Caleg Gagal Terguncang Secara Mental Akibat Kalah di Pemilu

Caleg Gagal Terguncang Secara Mental Akibat Kalah di Pemilu

R
Azhar Azhari
Redaksi

Tim Redaksi

Meskipun kekecewaan yang ia rasakan tak sebesar dulu, tapi pikirannya sempat berantakan setelah tahu perolehan suaranya tak cukup besar untuk mengantarkannya ke DPRD Kabupaten Pamekasan.

Dia bercerita, selama 10 hari setelah pencoblosan lebih sering berada di luar rumah.

“Saya kalau jam 4 sore sampai 9 malam tidak di rumah,” kata Suwasik.

“Saya butuh apa ya… refreshing… butuh tempat yang nyaman ketika saya tidak nyaman di rumah… jadi saya sering di luar.”

“Kadangngopidengan teman-teman… supaya bisa mem-balance-kan pikiran saya lagi.”

Baca Juga

Suwasik bercerita hal yang paling membebani pikirannya adalah bagaimana memperbaiki keuangan keluarga setelah mengeluarkan uang untuk modal kampanye.

Pria paruh baya ini tak mau terus terang menyebutkan angka pasti. Yang jelas, menurutnya, di bawah ongkos kampanye pertamanya yang mencapai Rp300 juta.

Angka itu menurutnya kurang maksimal untuk mendulang suara lantaran caleg lain, klaimnya, menggelontorkan uang lebih besar untuk “serangan fajar” atau bagi-bagi duit ke warga pada hari pemilihan.

Suwasik mengaku bahwa perasaan bakal kalah sebetulnya sudah muncul kala Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Pemilu 2024 tetap menggunakan sistem proporsional terbuka.

“Karena sistemnya proporsional terbuka, jadi ini perang finansial… bukan perang figur atau kemampuan individu caleg. Kalau modal kita minim ya tidak bisa paksakan diri.”

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.