Cabai Katokkon, Si Pedas yang menjadi Primadona di Masa Pandemi COVID-19

Pertanaman Cabai Katokkon Menjadi Primadona di Masa Pandemi COVID-19

Kekayaan produk hortikultura dari Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Salah satu komoditi yang biasa digunakan untuk bumbu masakan adalah cabai. Berbeda dengan daerah lain, masyarakat Toraja terbiasa mengkonsumsi Katokkon, jenis cabai yang dikenal karena kepedasannya.

Cabai Kattokon ini, adalah salah satu komoditi andalan yang berasal dari Toraja, dan menjadi komoditi menjanjikan untuk Agribisnis.

Cabe katokkon ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan sebagai komoditi agribisnis. Aroma harum dan rasa pedasnya yang khas membuat Cabai ini menjadi lada favorit terutama bagi para penggemar rasa pedas.

Bahkan Syahrul Yasin Limpo, yang saat ini menjadi Menteri Pertanian mengatakan bahwa cabai katokkon ini memiliki ciri khas dengan level kepedasan. “Varietas ini pedasnya ada di level lima atau setara dengan 20 cabai lainnya. Dan ini menjadi cabai khas di Sulawesi Selatan,” ujarnya ketika masih menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan.

Muh. Bahman, Kordinator BPP Kapala Pitu Toraja Utara mengatakan diwilayah kerjanya, petani sangat tertarik untuk mengembangkan tanaman ini. Nilai ekonomisnya bagus sekali dan stabil dipasaran termasuk dimasa pandemi ini.

Baca juga:

Harga cabe biasa di Toraja Utara berkisar di Rp. 20.000/kg sedangkan untuk jenis Katokkon bisa mencapai Rp. 40.000/kg dengan level kepedasannya berbeda jauh.

Tentunya ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan dengan pola agribisnis. Kami selalu berusaha untuk mengajak petani agar secara kontinyu dalam mengembangkan komoditas andalan Toraja ini sehingga pendapatan petani dapat meningkat. Apalagi dimasa pandemi covid-19 ini. Kami terus menggenjot agar pertanaman andalan ini tidak ikut terdampak. Dulunya petani menanam dengan metode sederhana, dengan potensi keuntungan yang besar, petani pun lebih serius untuk menanam, saat ini juga petani sudah memanfaatkan mulsa.

Cabai Katokkon, Komoditas Andalan Toraja

Selain itu, potensi untuk membuat agrowisata dilokasi BPP juga sangat tinggi ujar salah satu penggagas Kampung Katokkon ini. Wilayah kami berada di 1.549 mdpl, bahkan disebut juga dengan istilah negeri diatas awan.

Bahman mengatakan dalam 1 pohon cabe katokkon bisa menghasilkan 2 s.d 3 kg cabe. Coba bayangkan apabila kita punya 500 pohon saja. Tentunya ini menjanjikan, ujarnya.

Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) saat ini memang wajib untuk selalu mengembangkan dan menggenjot potensi yang ada diwilayah kerjanya terutama dimasa Pandemi Covid-19 ini.

Peran penyuluh sangat penting dalam membimbing petani agar bisa menghasikan produksi dengan baik. Bagaimana menerapkan Good Agriculture Practices (GAP), menggunakan pupuk berimbang, serta mekanisasi pertanian dan pengendalian hama dan penyakit secara ramah lingkungan.

Kementerian Pertanian sendiri telah mengeluarkan surat edaran sekjen. Kementerian Pertanian No1056/SE/RC 10/03/2020 tentang strategi dalam pencegahan dan perlindungan Covid-19. Pertama, penyediaan bahan pangan pokok utamanya beras dan jagug bagi 267 juta masyarakat Indonesia. Kedua, percepatan ekspor komoditas strategis dalam mendukung keberlanjutan ekonomi.

Ketiga, sosialisasi kepada petani dan petugas lapangan (PPL dan POPT) untuk pencegahan berkembangnya virus corona sebagaimana standar WHO dan pemerintah. Keempat,pembuatan dan pengembangan pasar tani disetiap provinsi, optimasi pangan lokal, koordinasi infrastruktur logistik, dan e-marketing dan kelima, program kegiatan padat karya agar sasaran pembangunan pertanian dicapai dan masyarakat langsung menerima dana tunai.

Menteri pertanian, Syahrul Yasin Limpo (YSL) selalu menegaskan bahwa sector pertanianlah yang mampu menjadi penguat bangsa menghadapi pandemi  ini, karena selain menyediakan pangan bagi 267 juta masyarakat, pertanian juga sebagai penyerap tenaga kerja, bahan baku Industri dan menjaga stabilitas negara RI.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi saat jumpa pers di Kantor pusat kementan, mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi besar untuk sektor pertanian. Adanya wabah ini justru pertanian harus makin digenjot karena masyarakat sangat membutuhkan pangan yang sehat.

Komentar

Rekomendasi

Kecintaannya Terhadap Anak-Anak Dorong Vanessa Menjadi Relawan bagi Pengungsi di Malaysia

Kostratani BPP Gandangbatu Sillanan Kembangkan Varietas Kopi Lokal Toraja

Gelar Aksi Sosial, IMM FISIP Bagikan Paket Ramadhan untuk Warga

Mahasiswa Polbangtan Manfaatkan Masa LFH untuk Bantu Petani Tingkatkan Kualitas Semangka

Penyuluh, Mahasiswa Polbangtan dan Petani Bantaeng Bahu-membahu untuk Percepatan Tanam

BPP Gandangbatu Sillanan Dampingi Petani Kembangkan Kopi Arabika Varietas Lokal Toraja

Mahasiswa Manfaatkan “Waktu Belajar dari Rumah” untuk Tingkatkan Produksi Jagung Petani

Agar Produktifitas Makin Baik, Kualitas Terjaga, Mahasiswa Bantu Petani Kendalikan Gulma

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar