China Tak Khawatir ‘Efek Domino’ Dari Boikot Olimpiade Musim Dingin Beijing

China Tak Khawatir ‘Efek Domino’ Dari Boikot Olimpiade Musim Dingin Beijing

R
Muhsin Hidayat
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – China nampaknya tak peduli dengan “efek domino” yang terjadi dari boikot Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022. Saat ini Australia, Kanada, dan Inggris telah menyusul Amerika Serikat untuk tidak terlibat dalam pagelaran olahraga itu.

Boikot dimulai dari AS yang mengumumkannya pada hari Senin. Boikot diplomatik tersebut menyebabkan semakin memburuknya hubungan negeri Paman Sam dengan negeri Tirai Bambu.

Presiden AS Joe Biden melanjutkan tekanan terhadap China akibat berbagai masalah yang ada termasuk klaim wilayah maritim China di Laut China Selatan dan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Pemerintah China di wilayah Xinjiang.

“Saya tidak melihat perlu khawatir tentang efek domino,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin pada konferensi pers.

Justru menurut Wang masih banyak negara di dunia yang memberikan dukungan terhadap kesuksesan Olimpiade Beijing pada tanggal 4-20 Februari mendatang.

Baca Juga

Dilansir dari reuters.com hari Kamis 9 Desember 2021 Presiden Rusia Vladimir Putin merupakan salah satu pemimpin negara yang menerima undangan dengan terbuka.

Wang mengingatkan AS dan sekutunya akan membayar hasil dari tindakan mereka. Dan tak seharusnya menjadikan Olimpiade sebagai gerakan manipulasi politik.

Sebelumnya di hari Selasa China dengan tegas akan mengambil aksi balasan, tetapi hingga kini belum menentukan tindakan lebih lanjut.

Selain itu Wang justru mengatakan tidak memiliki rencana untuk mengundang para pejabat yang memboikot. Hadir atau tidaknya mereka, tidak akan berdampak pada kesuksesan event olahraga tersebut.

Beberapa ahli justru berpendapat kalau China peduli dengan aksi boikot yang dilakukan. Hal tersebut dapat terlihat dari aktifnya China dalam mengkritik kebijakan yang diberikan terhadapnya.

“China berharap untuk menggunakan mega-event olahraga global ini untuk menunjukkan kedudukan internasionalnya dan memperluas pengaruhnya. Boikot itu tentu merusak harapan ini dan mengakibatkan hilangnya ‘wajah’ bagi China,” kata Li Mingjiang, salah seorang profesor di Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam di Singapura.

Pemerintah China hingga hari ini membantah telah berbuat kesalahan di Xinjiang. Tuduhan pelanggaran hak asasi manusia bagi minoritas Muslim Uyghur merupakan hal yang dibuat-buat.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.