Terkini.id, Jakarta – Masa sebelum Islam, khususnya kawasan jazirah Arab, disebut masa jahiliyah. Julukan ini lahir disebabkan oleh terbelakangnya moral masyarakat Arab, khususnya Arab pedalaman yang hidup menyatu dengan padang pasir dan area tanah yang gersang.
Mereka berada dalam lingkungan yang miskin pengetahuan. Situasi yang penuh dengan kegelapan dan kebodohan tersebut, mereka sesat jalan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan, membunuh anak-anak dengan dalih kemuliaan, memusnahkan kekayaan dengan perjudian, membangkitkan peperangan dengan alasan harga diri dan kepahlawanan.
Kondisi semacam ini terus berlangsung hingga datang Islam di tengah-tengah mereka. Namun, bukan berarti masyarakat Arab pada masa itu sama sekali tidak memiliki peradaban.
Bangsa Arab sebelum lahirnya Islam dikenal sebagai bangsa yang sudah memiliki kemajuan ekonomi. Makkah misalnya pada waktu itu merupakan kota dagang taraf internasional.
Hal ini diuntungkan oleh posisinya yang sangat strategis karena terletak di persimpangan jalan penghubung jalur perdagangan dan jaringan bisnis dari Yaman ke Syiria.
- Kerukunan Keluarga Luwu Raya Undang Pj Gubernur Beri Ceramah Soal Sejarah Sulsel
- Timnas Mali Keluar Sebagai Juara Tiga Pada Ajang Piala Dunia U-17
- Sarat Akan Sejarah, 5 Museum di Surabaya Ini Wajib Dikunjungi!
- THR Lebaran Ternyata Sudah Ada Sejak 1950-an, Begini Sejarah dan Awal Mula Pemberiannya
- Helmi Felis Ucapkan Selamat Milad Buat Amien Rais, Warganet: Semoga Bapak Cepet Masuk Surga
Berdasarkan pernyataan Nurul Huda dkk. dalam buku Ekonomi Pembangunan Islam, selain membawa keuntungan ekonomi, Makkah menjadi tempat terjadinya kontak budaya dari berbagai suku.
Untuk mempertahankan sistem ekonomi dalam potensi konflik yang mungkin terjadi antar suku, berbagai berhala dibangun untuk mewakili semua suku.
Pembangunan begitu banyak berhala bukan saja memberikan keuntungan budaya, namun juga berkaitan dengan uang.
Para pedagang dapat membayar sejumlah uang bagi pengelola Ka’bah untuk dapat menyembah berhala yang disimpan di dalam Ka’bah.
Hal ini memicu perkembangan ekonomi Mekkah yang selain menjadi pusat persinggahan, juga menjadi pusat ziarah.
Harun Arrasyid dalam papernya yang berjudul Sejarah Perekonomian Jazirah Arab, bahwa keadaan sosial ekonomi masyarakat Arab sangat dipengaruhi juga oleh posisi geografisnya.
Sebagian besar wilayah Arab merupakan daerah yang gersang dan tandus, kecuali wilayah Yaman yang terkenal subur dan lokasinya strategis sebagai lalu lintas perdagangan.
Pada bagian tengah Jazirah Arab, dikarenakan berupa pegunungan yang tandus, Arab Badui berpindah-pindah dari satu lembah ke lembah yang lain di pedalaman.
Mereka merupakan peternak yang mencari rumput. Sedangkan di daerah yang subur mereka mengembangkan lahan pertanian dengan menanam buah-buahan dan sayur-sayuran.
Untuk Mereka yang tinggal di perkotaan biasanya melakukan kegiatan berdagang. Keahlian berdagang itulah yang menentukan kehidupan sosial ekonomi mereka. Kegiatan ekonomian bangsa Arab sebelum Islam datang, sangat bergantung pada perdagangan.
Dalam jurnal yang berjudul Sistem Aktivitas Ekonomi (Bisnis) Masyarakat Arab Pra-Islam oleh Jaya Miharja menyatakan bahwa, pada masa Arab pra-Islam, bangsa Arab sudah biasa melakukan transaksi berbau riba.
Sebagaimana dikatakan oleh Ath-Thabari bahwa pada masa jahiliyah, praktik riba terletak pada penggandaan dan kelebihan jumlah umur satu tahun.
Misalnya ada seorang yang berhutang, ketika sudah jatuh tempo, datanglah pemberi hutang untuk menagihnya seraya berkata,”Engkau akan membayar hutangmu ataukah akan memberikan tambahan (bunga) nya saja kepadaku?.”
Jika ia memiliki sesuatu untuk bisa melunasinya maka ia akan bayar. Jika tidak, maka ia akan menyempurnakannya hingga satu tahun ke depan.
Jika hutangnya berupa ibnatu makhadh (anak unta yang berumur satu tahun), maka pembayarannya menjadi ibnatu labun (anak unta yang berumur dua tahun) pada tahun kedua.
Kemudian Ia akan menjadikannya hiqqah (anak unta yang berumur tiga tahun), kemudian menjadikannya jadzah (unta dewasa). Selanjutnya kelipatan empat ke atas. Hal ini juga terjadi dalam hal hutang emas ataupun uang, yang berlaku riba.
Sebagai pusat persinggahan, Makkah pra-Islam menjadi pusat hiburan yang dalam standar Islam sekarang merupakan hiburan-hiburan yang terlarang, seperti pelacuran, minuman keras, dan perbudakan.
Sedangkan warga yang tidak terlalu tertarik dengan perdagangan di dalam kota, dapat melakukan perjalanan sendiri atau mengikuti kafilah ke arah utara dan selatan menuju pusat perdagangan di kedua sisi.
Ayah Nabi Muhammad misalnya, pergi berdagang ke Damaskus di jalur Utara hingga akhirnya meninggal dalam perjalanan pulang, sebelum Muhammad dilahirkan. Ia merupakan anggota subklan Quraisy yang terkenal karena perdagangannya.
Selain itu, terdapat praktik mudharabah dimana terdapat dua pihak. Satu pihak sebagai pemegang dana dan satu sebagai mitra yang menyumbangkan usaha dan kecakapannya untuk membiayai perjalanan dan perdagangan kafilah.
Harun Arrasyid juga menyatakan dalam paper yang ditulisnya tersebut bahwa di sisi lain, kemajuan perdagangan bangsa Arab pra-Islam dimungkinkan ialah pertanian yang telah maju.
Kemajuan tersebut ditandai dengan adanya kegiatan ekspor-impor yang mereka lakukan. Yang mereka ekspor ialah dupa, kemenyan, kayu gaharu, minyak wangi, kulit binatang, buah kismis, anggur, dan barang dagangan lainnya.
Barang yang diimpor adalah kayu untuk bahan bangunan, bulu burung unta, budak, batu manusia, dan pakaian.
Tidak dapat dimungkiri pedagang Makkah juga selalu dihadapkan pada kemungkinan terjadinya bencana finansial. Seperti yang dikatakan Muhammad ibn Ahmad al-Qurtubi, orang-orang Makkah telah mengembangkan i’tifad (ritual bunuh diri) sebagai respon terhadap situasi ini.
Ketika seorang pedagang menjadi bangkrut, dia melakukan i’tifad dengan memisahkan dirinya dan keluarganya dari klan lainnya hingga kelaparan sampai mati daripada menjadi tanggungan bagi keluarga.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan perekonomian bangsa Arab sebelum Islam adalah dengan cara berdagang, pertanian, peternakan, dan membisniskan tuhan dengan cara membuat patung dan menyewakan patung tersebut untuk disembah oleh masyarakat setempat, karena pada masa itu masyarakat yakin bahwa patung yang dibuat adalah tuhan mereka.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
