Angkat Topik Sertifikasi Profesional Insinyur, PII dan Bangun Energi Gelar Diskusi

PII
Ir. Habibie bertindak selaku pembicara knowledge sharing session dengan topik sertifikasi profesional PII, AACE dan AAPM

Terkini.id, Jakarta – Bangun Energi bekerjasama dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menggelar knowledge sharing session dengan topik sertifikasi profesional PII, AACE dan AAPM, Sabtu 23 Maret 2019.

Sharing session ini menghadirkan dua pembicara, Ir. Ade Irfan, MBA membawakan topik tentang sertifikasi professional asosiasi internasional American Association of Cost Engineer (AACE) dan American Academy of Project Management (AAPM), dan Ir. Habibie Razak memaparkan perkenalan sistem sertifikasi Insinyur professional PII dan sertifikasi insinyur internasional.

Ir. Ade dalam paparannya di hadapan 15 peserta knowledge sharing session kali ini memberikan perbedaan mendasar antara AACE dan AAPM.

“AACE adalah organisasi non-profit yang berdiri di tahun 1956 yang fokus mengelola beberapa program sertifikasi yang membutuhkan ketaatan pada kode etik dan melulusi ujian terkait costing and scheduling. Bagi para kandidat untuk mengikuti program ini wajib memiliki pengalaman industri termasuk kewajiban mengikuti program resertifikasi melalui program pengembangan berkelanjutan atau resertifiikasi,” ujar Ade.

“Ada beberapa jenis sertifikasi di bawah AACE antara lain Certified Cost Technician, Certified Scheduling Technician, Certified Cost Professional (formerly Certified Cost Consultant/Certified Cost Engineer), Certified Estimating Professional, Certified Forensic Claims Consultant, Decision & Risk Management Professional, Earned Value Professional, Planning and Scheduling Professional,” terangnya.

Sertifikat Certified Cost Professional (CCP) di industri minyak dan gas yang banyak diminati oleh para engineer Indonesia, kata Ade, memberikan kesempatan buat kawan-kawan kita untuk bekerja dan mendapatkan benefit yang tinggi bukan hanya di dalam negeri tapi terlebih lagi ketika mereka bekerja di perusahaan migas bonafide di dunia seperti Saudi Aramco, Qatar Gas, Shell, Chevron dan oil & gas corporation sejenis.

PII
Pembicara diskusi, Ir. Ade

Ir. Ade menyebutkan bahwa butuh persiapan yang sangat intens untuk bisa lulus ujian CCP di samping kewajiban untuk membuat technical paper dengan topik project costing.

Sertifikat kedua yang dibahas dalam paparan materi Ir. Ade yakni sertifikasi manajemen proyek yang dikeluarkan oleh American Academy of Project Management (AAPM). Salah satu sertifikat yang dikeluarkan adalah Master Project Manager (MPM) yang setara dengan Project Management Professional (PMP) yang dikeluarkan oleh Project Management Institute (PMI).

Ir. Ade dalam paparannya membutuhkan waktu cukup lama untuk menyiapkan diri menghadapi ujian MPM dan PMP. Hasilnya, dirinya mampu melulusi kedua program sertifikasi tadi. Dia juga adalah Sekretaris Jenderal Badan Kejuruan Mesin Persatuan Insinyur Indonesia (BKM PII).

Ir. Habibie perkenalkan sertifikasi Insinyur Profesional

Pembicara kedua Ir. Habibie Razak dari Badan Pelaksana Diklat Profesi dan Komite Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan (PKB) PII Pusat membuka perkenalan sertifikasi Insinyur Profesional yang dibagi ke dalam tiga level yakni Insinyur/Insinyur profesional pratama (IPP), insinyur profesional madya (IPM) dan insinyur profesional Utama (IPU).

“PII adalah organisasi yang diberikan mandat oleh UU No 11 Tahun 2014 tentang keinsinyuran untuk melakukan pembinaan keinsinyuran termasuk di dalamnya mengeluarkan Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI),” kata Habibie.

Dalam paparannya, Habibie menyampaikan setelah Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) turunan UU No 11/2014 ini disahkan maka setiap Sarjana Teknik/Pendidikan Teknik/Setara Teknik wajib untuk mengikuti program sertifikasi PII dan mendapatkan STRI tadi.

“Setelah tersertifikasi minimum level Insinyur professional madya (IPM), Insinyur Indonesia juga bisa melanjutkan sertifikasi insinyur ini ke level ASEAN dan Asia Pasifik,” ungkap Ir. Habibie.

PII
Sesi foto bersama pembicara dan para peserta diskusi

Di tingkat ASEAN, kata Habibie, engineer kita bisa registrasi ke ASEAN Engineer register yang dikeluarkan oleh AFEO dan sertifikasi ASEAN Chartered Professional Engineer (ACPE) yang merupakan hasil MRA antara negara-negara ASEAN.

“Untuk tingkat Asia Pasifik silahkan lanjut sertifikasi APEC Engineer dimana PII adalah salah satu APEC monitoring committee di dunia, urusannya pun jadi lebih mudah,” sarannya.

Knowledge sharing session ini dihadiri oleh para professional yang bekerja di berbagai sektor antara lain infrastruktur transportasi, minyak dan gas, pembangkit listrik dan akademisi perguruan tinggi.

Berita Terkait
Komentar
Terkini