Bakat Penyandang Autis yang Kerap Diabaikan

SLB
Farid Adinata Arif, anak Indonesia yang berusia 12 tahun ini terlahir autis namun bisa jadi drumer yang menguasai banyak teknik ketukan.

Terkini.id, Makassar – Setiap anak memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Hal ini juga berlaku bagi anak-anak berkebutuhan khusus seperti autis.

Orangtua dan guru bertugas menggali bakat dan minat anak autis agar kemampuannya bisa dimaksimalkan. 

Plh Kepala Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Makassar Rahmayani, mengatakan setiap orang sebaiknya menyadari bahwa semua orang bisa berkarya dan bermanfaat, termasuk anak autis.

“Anak luar biasa tak butuh dikasihani dan tak ingin dibedakan. Kami memang betul berbeda, tapi tak ingin dibeda-bedakan, terutama soal kelangsungan pendidikan mereka,” kata Rahmayani di SLB N 1 Makassar, Jumat, 20 November 2020.

Rahmayani pun mencontohkan sejumlah nama anak-anak berkebutuhan khusus  mampu berprestasi di dalam dan luar negeri.

Menarik untuk Anda:

Salah satunya, Farid Adinata Arif, anak Indonesia yang berusia 12 tahun ini terlahir autis namun bisa jadi drumer yang menguasai banyak teknik ketukan. Ia senang dan menggemari musik rock.

“Selain melatih kreativitas, seni juga bisa membangun kepercayaan diri anak,” katanya.

Kepala sekolah tersebut mengatakan talenta Farid dalam bermusik membuatnya pangling. Ia mengaku takjub dengan bakat Farid dalam bermusik.

“Saya sendiri tak percaya, dan sulit dikatakan darimana bakat itu. Kami juga bingung, mau dibilang simsalabim, yah, kenyataannya memang begitu,” ungkapnya.

Ia bercerita bahwa orangtuanya memang mendukung dan melihat talenta anaknya. Hal itu direspons baik untuk berkembang jauh dari sekarang.

“Saya tanya orang tuanya kembangkan bakat anaknya di bidang musik, fokus di situ saja. Banyak orang berhasil dengan cara itu,” ungkapnya 

Di sekolah luar biasa itu, Rahmayani  berkeinginan melestarikan musik tradisional Sulawesi Selatan. Ia menilai, ada pendidikan karakter yang tertanam di sana.

“Sehingga anak-anak kami bisa menjadikan mata pencaharian di masa yang akan datang. Salah satunya adalah musik yang bisa dieksplorasi untuk menggali kreativitas anak autis,” ungkapnya.

Ia menilai sekolah luar biasa selama ini masih dianggap sebagai sekolah dengan keterbelakangan pendidikan dan memiliki metode belajar yang tertinggal dibanding sekolah umum. 

Kenyataannya, Rahmayani menjelaskan, sekolah luar biasa mengajarkan anak mengenai berbagai keterampilan dan kemampuan dasar agar dapat mengikuti kurikulum pendidikan di sekolah umum. 

“Bila potensinya sudah tergali, anak autis bisa menghasilkan karya yang tak kalah atau bahkan lebih hebat ketimbang anak normal lainnya,” pungkasnya.

Sementara, Ira, orang tua Farid bercerita bahwa dirinya pernah membaca sebuah artikel tentang anak berkebutuhan khusus. Lalu, ia menemukan satu bacaan yang menyebut bahwa musik bisa membuat fokus anak autis.

“Lalu saya masukkan di les musik, awalnya kursus piano tapi Farid kurang merespons, kurang senang. Setelah itu saya alihkan ke drum, di situ saya lihat dia senang dengan drum,” ungkapnya.

Sebagai orang tua, Ira kemudian menyediakan alat musik di rumah sehingga anaknya bisa belajar sendiri. Farid belajar drum sejak kelas kelas 1. Saat ini anak tersebut sudah kelas 5.

“Sudah hampir 4 tahun menggeluti drum, kebanyakan belajar sendiri. Di tempat kursusnya hanya buka 1 kali 1 Minggu, dan itu pun hanya 1 jam,” ungkapnya.

Ira bercerita, Farid terlihat tak memiliki kendala berarti saat bermain drum. Ia pun mencari lagu sendiri dan belajar otodidak di rumah.

“Dalam sehari tak pernah terlewat untuk bermain drum, drum seperti makanan sehari-hari baginya,” tuturnya.

Ira berharap, pemeritah memberi dukungan terhadap anak berkebutuhan khusus agar mampu mengembangkan bakatnya. 

“Tak hanya tampil di sekolah, tapi juga mendapat ruang dan panggung untuk tampil dan berbaur dengan masyarakat,” pungkasnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Sempat Terkendala Biaya Diawal Mondok, Rahmaniah Raih Juara 1 Lomba Baca Kitab Kuning

Dulu Jadi Satpam Penjaga Gudang, Kini Ipung Jadi Pengusaha Beromzet Rp 5 M Per Bulan

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar