Atasi Cangkang Telur Lunak dengan Jamu Ekstrak Daun Pepaya

Peran Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa di daerah saat ini sangat besar. Selain melaksanakan kegiatan belajar dari rumah, mereka juga wajib mendampingi petani/peternak yang berada diwilayah tempat tinggal mereka.

Mereka sebagai mahasiswa diharapkan dapat memberikan solusi bagi petani, apalagi dimasa pandemi covid-19 ini dimana mereka juga harus meyakinkan masyarakat bahwa kegiatan pertanian itu tidak berhenti apapun terjadi.

Mentan SYL mengatakan, “Ada 2 sektor yang tidak boleh berhenti dalam situasi seperti ini yaitu sektor pertanian dan dan kesehatan,“ lanjut SYL.

Baca Juga: Ubah Mindset Milenial,Polbangtan Gowa Berikan Workshop Peningkatan Kesadaran Permagangan

Untuk itu, kampus Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa juga telah menyerukan seluruh mahasiswa-nya yang berada dirumah untuk terus aktif memberikan kontribusi untuk ketahanan pangan.

Salah satu mahasisa yang aktif dilapangan adalah Nur Aqifah. Nur sudah seminggu bertugas untuk mendampingi peternak yang berada disekitar tempat tinggalnya, Kec. Wolo, Kab. Kolaka.

Baca Juga: Sukseskan Food Estate Sumba Tengah, 30 Mahasiswa Polbangtan Kementan Dampingi...

Hari ini kegiatan kami adalah membuat jamu untuk ternak. Jamu ini berasal dari ekstrak daun pepaya. Peternak disini ada yang mengeluhkan bahwa cangkang telur yang dihasilkan ternak mereka sangat lunak, ujar Nur. (18/05)

Kami langsung memberikan praktek pembuatan jamu dari ekstrak daun pepaya tersebut. Dan menjelaskan bahwa hal tersebut  disebabkan karena kurangnya kalsium, mineral dan vitamin D pada ayam.

Manfaat dari daun pepaya itu sendiri adalah meningkatkan daya tahan tubuh ayam, meningkatkan produksi telur, meningkatkan kualitas telur serta sebagai obat cacing alami bagi ayam dan pemberian air ekstrak pepaya dilakukan pada pagi atau sore hari, tegasnya sebagai generasi milenial yang penuh tanggung-jawab.

Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Pendidikan Vokasi, Kementan Lakukan FGD Kurikulum

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Prof. Dr. Dedi Nursyamsi mengatakan generasi muda atau yang saat ini bisa disebut pemuda milenial menjadi penentu kemajuan pertanian di masa depan. Estafet petani selanjutnya adalah pada pundak generasi muda, mereka mempunyai inovasi dan gagasan kreatif yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan pertanian.

“Sebagai tindak lanjut dari arahan Bapak Presiden Joko Widodo dan Bapak Menteri Pertanian bahwa pada tahun 2019 ini pemerintah tengah fokus pada pengembangan sumber daya manusia. Karena itu, ke depan akan lebih ditingkatkan lagi untuk menciptakan SDM profesional melalui pendidikan dan pelatihan di sektor pertanian. Selain itu kemajuan teknologi dan era pertanian 4.0 menuntut kami untuk fokus pada penyiapan SDM yang siap bersaing dan menciptakan SDM profesional di sektor pertanian,” tutur Dedi.

Bagikan