Cabut Anjuran Poligami, PKS: Kami Mohon Maaf jika Anjuran Ini Melukai Hati Sebagian Masyarakat Indonesia

Terkini.id, Jakarta – Ketua Dewan Syariah Pusat (DSP) Partai Keadilan Sosial (PKS), Surahman Hidayat mengatakan bahwa pihaknya telah mencabut aturan Partai yang mempersilakan kadernya yang mampu untuk melakukan poligami.

Mewakili PKS, Surahman Hidayat pun meminta maaf jika anjuran mereka telah membuat gaduh publik dan melukai hati sebagian masyarakat Indonesia.

Sebagaimana diketahui, aturan yang dicabut itu yakni Tazkirah Nomor 12 Tentang Solidaritas Terdampak Pandemi. 

Baca Juga: Salim Segaf Sebut Semangat Gubernur Sulsel Melayani Masyarakat Luar Biasa

Salah satu poinnya adalah anjuran berpoligami bagi anggota PKS laki-laki yang telah mampu dan siap beristri lebih dari satu.

“Setelah kami mendapat berbagai masukan dari pengurus, anggota dan masyarakat secara umum, kami memutuskan untuk mencabut anjuran poligami tersebut,” kata Surahman pada Kamis, 30 September 2024, dilansir dari CNN.

Baca Juga: Dr Salim Akan Menyapa Kader PKS di Takalar, Bupati Tidak...

“Kami memohon maaf jika anjuran ini membuat gaduh publik dan melukai hati sebagian hati masyarakat Indonesia,” tambahnya.

Sebelumnya, PKS mencanangkan program solidaritas tiga pihak yang mempersilakan kader yang mampu secara ekonomi untuk melakukan poligami, utamanya janda.

Namun, anjuran PKS ini dikritik oleh beberapa pihak, salah satunya komunitas #SaveJanda.

Baca Juga: Dr Salim Akan Menyapa Kader PKS di Takalar, Bupati Tidak...

Founder Komunitas #SaveJanda, Mutiara Proehoeman mengatakan bahwa rogram tersebut justru sangat merendahkan perempuan yang berstatus janda.

Sebagai partai politik, kata Mutiara, seharusnya PKS lebih peka terhadap beban berlapis yang dialami perempuan berstatus janda di Indonesia akibat stigma negatif terhadap mereka.

“Narasi-narasi misoginis seperti imbauan kader untuk berpoligami dengan janda ini hanya memperburuk stigma tersebut,” ungkapnya, Kamis.

Mutiara juga meminta agar semua pihak berhenti memposisikan perempuan sebagai objek. 

Ia menekankan bahwa pernikahan bukan sebuah hadiah, apalagi pertolongan bagi perempuan.

Bagikan