Namun ketika situasinya tak sesuai harapan, mereka jadi hilang arah, ujar Devi.
“Makanya ekses pascapemilu terulang lagi. Misal caleg kalah jadi stres selalu ada di pemilu.”
Belum lagi tekanan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya suara pemilih.
Meskipun media digital sudah membanjiri hampir di seluruh kelompok masyarakat, tapi tak bisa dipungkiri bahwa “menebar uang” ke masyarakat masih jadi jurus jitu, ungkap Devi.
Di sinilah, menurutnya, caleg harus bekerja keras untuk bagaimana memperkenalkan dirinya supaya dipilih masyarakat. Kalau perlu melakukan praktik “serangan fajar”.
- Tim Pegasus Polres Jeneponto Ringkus 3 Warga Ka'nea Terkait Kasus Pengeroyokan
- Satresnarkoba Polres Jeneponto Ungkap Penyalahgunaan Sabu, Tiga Pelaku Ditangkap, Diantaranya Oknum Kades
- Wali Kota Makassar Munafri Lantik 153 Imam Kelurahan, Akan Dapat Insentif dan Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan
- Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Anggota DPRD Makassar Hj Umiyati Soroti Pentingnya PSU
- Poltekpar Makassar Dorong Pengembangan Desa Wisata Sanrobone Lewat Project Based Learning 2026
“Jadi beban caleg itu berat dan ditanggung sendiri. Kalau gagal yasudah dianggap kesalahan mereka karena tidak populer di masyarakat.”
PSI: Kami memang tidak ada pembekalan mental
Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok, Icuk Pramana Putra, mengatakan pada Pileg 2024 partainya memang mengutamakan kader sendiri untuk maju.
Kendati partai yang didirikan pada 2014 ini menyatakan tak menutup pintu bagi orang baru.
“Rata-rata di Pileg kemarin setengah caleg yang maju pengurus dan setengah lagi bukan pengurus. Ya fifty-fifty.”
Caleg yang melaju ini, sambungnya, harus menjalani sekolah kader setahun sebelumnya. Namun bagi caleg yang masuk di masa “injury time” minimal wajib tahu soal Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.
Mereka juga diberi pembekalan soal bagaimana cara berkampanye dan pengetahuan soal komisi-komisi yang kelak mereka duduki di parlemen jika menang.
“Misalnya komisi A pendidikan akanngapain aja. Jadi mereka sudah tahu mau fokus ke mana dan enggakngawang-ngawangkalau bikin program atau janji kampanye.”
Hanya saja pembekalan mental untuk caleg belum ada, kata Icuk.
“Nah memang tidak secara spesifik melakukan itu [pembekalan mental], karena kami berpikir itu ranah privat.”
“Secara spesifik kami baru pembekalan dalam informasi kegiatan selama kampanye ngapain.”
Berkaca pada banyaknya caleg yang terguncang secara mental gara-gara kalah bertarung, Icuk mengakui perlunya pembekalan mental.
Hal ini pun, katanya, menjadi bahan evaluasi untuk pemilu mendatang.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
