Balas Ngabalin, Abdullah Hehamahua: Alhamdulillah Saya Diberi Gelar Teroris Olehnya

Terkini.id, Jakarta – Abdullah Hehamahua, Ketua Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) Laskar FPI membalas Ali Mochtar Ngabalin, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) yang menyebutnya ‘teroris’.

Seperti diketahui, sebelumnya Ngabalin meradang karena Abdullah Hehamahua menggambarkan pertemuan TP3 dengan Presiden Joko Widodo seperti Nabi Musa mendatangi Firaun.

Dalam balasannya, Ngablin menyinggung bahwa Abdullah Hehamahua pernah lari ke Malaysia dan kembali dengan membawa ajaran radikalisme. Bahkan, Ngabalin juga menyebutnya sebagai ‘teroris.’

Baca Juga: Kembali Panas, Ngabalin tampar Refly Harun dengan Pertanyakan Kepakarannya: Terlalu...

“Nabi Musa merantau ke Madya, setelah 10 tahun kembali ke Mesir. Abdullah Hehamahua lari ke Malaisya setelah kembali ke Indonesia menyihir ummat menjadi radikal & ekstrim. Nabi Musa kembali ke Mesir dengan Mu’zizat sebagai Nabi, kamu kembali ke Indonesia sebagai ‘TERORIS.’ Ngaca dong pa’tua,” cuit @AliNgabalinNew pada Jumat, 16 Maret 2021.

Menanggapi pernyataan Ngabalin, Abdullah Hehamahua pun mengatakan bahwa jika dirinya memang teroris, maka Ngabalin lebih teroris.

Baca Juga: Formula E Jakarta Digelar Tanpa Sponsor BUMN, Apa Alasannya ?

“Jika saya seorang teroris, maka adinda Ngabalin lebih teroris lagi,” kata Abdullah, Sabtu, 17 April 2021.

Abdullah menjelaskan bahwa Ngabalin pernah aktif sebagai kader Pelajar Islam Indonesia (PII), sementara ia sendiri tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Ketua Majelis Syuro Partai Partai Masyumi itu mengatakan bahwa kader PII lebih galak daripada kader HMI.

Baca Juga: Formula E Jakarta Digelar Tanpa Sponsor BUMN, Apa Alasannya ?

“Itulah sebabnya, sebelum reformasi ketika saya berada di Jakarta, adinda Ngabalin ngajak saya jumpa Prabowo di rumah beliau, tapi tidak berjumpa. Lalu saya dibawa ke rumah Sri Bintang Pamungkas, seorang fungsionaris PPP yang paling radikal waktu itu,” ungkapnya.

Abdullah lalu mengatakan bahwa teroris adalah istilah yang diberikan kepada mereka yang menentang penjajah.

Maka, jika itu yang dimaksud oleh Ngabalin sebagai teroris, maka ia justru bersyukur diberi label itu.

Abdullah Hehamahua mencontohkan bahwa sebutan teroris sempat digaungkan oleh penjajah Belanda kepada para pejuang Indonesia, di antaranya kepada Teuku Umar di Aceh serta pahlawan Pattimura di Maluku.

“Jadi jika itu yang dimaksud adinda Ngabalin tentang teroris, Alhamdulillah saya diberi gelar teroris olehnya,” katanya.

Abdullah melanjutkan bahwa ia tidak merasa ada yang salah dari pernyataannya soal Musa dan Firaun.

Hal itu karena ia menganggap Jokowi memang layak digambarkan sebagai Firaun karena merupakan penguasa di Indonesia saat ini.

Sementara TP3, kata Abdullah, cocok untuk digambarkan sebagai Musa yang memberikan kritik, saran, dan idenya kepada penguasa.

“Pada waktu yang sama, Presiden siapa saja dapat dianalogikan sebagai Firaun dalam kedudukannya sebagai kepala negara sekalipun kualitas dan model kepemimpinannya berbeda,” jelas Abdulalah Hehamahua.

Bagikan