Begini Pandangan Pemuda Enrekang Mengenai Daerahnya

Tulisan ini adalah kiriman dari Citizen, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Laporkan tulisan

Terkini.id, Enrekang-Kabupaten Enrekang merupakan satu kesatuan dari wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten ini memiliki luas 1,786,01 km2 yang terbagi 3 wilayah yaitu, Maiwa, Enrekang, Duri dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 190.579 jiwa yang memiliki 12 kecamatan dan 17 kelurahan 113 desa.

Hal ini disampaikan pemuda asal tana massenrempulu bahwa Enrekang merupakan daerah pengunungan ini berpotensi di bidang pertanian dan perternakan, masyarakat Enrekang lebih fokus pada perekonomiaan pertanian seperti halnya bawang merah, jagung, padi, sayur-sayuran dan lain-lain.

Sejak abad XIV, daerah ini disebut Massenrempulu yang artinya meminggir gunung atau menyusur gunung, sedangkan sebutan Enrekang dari Endeg yang artinya naik dari atau panjat dan dari sinilah asal mulanya sebutan Endekan.

“Masih ada arti versi lain yang dalam pengertian umum sampai saat ini bahkan dalam adminsitrasi Pemerintahan telah dikenal dengan nama “ENREKANG” versi Bugis sehingga jika dikatakan bahwa Daerah Kabupaten Enrekang adalah daerah pegunungan sudah mendekati kepastian, sebab jelas bahwa Kabupaten Enrekang terdiri dari gunung-gunung dan bukit-bukit sambung-menyambung,” ungkap Pemuda yang akrab disapa Ibe. Jumat 13 Desember 2019.

Lebih lanjut, Ibe menguraukan, pada mulanya Kabupaten Enrekang merupakan suatu kerajaan besar bernamaMalepong Bulan. Kerajaan ini kemudian bersifatManurung(terdiri dari kerajaan-kerajaan yang lebih kecil) dengan sebuah federasi yang menggabungkan 7 kawasan/kerajaan yang lebih dikenal dengan federasi”Pitue Massenrempulu”, yaitu: 1. Kerajaan Endekan yang dipimpin oleh. Arung/Puang Endekan. 2. Kerajaan Kassa yang dipimpin oleh Arung Kassa’. 3. Kerajaan Batulappa’ yang dipimpin oleh Arung Batulappa’. 4. Kerajaan Tallu Batu Papan (Duri) yang merupakan gabungan dari Buntu Batu, Malua, Alla’. 5. Buntu Batu dipimpin oleh Arung/Puang Buntu Batu, Malua oleh Arung/Puang Malua, Alla’ oleh Arung Alla’Kerajaan Maiwa yang dipimpin oleh Arung Maiwa. 6. Kerajaan Letta’ yang dipimpin oleh Arung Letta’. 7. Kerajaan Baringin (Baringeng) yang dipimpin oleh Arung Baringin.

“Pitu (7) Massenrempulu’ ini terjadi kira-kira dalam abad ke XIV M. Tetapi sekitar pada abad ke XVII M, Pitu (7) Massenrempulu’ berubah nama menjadi Lima Massenrempulu’ karena Kerajaan Baringin dan Kerajaan Letta’ tidak bergabung lagi ke dalam federasi Massenrempulu,” tambahnya.

Akibat dari politikDevide et Impera, Pemerintah Belanda lalu memecah daerah ini dengan adanya Surat Keputusan dari Pemerintah Kerajaan Belanda (Korte Verklaring), dimana Kerajaan Kassa dan kerajaan Batu Lappa’ dimasukkan ke Sawitto. Ini terjadi sekitar 1905 sehingga untuk tetap pada keadaan Lima Massenrempulu’ tersebut, maka kerajaan-kerajaan yang ada didalamnya yang dipecah.

Ditinjau dari segi sosial budaya, masyarakat Kabupaten Enrekang memiliki kekhasan tersendiri. Hal tersebut disebabkan karena kebudayaan Enrekang (Massenrempulu’) berada diantara kebudayaan Bugis, Mandar dan Tana Toraja.

Bahasa daerah yang digunakan di Kabupaten Enrekang secara garis besar terbagi atas 3 bahasa dari 3 rumpun etnik yang berbeda di Massenrempulu’, yaitu bahasa Duri, Enrekang dan Maiwa. Bahasa Duri dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Alla’, Baraka, Malua, Buntu Batu, Masalle, Baroko, Curio dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja.

Bahasa Enrekang dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Enrekang, Cendana dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja.

Bahasa Maiwa dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Maiwa dan Kecamatan Bungin. Melihat dari kondisi sosial budaya tersebut, maka beberapa masyarakat menganggap perlu adanya penggantian nama Kabupaten Enrekang menjadi Kabupaten Massenrempulu’, sehingga terjadi keterwakilan dari sisi sosial budaya.

Terakhir Pemuda ini berpesan agar seluruh masyarakat Massenrempulu’ dimana saja berada diharapkan tetap menjaga budaya Massenrempulu’ sebagai modal dasar pembangunan dalam melaksanakan otonomi daerah untuk mewujudkan predikat atau gelar yang pernah diberikan oleh raja-raja dari Bugis yang diungkapkan dalam Bahasa Bugis, bahwa “Naiyya Enrekang Tana Rigilla, Lipu Riongko Tana Riabbusungi. Naiyya Tanah Makka Tanah Mapaccing Massenrempulu. Naiyya Tansh Enrekang, Tanah Salama.”

Komentar

Rekomendasi

Viral Pria Ini Berkali-kali Dipatuk King Kobra saat Atraksi dan Hanya Tertawa, Akhirnya Tewas

Meriahnya gelaran SPECTA 2020 di Makassar

Hj. Hartati Inginkan Tim Rasa Keluarga

Mencetak Penerus: Ikatan Pemuda Massamaturu Kembali Mengadakan Perekrutan Anggota Baru

Kunjungan Kerja ke Enrekang, Begini kata Kajati Sulsel

KARCA 98 Rayakan Anniversary ke-22 Merajut Silaturahmi

Mahasiswa KKN UMI Angkatan 64 Kelurahan Teppo Gelar Seminar Proker Desa

Lembaga Hari Anak Yatim Salurkan Bantuan Program Pembangunan Sekolah Pelosok

Putra Enrekang Berhasil Menjadi Ketua Umum HIMTI STMIK Akba Makassar Periode 2020-2021

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar