Gerakan Percepatan Tanam sendiri menurut Mentan SYL, merupakan upaya antisipasi terjadinya kekeringan dengan memanfaatkan potensi hujan yang masih ada seperti arahan Presiden Joko Widodo dalam rapat kabinet terbatas.
Menurutnya, sektor pertanian sangat bergantung pada cuaca, bencana alam, hama, dan manajemen ketahanan pangan. Karena itu, antisipasi ini harus segera dilakukan oleh semua lingkup Kementan demi meminimalisir terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan.
“Kita kerahkan semua kemampuan termasuk analisa-analisa dari Litbang Kementan untuk bisa menentukan mana pupuk yang cocok, dan mana bibit yang cocok untuk ditanama. Kalau semua berjalan lancar pasti pangan kita aman,” terang Mentan Syahrul.
Ditengah Pandemi Covid-19 ini bukan menjadi alasan bagi petani di Desa Pa’rasanganberu, Kec. Galesong Kab.Takalar untuk berhenti bercocok tanam, para petani tetap bertahan dan optimis hasil panen mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sepanjang bencana ini. Karna pertanian tidak akan pernah terhenti dan mati ia akan terus maju.
Rillah Dien Mantika Putri, mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa ikut berpartisipasi dalam kegiatan olah dan tanam di Kabupaten Takalar. Masa “learning from home” dimanfaatkan untuk mendampingi petani. (14/05).
- Momentum Kartini, Indibiz KTI Dorong Kepemimpinan Perempuan UMKM di Era Digital
- PT Vale Catat Kinerja Keuangan Solid pada Triwulan I 2026, Perkuat Fondasi Pertumbuhan
- Menghidupkan Semangat Kartini, PLN UID Sulselrabar Ajak Berbagi Lewat Donor Darah
- Berkat Program TJSL PLN, Produk UMKM Rumah BUMN Selayar Tembus Pasar Modern
- PLN Hadirkan Listrik untuk Petani Bone, Produktivitas Naik dan Biaya Operasional Turun sampai 74 Persen
Di Takalar, sistem pengolahan sawah sudah tampak modern dilihat dari pemanfaatan alsintan dalam seluruh kegiatan. Hal itu dibuktikan pada pembajakan sawah petani menggunakan Traktor Modern (Traktor roda 4) yang dapat menghemat waktu, mengurangi biaya produksi, hasil tanah lebih baik serta menghemat tenaga petani.
Sedangkan, pada penanaman padi petani menggunakan alat mesin transplanter. Petani yang menggunakan alat tanam transplanter ini sangat merasakan manfaatnya. Petani mengatakan diantaranya yaitu dengan menggunakan transplanter hanya membutuhkan waktu sedikit untuk menyelesaikan pekerjaan, sangat menghemat biaya serta menambah hasil produksi petani.

Dengan menggunakan mesin ini, petani akan diuntungkan karena pekerjaan selesai lebih efisien dan praktis dikarenakan mesin ini lebih bekerja dalam waktu yang cepat daripada menggunakan tenaga manusia, sambil memperlihatkan dan membandingkan sawah yang berada disebelahnya menggunakan alat mesin transplanter, jelas Rillah.
Kegiatan mahasiswa yang aktif dilapangan ini sejalan dengan permintaan Presiden Joko Widodo bahwa pertanian tetap harus terus berproduksi. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Prof Dedi Nursyamsi pun mengatakan ini di berbagai kesempatan.
“Pandemi Covid-19 menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu yang tetap harus bergerak, selain sektor kesehatan. Karenanya, ayo berjuang terus karena ketersediaan pangan di masyarakat adalah tanggung jawab kita,” jelas Dedi. “Jangan lupa untuk tetap perhatikan protokol penanganan covid 19 di lapangan,” imbuh Dedi.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
