Makassar Terkini
Masuk

Komorbiditas di Sulsel: Angkanya Tinggi dan Jadi Dalih Vaksinasi Lambat

Terkini.id, Makassar – Bulan Mei 2022 boleh jadi penanda Pandemi covid-19 mulai surut dan terkendali. Itu terlihat dari keputusan pemerintah yang membolehkan mudik lebaran Idul Fitri setelah dua tahun dilarang, hingga keputusan membolehkan lepas masker di tempat terbuka, sejak pertengahan Mei lalu.

Akan tetapi, pemerintah masih punya PR yang panjang. Meski surut, lonjakan kembali kasus covid-19 belum sepenuhnya bisa diprediksi. Di sisi lain, vaksinasi covid-19 khususnya untuk lansia dan orang berisiko belum mencapai target di beberapa daerah, khususnya Sulawesi Selatan. 

Di Sulawesi Selatan vaksinasi covid-19 dosis dua baru mencapai 65,28 persen dari total 7 juta penduduk sasaran vaksinasi per 27 Mei 2022. Sementara itu, vaksinasi untuk kalangan lanjut usia masih jauh dari target, yakni 46,93 persen dari total 753 ribu sasaran vaksinasi.

Sebagai perbandingan, daerah lain seperti Provinsi Banten mencatat cakupan vaksinasi dosis dua sebesar 75,19 persen dari total 6,9 juta sasaran penduduk. Sementara, vaksinasi lansia untuk provinsi ini mencapai hingga 68,89 persen dari 643 ribu sasaran.

Di Jawa Timur, cakupan vaksinasi dosis dua bahkan telah mencapai hingga 79,61 persen dari total sasaran vaksin 25,3 juta penduduk. Sementara, vaksinasi lansia di daerah ini sudah mencapai hingga 64 persen dari sasaran 4,3 juta penduduk lansia per 27 Mei 2022.

Di Sulawesi Selatan, Kota Makassar menjadi daerah yang memberi banyak kontribusi lambatnya vaksinasi, khususnya lansia. Ibu Kota Sulawesi Selatan ini mencatat cakupan vaksinasi lansia baru mencapai 43 persen dosis dua dengan sasaran 101.284 lansia.

Akibat rendahnya angka vaksinasi kedua itu, Pemerintah Pusat masih mempertahankan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada level 3 untuk Kota ini, hingga 6 Juni 2022.

Wali Kota Makassar, Ramdhan Pomanto mengaku, angka vaksinasi di Kota Makassar khususnya lansia sudah mentok.

“Susah kita capai (target 60 persen lansia). Kita sudah mengunjungi semua lansia yang ada di Makassar,” keluh Danny kepada wartawan. Dia berdalih, lansia yang lainnya sulit untuk divaksin karena terkendala komorbid dan tekanan darah tinggi. Tidak memenuhi syarat untuk vaksin.

Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, Bachtiar Baso mengungkapkan, rendahnya capaian vaksinasi di Makassar dan Sulawesi Selatan terjadi karena masyarakat belum paham tentang komorbiditas warga layak vaksin.

“Banyak lansia tidak divaksin bukan cuma karena mereka tidak mau. Tapi anak dan keluarganya yang memang tidak mau orang tuanya divaksin. Mereka takut efek sampingnya, padahal kalau dilihat ini tidak berbahaya meskipun ada komorbid,” ungkap dia.

Komunikasi Informasi Vaksin yang Simpang Siur

Fachri Djaman (35), setiap pekan bersama ayahnya mengunjungi lokasi pemakaman Covid-19 di Jalan Macanda, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di antara ribuan makam di kawasan tersebut, ada pusara ibunya, Andi Henny Palioi yang wafat di usia 62 tahun, pertengahan 2021 silam. 

Pada bulan Juli 2021 itu, Andi Henny dilarikan ke Rumah Sakit akibat Covid-19. Kondisinya dengan cepat berubah menjadi berat lantaran bawaan komorbid diabetes. Almarhumah sempat dipasangi ventilator, sementara keluarga diminta mencari pendonor plasma konvalesen.

“Waktu itu tiga hari sebelum Ibu wafat. Kita disuruh cari plasma konvalesen untuk darah A, dan itu sulit didapatkan. Itu pun sebenarnya sudah telat,” ceritanya, Jumat 28 Mei 2022. Sang Ibu belum divaksin Covid-19. Fachri tidak mendapat informasi bahwa kalangan lansia di atas 60 tahun boleh divaksin, bahkan diprioritaskan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku.

“Setahu saya, waktu itu belum diwajibkan untuk vaksin karena vaksinasi baru mulai. Apalagi beliau punya komorbid,” ungkap dia.

Sejak dimulainya vaksinasi Covid-19 pada awal 2021 lalu, informasi terkait syarat dan ketentuan vaksin tidak cukup jelas diketahui oleh sebagian besar masyarakat.

Padahal jika mengacu kepada Surat Edaran Kementerian Kesehatan HK.02.02/I/368/2021 Februari 2021 lalu, kelompok lansia justru menjadi prioritas untuk vaksinasi setelah tenaga medis. Selain itu, lansia dengan komorbid boleh divaksinasi, asal komorbiditasnya tidak parah.

Jika komorbid diidentifikasi sebagai hipertensi (tekanan darah tinggi), vaksinasi tetap dapat dilakukan kecuali jika tekanan darah di atas 180/110 MmHg. Sedangkan jika komorbid adalah diabetes, vaksinasi dapat disuntikkan sepanjang tak ada komplikasi akut.

Dalam edaran tersebut, juga disebutkan kelompok komorbid penyintas kanker dapat tetap diberikan vaksin. Selain itu penyintas Covid-19 dapat divaksinasi jika sudah lebih dari 3 bulan. Ibu menyusui juga dapat divaksinasi.

Namun, pada masa awal vaksinasi, sesama kalangan medis punya pendapat berbeda tentang syarat vaksinasi ini. PAPDI atau Perhimpunan Spesialis Ahli Penyakit Dalam melalui situs resminya, pada Januari 2021 memberikan sederetan persyaratan layak tidaknya orang divaksinasi. Beberapa kondisi, seperti hipertensi di atas normal (140/90 ke atas) menurut PAPDI belum layak divaksin. Meskipun, beberapa bulan setelahnya, rekomendasi tersebut direvisi. Di media sosial, bahkan ada dokter yang menganjurkan orang dengan penyakit agar tidak divaksinasi.

Pandangan Saintis

Ahli Biologi Molekuler, Ahmad Rusydan Utomo, menekankan, Covid-19 adalah virus yang bisa memaparkan dirinya kepada siapapun. Untuk penyandang penyakit seperti jantung, obesitas, diabetes, penularan Covid-19 dapat berdampak risiko berat bahkan kematian.

Ahmad mengkritik pandangan sebagian kalangan termasuk spesialis dan ahli yang mengatakan pemberian vaksinasi berbahaya pada orang dengan komorbiditas.

“Vaksin justru dibuat untuk melindungi mereka yang memiliki komorbid. Orang yang bilang vaksin itu tidak berpengaruh pada orang yang sakit, justru dia tidak melihat datanya. 

Platform vaksin covid-19 itu tidak menggunakan virus yang dilemahkan, tetapi menggunakan bagian dari virus, seperti mRNA atau Astrazenecca. Atau menggunakan virus utuh seperti Sinovac, tetapi virusnya bukan dilemahkan melainkan dimatikan materi genetiknya. Tidak bisa menduplikasi di tubuh manusia. Jadi tidak ada alasan ini (vaksin Covid-19) berbahaya.

Kecuali jika terjadi gejala (komorbid) akut. Jadi bukan berarti karena sakit hipertesi akut atau diabetes tidak boleh divaksinasi. Tetapi ditunda, jika muncul gejala itu. Misalnya hipertensi, tekanan darahnya tinggi, bukan tidak boleh tetapi ditunda dulu hingga stabil lagi tekanan darahnya,” jelas dia.

Dia melanjutkan, data penelitian menunjukkan orang dengan komorbiditas yang divaksinasi dan tertular Covid-19 ternyata terhindar dari risiko gejala berat dibandingkan dengan orang komorbid yang tidak divaksinasi dan terkena Covid-19.

“Penelitian di Chile Israel, Inggris, menunjukkan saat vaksinasi cukup tinggi, banyak orang divaksinasi, terbukti risiko gejala berat dialami mereka yang belum divaksinasi dibandingkan mereka yang sudah. Artinya walaupun memiliki komorbiditas, vaksinasi masih mampu memunculkan imunitas,” kata dia.

Dengan alasan tersebut vaksinasi untuk lansia dan orang dengan komorbiditas bukan saja perlu untuk memenuhi target herd imunity (kekebalan kelompok), melainkan penting untuk proteksi mereka. 

“Jadi ketika bicara herd immunity harus 70 persen, itu dengan asumsi efikasi vaksin 100 persen. Tetapi efikasi vaksin sekarang jarang ada yang 100 persen. Maka target herd immunity, harusnya diwujudkan dengan mentargetkan para kalangan lansia agar divaksinasi 100 persen. Termasuk nakes, guru khususnya guru yang lansia, 100 persen,” ungkap dia.

Rekomendasi Tidak Boleh Divaksinasi dari Dokter Spesialis

Dokter spesialis penyakit dalam di Makassar, dr. Nu’mang, Sp.PD, KGEH mengakui sebelumnya para dokter cukup selektif dalam memberikan rekomendasi boleh-tidak seorang pasien divaksinasi. Itu karena masih minimnya informasi dan hasil penelitian terkait vaksinasi.

Namun seiring dengan semakin banyaknya bukti terkait efektifitas vaksin rekomendasi dokter pun disesuaikan.

” Karena kita punya pegangan, siapa yang boleh dan siapa yang tidak. Dahulu, banyak pasien yang minta rekomendasi agar tidak divaksinasi. Dokter juga selektif. Kalau hipertensinya di angka 150-165 belum boleh (vaksin). Sekarang di atas angka itu sudah boleh. Bahkan tensi 180 bisa diberikan, tentu atas pemeriksaan dan rekomendasi dokter.

Sebelumnya, banyak faktor yang membuat tidak layak divaksinasi, selain diabetes, hipertensi, ada juga penyakit-penyakit deregenerasi, osteoarthritis, jantung koroner – yang menjadi pertimbangan,” ungkap dokter yang bertugas di Rumah Sakit Primaya Hospital Makassar itu.

Dia mengungkapkan, dengan kondisi saat ini, di mana hasil riset vaksinasi terlihat aman, maka tentu vaksinasi harus digalakkan. Menurut dia, sudah cukup banyak yang paham pentingnya vaksinasi.