Terkini.id, Jakarta – Bernapas lega, ah! China tak lagi jadi ‘ancaman’ Indonesia loh. Terkait laporan stagflasi yang terjadi di China seperti dugaan banyak pihak, direspons Bank Indonesia (BI) dengan mengungkapkan jika tanda perbaikan perekonomian China, sudah mulai terlihat di akhir 2021.
Sehingga, untuk itulah Bank Indonesia meyakini tidak akan terjadi kekalutan ekonomi Indonesia seperti yang dibayangkan sebelumnya.
“Kami sendiri tetap meyakini, tidak akan terjadi stgaflasi di China,” beber Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Hariyadi Ramelan kepada wartawan di Jakarta, Rabu 8 Desember 2021.
Sekadar diketahui, stagflasi adalah kondisi ekonomi melambat namun inflasi tinggi. Sehingga, hal itu dianggap menjadi ‘mimpi buruk’ bagi China. Pasalnya, pelaku ekonomi harus membayar mahal demi pertumbuhan ekonomi yang biasa saja.
Dikutip dari CNBCIndonesia, Rabu 8 Desember 2021, Hariyadi menjelaskan, perbaikan ekonomi China tercermin dari indikator PMI manufaktur yang masuk zona ekspansi. Hal itu bisa terbaca pada Oktober 2021 berada di posisi 49,2 dan di November 2021 menjadi 50,1 poin.
Bahkan Bank Sentral China pun telah menurunkan GWM-nya sebesar 50 basis poin (bps). Sehingga, ini akan menambah likuditas perbankan di China sekitar 1,2 triliun yuan.
“Ini baru dilakukan dua hari lalu, dan tentunya kami melihat dengan adanya injeksi likuiditas sebesar 1,2 triliun yuan ini akan mendukung aktivitas ekonomi China. Sekaligus, juga meredakan keketataan likuiditas di sistem keuangan China,” imbuh Hariyadi.
Adapun terkait munculnya varian baru Covid-19 Omicron, dinilainya tidak akan berdampak besar bagi pergerakan positif yang sudah terjadi di China.
“Kami yakini, even (meskipun) ada penyebaran Omicron, ini akan relatif minimal dengan tingkat vitality terbatas,” tegas Hariyadi meyakinkan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
