Cerita di Balik Foto Orasi JK Tahun 1965, Dipilih Rektor ITB

Terkini.id, Jakarta – Foto Jusuf Kalla saat berorasi di kampus Universitas Hasanuddin tahun 1965 silam, menjadi perhatian banyak warga Indonesia.

Itu setelah foto tersebut ditayangkan saat JK dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh ITB, pada Senin 13 Januari 2020 kemarin.

Rektor ITB, Professor Kadarsah Suryadi adalah orang yang memilih foto JK tersebut ditampilkan di sela-sela penganugerahan. Apa makna penting dari foto tersebut?

Husain Abdullah, yang sebelumnya menjadi Juru Bicara saat JK menjadi Wakil Presiden RI menceritakan kisah dibalik dipilihnya foto tersebut di media sosial. Berikut catatan Husain seperti dikuti dari media sosialnya:

Professor Kadarsah Suryadi, Rektor ITB Bandung, sehari sebelum penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa, M. Jusuf Kalla, meminta beberapa foto Pak JK yang paling berkesan dan menyimpan cerita, tapi mohon dirahasiakan, begitu pesan Prof. Kadarsah yang juga disampaikan kepada Ibu Dwi, Rektor Universitas Hasanuddin.

Saya pun bergerak cepat karena harus tayang keesokan harinya. Kendatipun perlu sedikit waktu merenungkan foto mana yang terbaik dan dari mana sumbernya.

Lalu saya mengontak dua orang fotografer yang biasa meliput kegiatan Pak JK, Ade Danhur dan JeryWong.

Kepada keduanya saya menanyakan apakah punya foto Pak JK yang sedang orasi saat mahasiswa? Karena saya langsung teringat foto ikonik itu.
Ternyata keduanya tidak mengarsipkannya. Tidak apa kata saya, kirimkan saja sejumlah foto penting di antaranya foto saat Pak JK berpidato di Sidang Umum PBB, misi Perdamaian Afghanistan dll. Sembari mengejar foto orasi Pak JK karena itu salah satu jejak paling historis dan heroik dari seorang JK.

Setelah cari sana sini secara bisik bisik, akhirnya ketemu juga dari putri bungsu Pak JK sendiri, Chaerani Ade JK.
Dikirimlah sejumlah foto berikut caption ke Prof. Kadarsah lewat WA Ibu Dwi. Sayapun menyelipkan foto eksklusive yang saya jepret sendiri dari hp ketika dipanggil Pak JK ke perpustakaan pribadinya.

Saat itu Pak JK sedang menulis artikel tentang pendidikan yang awal bulan Januari diturunkan Harian Kompas, sempat memotretnya secara candid.

Foto-foto telah terkirim, tidak ada yang tau foto mana yang akan ditampilkan Prof Kadarsah Suryadi, pada pidato keesokan harinya di Aula Barat Kampus ITB, beliau sendirilah yang menyeleksinya. Yang dari sekian foto, ternyata Prof. Kadarsah menampilkan hanya 2 foto.

Foto ketika Pak JK berorasi di Lapangan Catur Unhas tahun 1965 dan di perpustakaan pribadi Pak JK hasil jepretan candid saya. Saat menampilkan foto ini, Prof. Kadarsah mengomentari bahwa sejak tahun 1965 terlihat dari foto Orasi Pak JK di Kampus Unhas, beliau sudah aktif di berbagai kegiatan Kemahasiswaan.

Bahkan hingga kini pun seperti yang terlihat dalam foto perpustakaan ini beliau aktif menulis. Seminggu sebelumnya Prof. Kadarsah mengungkapkan, sempat berbincang bincang dengan Pak JK tentang pendidikan, dan tak lama sesudah itu Pak JK rupanya menulis opini mengenai masalah tersebut.

Pilihan Prof. Kadarsah atas kedua foto ini tentu sangat beralasan. Sebagai seorang akademisi beliau ingin menunjukkan bahwa tidak ada keberhasilan yang dicapai dengan instan selain karena perjuangan, kerja keras dan belajar terus menerus, termasuk seorang Jusuf Kalla sekalipun yang sudah kaya raya sejak lahirnya.

Manusia diciptakan untuk berikhtiar sehingga tiba pada puncak pencapaiannya.

