(Cek Fakta) Jokowi Ingin Bangun Industri Perikanan Sebanyak-banyaknya, Begini Faktanya

kapal nelayan
Kapal nelayan Sinjai hanya bersandar selama cuaca buruk terjadi di Sinjai / Diva

Terkini.id, Jakarta – Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, strategi untuk menjaga stabilitas harga komoditas perikanan adalah dengan hilirisasi.

“(Membangun) industri perikanan sebanyak-banyaknya,” kata Jokowi saat menjawab pertanyaan panelis di debat kelima, Sabtu 13 April 2019.

Menurut Jokowi, komoditas Indonesia sangat bergantung dari pasar luar negeri. Sehingga perlu pembangunan industri pengolahan dan pengalengan ikan. Indonesia harus mengurangi ekspor bahan mentah.

“Hilirisasi agar ekspor kita minimal barang setengah jadi,” ungkap Jokowi.

Pernyataan panelis yang dibacakan wartawan Balquis Manisang dalam debat kelima Pilpres 2019, menyebut Indonesia dikenal sebagai negara maritim dan agraris. Tapi daya beli petani dan nelayan yang pada umumnya di desa mengalami penurunan. Akibat rendahnya harga komoditas pertanian serta komoditas perikanan.

Panelis menyebut ini disebabkan kebijakan ekonomi negara maju yang agresif. Serta tata kelola dan tataniaga perikanan yang masih konvensional.

Capres Jokowi diminta mengungkapkan strategi kebijakan yang konkrit, untuk menjaga stabilitas harga perikanan. Sehingga sektor ini menarik bagi milenial.

Industri pengalengan ikan Indonesia impor bahan baku

Saat mengunjungi Pangandaran, Presiden sempat diberitahu nelayan setempat bahwa saat ini sangat sulit menemukan ikan dengan jenis tertentu / Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden
Saat mengunjungi Pangandaran, Presiden sempat diberitahu nelayan setempat bahwa saat ini sangat sulit menemukan ikan dengan jenis tertentu / Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden

Ketua Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (APIKI) Ady Surya mengatakan, 80 persen ikan yang digunakan oleh pabrik pengalengan ikan di Indonesia masih impor. Hal ini disampaikan Ady kepada Kompascom, Kamis 13 April 2018.

Data APIKI sampai tahun 2018, ada 44 jumlah pabrik pengalengan ikan di Indonesia. Sebanyak 28 pabrik kelola ikan sarden dan makerel, sisanya 16 pabrik pengalengan tuna.

Pada tahun 2017, APIKI menyebut Indonesia impor ikan sarden dan makarel sekitar 40 ribu ton. Padahal kapasitas 28 pabrik pengalengan sarden dan makarel dalam setahun bisa 235 ribu ton. Sedangkan kapasitas pengelolaan ikan tuna per tahun bisa 365 ribu ton.

“Sangat sedikit (bahan baku),” kata Ady.

Dia mengatakan, industri pengalengan ikan di Indonesia juga pernah terpukul. Karena adanya temuan cacing dalam ikan kaleng impor. Kondisi ini membuat masyarakat mengurangi konsumsi ikan kaleng.

Dalam wawancara dengan Detikcom, 15 April 2018, Ady mengatakan hanya 20 persen bahan baku yang diperoleh dari dalam negeri. Karena ikan jenis sarden dan makarel sebagai bahan baku utama hilang dari perairan Indonesia.

Ady mengatakan, belum ada teori ahli yang menjelaskan alasan ikan sarden dan makarel hilang dari perairan Selat Bali. “Sampai sekarang tidak ada keputusan penyebabnya apa,” ujar Ady.

Berita Terkait
Komentar
Terkini