Cara Raup Miliaran Rupiah ala Ghozali Everyday di NFT

Terkini.id, Jakarta – Beberapa hari terakhir ini, nama Ghozali Everyday melambung tinggi berkat selfie dirinya yang laris hingga miliaran rupiah.

Adapun foto selfie tersebut dijual dalam bentuk non-fungible token atau NFT bertajuk Ghozali Everyday di platform marketplace OpenSea.

OpenSea merupakan platform yang menyediakan ruang bagi penjual, pembeli, dan kreator aset digital untuk bertransaksi dengan mata uang kripto ethereum (ETH).

Baca Juga: Ngaku Jadi Korban, TKW Hongkong Gugat Yusuf Mansur: Mana Bagi...

Harga selfie pemuda 22 tahun ini dijual mulai dari 0,3 ETH atau Rp14,2 juta hingga 11 ETH setara dengan Rp47 miliar sebagaimana dilansir cnnindonesia.

Associate Professor SEB Telkom University Andry Alamsyah menilai transaksi pembelian NFT seperti selfie Ghozali termasuk dalam investasi yang menguntungkan, tetapi juga berisiko tinggi (high risk high return). Hal ini karena sulit menentukan nilai pasti sebuah produk NFT.

Baca Juga: Presiden Jokowi Undang Elon Musk ke Indonesia, Netizen: Belum Tentu...

Di sisi lain, ia melihat NFT memiliki masa depan ‘cerah’ karena ditopang oleh aset kripto. Dan juga NFT telah membuka mata masyarakat bahwa potensi dunia digital cukup besar.

Selain selfie, kreator juga bisa menjual hal beragam lainnya seperti tanah virtual hingga sepatu di dunia digital atau metaverse.

“Menurut saya bukan sekadar hype tapi membuka literasi bahwa ada ruang ekonomi di dunia digital, makanya muncul metaverse dan sebagainya dan itu karena kebutuhan sangat besar,” kata Andry, Kamis, 13 Januari 2022.

Baca Juga: Presiden Jokowi Undang Elon Musk ke Indonesia, Netizen: Belum Tentu...

Meski optimis dengan masa depan NFT dan ekosistem digital, tetapi Andry mewanti-wanti bahwa tak semua orang dapat menghasilkan miliaran rupiah dari NFT. Sebab, kasus seperti Ghozali tergolong unik dan belum tentu dapat terulang.

Pasalnya, nilai (value) NFT dilihat dari keunikan karya dan kekayaan intelektual yang dapat dibeli dari kreator. Oleh karenanya, masyarakat yang masuk ke dunia NFT harus benar-benar memahami teknologi dan ekonomi digital.

“Kalau mau trading yang perlu diketahui lihat aset yang mau dibeli, artisnya terkenal nggak? Kalau tanah di ekosistem apa? Apakah di Decentraland atau di Sandbox? Kemudian perlu tahu transaksi di mana karena penyedia transaksi banyak,” kata Andry.

Perencana Keuangan Safir Senduk menganalogikan NFT seperti koleksi. Mereka yang mengoleksi lukisan dan prangko tak segan-segan mengeluarkan dana besar untuk mendapatkan produk yang diinginkan.

Sama halnya dengan NFT, seseorang rela membeli dengan harga mahal demi mendapatkan aset digital tersebut.

Namun perlu dicatat, tak semua koleksi bisa menjadi investasi. Cara membedakannya adalah barang dibuat secara terbatas oleh orang yang punya nama dan punya nilai sejarah.

Safir juga menilai NFT bisa dijadikan instrumen investasi. Hanya saja, butuh keahlian khusus untuk mendapatkan cuan dari NFT karena pergerakan nilainya sulit diprediksi.

Misalnya, Anda membeli sebuah NFT yang setara Rp10 juta untuk dijual kembali dengan nilai lebih tinggi. Namun, NFT tersebut bisa saja tak akan laku lagi di pasaran.

“Kalau harganya jadi nol mungkin tidak, tapi kalau nggak ada yang minat beli ya nilai (ekonomi)-nya nol juga sih,” imbuh Safir.

Safir menyatakan masyarakat yang ingin mendapatkan informasi soal harga dan tahu informasi terbaru NFT harus bergabung dengan komunitas tertentu.

Menurutnya, apa yang terjadi pada Ghozali sejatinya bukan hal instan. Ghozali menghabiskan waktu lima tahun untuk membuat karya NFT.

Oleh karenanya, Safir menilai baik itu NFT atau lainnya, sejatinya tak ada cara mudah untuk menjadi kaya raya tanpa usaha.

“Yang terjadi Ghozali punya branding, dia rutin foto setiap hari dan konsisten banget, orang melihat ada potensi dan mau beli,” tutup Safir.

Bagikan