Orasi JK di Lapangan Catur Universitas Hasanuddin tahun 1965, yang saat itu memegang “jabatan” aktifis kampus sebagai Ketua Senat Fakultas Ekonomi Unhas, Ketua Cabang HMI Makassar dan Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa(KAMI), mengirim pesan kepada generasi milenial masa kini bahwa Ia telah hidup membumi, nerdampingan dan membaur dengan semua golongan masyarakat sejak masa mudanya.

Sudah menggeluti dan hadir dalam setiap pergolakan sejarah Indonesia sejak lebih 50 tahun lampau. Karena itulah JK sangat faham persoalan bangsa ini, dan tahu solusi untuk mengatasinya dan terlibat di dalamnya sebagai pemimpin untuk mengerjakan masalah masalah bangsa, secara “lebih cepat dan lebih baik.”

Jangan tidak pernah kaya sebelum tua, kata Pak JK memberi motivasi agar semua anak anak Indonesia bekerja untuk memaksimalkan resourses yang dimiliki bangsa ini.

Konversi minyak tanah ke gas yang digagas Pak JK berhasil mengantarkan bangsa Indonesia mengatasi krisis energi dan menggunakan gas yang lebih murah dan ramah lingkungan, negara menghemat puluhan triliun rupiah setiap tahunnya dari beban subsidi yang tadinya harus ditanggung negara atas penggunaan bahan bakar minyak tanah. Ketika pejabat lain tidak jarang terjebak dalam praktek praktek merugikan negara, sebaliknya JK dengan salah satu best practisenya mengkonversi minyak tanah ke gas telah memberi keuntungan besar kepada negara dan manfaat untuk rakyat banyak. Dana subsidinya pun dapat dialihkan ke bidang bidang yang lebih tepat guna serta membawa manfaat besar seperti pembangunan jalan dan jembatan atau infrastruktur pertanian.

Menurut saya, inilah pidato pengukuhan DHCnya yang paling enteng tapi paling terbukti manfaatnya diantara sederet karya JK terutama mediasi mediasi perdamaian yang sudah melekat dalam dirinya. Karena apa yang menjadi fokus ITB, berdasarkan pengalaman JK dan sukses membawa manfaat bagi orang banyak. Bukan sebuah pidato ilmiah yg mendayu dayu dan sarat teori. Tingkat kesulitannya justeru di tangan promotor yang dipimpin Peofessor Hakim Halim, sebab dituntut merumuskan narasi ilmiah untuk meyakinkan publik bahwa secara akademik M. Jusuf Kalla layak mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa atas karya karya yang ia baktikan selama lebih 20 tahun mengabdi dalam pemerintahan. Dari sederet karya itu, ditambah filosofi yang selama ini dibangun Jusuf Kalla, lebih cepat lebih baik dan lalu berkembang lagi menjadi lebih murah. Mengantarkan HakimHalim dkk, mampu meyakinkan insan akademik ITB untuk memberi pengakuan, bahwa Jusuf Kalla layak menyandang gelar doctor honoris causa dari ITB Bandung. Menarik justeru ITB memberikan gelar itu ketika JK tidak lagi jadi pemangku kepentingan di negeri ini. Ketika JK seorang rakyat biasa, yang karyanya layak dikenang dan diapresiasi.

Seorang doctor honoris causa, Ia harus mengabdi dan bekerja terlebih dahulu sebelum diuji. Sedangkan seorang doctor akademik, Ia harus belajar sebelum diuji. Selamat Pak JK atas gelar DCH yang ke 14.

Komentar

Rekomendasi

Sebelum Meninggal, Shaifuddin Bahrum Menulis Puisi Mengharukan

Kedapatan Tak Pakai Helm, Imam Masjid di Makassar Dihukum Baca Hafalan Alquran

Gowa Terpilih Sebagai Lokasi Simulasi Peringatan Dini Bencana Banjir

Siaga Bencana, Warga Gowa Lakukan Simulasi Peringatan Dini dan Evakuasi Banjir

Bunuh Bayi dari Hasil Mesum dengan Pacar, Wanita Bercadar Ini Ditangkap Polisi

Resmi Jabat Dirut Garuda, Ini Rekam Jejak dan Karir Irfan Saputra

Hendak Pamer Skill Berkendara, Wanita Berhijab Ini Malah Terjungkal dari Sepeda Motor

Adu Jotos di Pinggir Jalan, Bapak Tua Ini Tersungkur Dihajar Pria Bertato

BPPD Sulsel Berduka, Shaifuddin Bahrum Sang Sutradara Film Ati Raja Tutup Usia

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar