“Biodiversity is Coming Home” Pentingnya Megabiodiversity Indonesia di Mata Dunia

“Biodiversity is Coming Home” Pentingnya Megabiodiversity Indonesia di Mata Dunia

R
Ismi Hehamahua
Redaksi

Tim Redaksi

“Predikat sebagai Negara megabiodiversity baik dari segi keanekaragaman ekosistem, keanekaragaman spesies dan keanekaragaman genetik menuntut tanggung jawab yang besar untuk pelestarian dan pemanfaatan bagi masyarakat,”ucapnya.

Dijelaskannya kembali, Agar dapat terbangun skema pengumpulan dan pengelolaan data/informasi keanekaragaman hayati di daerah, Kami sarankan agar di masing-masing daerah perlu memperkuat jejaring antar sektor atau unit yang menangani keanekaragaman hayati di daerahnya masing-masing dengan membentuk kelompok kerja atau pokja keanekaragaman hayati daerah.

“Jejaring simpul tidak hanya dari lembaga pemerintah tetapi juga dari Perguruan Tinggi dan organisasi non pemerintah yang terus diperkuat agar peran dan partisipasi aktif ‘simpul-simpul’ ini dapat berjalan sesuai tujuan atau target yang ingin dicapai dalam pengelolaan kenaekaragaman hayati, ini adalah tantangan terbesar pengelolaan BKKHI,”jelasnya.

“Mari kita bersama memanfaatkan FGD ini sebaik baiknya, Agar apa yang kita harapkan dalam mewujudkan pencapaian target nasional dan target global dalam pengelolaan keanekaragaman hayati dapat terwujud,”pungkasnya.

Ditempat yang sama, Badi’ah, S.Si., M.Si, Kepala Subdit Pengawetan Spesies dan Genetik mewakili Plt. Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik menjelaskan bahwa Balai Kliring keanekaragaman Hayati Indonesia (BKKHI) dapat dijadikan sebagai sistem monitoring kehati nasional dan global.

“Selain sebagai sarana sharing informasi data kehati dan jaringan simpul, diharapkan isi dan materi didalamnya juga sejalan dengan mandat yang ada didalam IBSAP,”tambahnya.

“Profil Kehati Daerah dan rencana Induk Pengelolaaan Kehati menjadikan sarana ‘monitoring dan reporting’ kekayaan Kehati pada BKHHI Data Kehati,”ucap Badi’ah.

“Serta menjadi bahan untuk penyusunan Profil Kehati, Penyusunan Rencana induk pengelolaan kehati (RIP), Daya dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup (DDDTLH), RPPLH, KLHS, RPJPD/RPJMD“ujarnya.

Senada hal tersebut, Theresia Juliana dari BAPENNAS menuturkan bahwa Pentingnya kebijakan dan aksi secara global, regional dan nasional untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan sehingga dapat menghilangkan ancaman keanekaragaman hayati untuk mencapai
target dan sasaran.

“BAPPENAS telah menyelesaikan dokumen RPJPN 2025 – 2024 yang berimplikasi pada RPJPMD
Untuk dapat mengukur keberhasilan pembangunan indonesia terdapat 3 (tiga) indikator utama, salah satunya komponen keanekaragaman hayati,”jelasnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.