilih merujuk peserta vaksin lansia ke rumah sakit jika diketahui punya riwayat penyakit. 

Plt Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, Bachtiar Baso menjelaskan, screening juga berfungsi meyakinkan masyarakat bahwa vaksin itu aman.

“Supaya masyarakat tidak takut divaksin, kita selalu sampaikan bahwa ada screening-nya. Jadi tidak langsung divaksinasi. Kita cek apakah hipertensi, tekanan darah 180 ke atas. Begitu juga kalau kadar gula darahnya tinggi,” ungkap dia.

Selain itu, terang dia, screening juga diberlakukan karena adanya rekomendasi profesi kedokteran tentang kondisi orang layak vaksin atau tidak. 

Di kalangan masyarakat, khususnya lansia, persepsi tentang vaksin sangat berbeda-beda. Terkini.id menemui salah seorang pedagang kaki lima di Makassar, Aji Santoso (60 tahun). Aji menolak divaksinasi karena menderita sakit jantung.

“Saya sampaikan ke petugas, kalau saya ada jantung. Jadi tidak divaksinasi. Waktu mudik ke Surabaya, petugas di kapal minta surat vaksin. Saya bilang saya punya penyakit jantung, tidak bisa divaksinasi. Jadi dimaklumi dan dibolehkan naik kapal,” cerita dia. Meskipun diberitahu tentang vaksinasi aman, Aji yang berjualan buah tetap khawatir jika vaksin akan memperburuk kesehatannya.

Berbeda dengan Aji Santoso, Lansia lainnya, Haji Toto (62) mengaku tidak mau divaksinasi karena dirinya sehat. “Vaksin itu cuma untuk orang sakit. Saya selalu bilang begitu kalau ditahan di jalanan,” ucap Haji Toto yang sehari hari mengerjakan proyek bangunan. Pria ini mengaku hingga saat ini tetap aktif bekerja bahkan menaiki tangga hingga lima lantai.

Lansia lainnya, Zainuddin (63) mengungkapkan tidak mau divaksinasi karena menolak percaya pandemi Covid-19. Meskipun mendapat penjelasan bahwa vaksinasi tidak berbahaya, dia tetap tidak ingin divaksin karena mengaku tidak pernah melihat langsung bahaya Covid-19.

“Saya lebih takut flu burung dulu karena saya lihat langsung itu ayam tiba-tiba mati,” ungkap dia.

Terkini.id menemui seorang pedagang di Kawasan Kuliner Kanrerong Makassar, Nur (38) yang berjualan bersama ibunya yang berusia 70 tahun. Nur mengungkapkan ibunya sudah divaksinasi, dan tidak mengalami gejala yang berat sesudahnya.

Dia pun sepakat bahwa vaksinasi tidak berbahaya sesuai informasi petugas kesehatan dan ahli. “Ibu Sudah divaksin dua kali, tidak ada gejalanya. Sehat sehat ji seperti biasa,” ungkap Nur yang berjualan sehari hari bersama ibunya.