Benarkah Diagram KPU Salah dan Tak Sesuai Perolehan Suara Capres?

Terkini.id, Jakarta – Dalam beberapa hari terakhir, netizen dihebohkan dengan video yang menunjukkan diagram perolehan Capres di website KPU salah.

Video tersebut misalnya disebar akun Twitter WIsanggeni atau @WiwisMbecak.

Video tersebut menunjukkan seseorang yang mencoba menghitung ulang perolehan suara Capres Cawapres 01 Jokowi-Ma’ruf dan 02 Prabowo-Sandi melalui aplikasi microsoft excel.

Pengunggah video menunjukkan perbedaan antara hasil perhitungan suara Pilpres dari Sistem Informasi Penghitungan (Situng) di website KPU https://pemilu2019.kpu.go.id/ dengan hasil perhitungan di Microsoft (Ms) Excel.

Dengan mengambil data dari KPU pada hari Senin 22 April 2019 video akun @WiwisMbecak menjelaskan diagram KPU untuk pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 01 berada di angka 54,84 persen, sementara pasangan capres dan cawapres 02 sebesar 45,16 persen, dari total sementara 18.349.072 suara.

Suara pria dalam video akun @WiwisMbecak menjelaskan dirinya memindahkan seluruh data perolehan suara untuk masing-masing pasangan capres dan cawapres dengan cara copy-paste.

Pria tersebut meng-copy angka-angka perolehan suara dari berbagai wilayah yang dilampirkan KPU dalam bentuk tersebut, ke aplikasi MS Excel.

Saat dijumlah, total suara yang masuk untuk paslon 02 sebesar 9.214.073 dari total 17.563.015 suara.

Saat dipersentasekan di Ms. Excel, jumlah suara Prabowo menunjukkan angka sebesar 52 persen.

“Tapi di diagram (KPU) kita lihat paslon 01 (sebesar) 54 persen, (paslon) 02 (sebesar) 45 persen. Logikanya, kalau kita pakai rumus Excel sinkron itu harusnya sama, kok, ini beda, KPU bisa Excel, piye, toh, bisa Excel apa ora ono, toh?” tutur suara dalam video tersebut.

Karena Copy-Paste Saja

Mengapa hasilnya bisa beda?

Sejumlah pihak, mencoba melakukan penghitungan dengan mengikuti cara dalam video tersebut.

Beberapa pihak yang melakukan penghitungan itu, mulai dari media online kumparan, Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Abdul Hamid (Abah) serta pengguna akun twitter @yoshu_sudarso.

Mereka justru menemukan hasil yang sama dengan di website KPU. Tidak seperti dalam video di atas tersebut.

Diketahui, hasil di excel bisa berbeda karena pria dalam video tersebut langsung mengcopy-paste tanpa mengubah tanda titik menjadi koma.

Untuk diketahui, penggunaan ‘titik’ pada laman KPU berfungsi sebagai pemisah angka ribuan, sebagaimana fungsi penggunaan titik dalam bahasa Indonesia.

Namun, berbeda dengan Inggris khususnya microsotf excel, yang memfungsikan titik sebagai pemisah bilangan desimal.

Akun Twitter Yoshu Sudarso atau @yoshu_sudarso, jika di-copy paste saja, ke dalam format Ms Excel, hasilnya memang akan berbeda atau terbalik.

Dia menjelaskan, ketika dipindahkan format penulisan KPU yang menggunakan titik dalam jumlah angka akan dibaca desimal ketika dipindahkan ke Ms Excel.

Namun jika tanda titik tadi dirubah ke dalam bentuk koma maka angka perihitungan di link KPU pasti akan sesuai.

Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Abdul Hamid (Abah) juga melakukan uji coba yang sama. Dia mengambil data dari link perhitungan suara di laman KPU Pusat.

Yang ditulis KPU bahwa suara pasangan 01 sebanyak 7.032.163, sementara di excel 5.510.996.

Kemudian ditulis juga bahwa suara pasangan 02 sebanyak 5.928.855 sementara di excel tertulis 6.471.312

Ternyata memang ada perbedaan hasil. Namun, itu bisa dijelaskan. Menurut Abah, angka di tabel situs KPU ternyata menggunakan titik (.) yang jika dibaca di excel maka dianggap desimal.

“Makna terhadap angka tentu berubah. Paling mudah lihat tabel no 2 yang memiliki beberapa angka 0 di belakang yang di excel menjadi hilang ketika di copy-paste di sana,” tutur Abah di laman website-nya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini