Daeng Sangnging, Tukang Bersih-bersih Sukses Sekolahkan Anaknya Hingga Cumlaude

Terkini.id, Makassar – Menjemput sang fajar di kampus peradaban. Begitulah kalimat yang dapat menggambarkan sosok Daeng Sangnging (40).

Wanita kelahiran Romang Polong, Gowa 1975 ini setiap harinya berkerja sebagai tukang bersih-bersih (Cleaning Service) di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar.

Setiap hari Daeng Sangnging bangun sebelum pukul 05.00 subuh, salat dan kemudian ke kampus. Hal tersebut sudah menjadi rutinitasnya selama kurun waktu 9 tahun terakhir.

Ya, tuntutan pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih di kampus membuatnya harus berangkat subuh ke tempat kerjanya.

Dengan jarak kampus dan tempat tinggalnya yang cukup jauh membuat Daeng Sangnging harus menempuh jarak kurang lebih 2 km dengan berjalan kaki setiap harinya.

Sebelumnya, Jumiati hanyalah seorang ibu rumah tangga yang mengurusi suami dan anaknya. Namun, tepat di tahun 2010 silam, ibu dari Anita Rahayu dan Anta Wijaya tersebu mendapatkan tawaran untuk bekerja sebagai tukang bersih-bersih di FDK.

“Sebelumnya ibu rumah tanggaji, tapi waktunya 2010 ada kasi masukka kerja disini jadi masukma, karena tidak adaji anak kecil yang ku urus, besar semuami anakku,” tuturnya dengan aksen Makassar yang kental kepada awak media, Senin, 30 September 2019.

Bekerja sebagai celaning service harus ia lakukan demi membiayai sekolah kedua anaknnya. Pekerjaan yang lain pun tak mampu ia dapatkan, mengingat bahwa dirinya hanyalah tamatan sekolah dasar (SD).

Suaminya, Ruslan, dulunya bekerja sebagai supir pete-pete (angkot) namun ada beberapa hal yang harus membuat ia berhenti dari pekerjaannya tersebut. Acap kali, Daeng Sangnging pun di antar ke tempat kerja oleh suamniya yang kini bekerja sebagai satpam.

Pemilik nama lengkap Jumiati ini mengatakan bahwa suaminya sering membantunya jika ia sedang tidak jaga.

“Iya na bantuka menyapu, jdi kalo dia menyapu saya yang mengepel. Itu klo tidak jagai toh,” kata Daeng Sangnging.

Dengan upah kerja kurang lebih Rp 500.000 – 700.000 setiap bulan membuat Daeng Sangnging harus pandai-pandai mengatur keuangan. Ia berusaha mencukupkan gajinya untuk membiayai kehidupannya sehari-hari.

“Sebenarnya tidak cukup, tapi kita yang kasi cukup-cukup toh,” ungkapnya dengan sedikit senyuman.

Sadar akan pentingnya pendidikan, Jumiati pun sukses menyekolahkan anak pertamanya hingga sarjana dengan predikat cumlude.

“Saya ingat sekali itu anakku mau sekali kuliah, jadi kubilang biarmi kuliah. Jadi kalau ada rezeki yang dikasika sama dosen itumi yang kusimpan toh untuk bayar SPP-nya anakku,” ucap Daeng Sangnging.

Sekarang, Anita Rahayu anak pertama dari Jumiati telah bekerja sebagai seorang tenaga honorer di SD Paccinnongang Unggulan.

Daeng Sangnging menuturkan bahwa semasa kuliah anaknya itu sempat lolos dalam tes wawancara beasiswa bidikmisi, namun akhirnya harus gagal mendapatkan beaisiswa tersebut karena ada beberapa faktor yang tak terpenuhi dan akhirnya hanya mendapat beasiswa dari pihak jurusannya saja.

Saat ini, sudah hampir sepuluh tahun ia bekerja sebagai tukang bersih-bersih di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, tak ada perasaan menyesal dan pengalaman tidak enak yang ia dapatkan. Ia mengatakan semua dosen, staf, dan mahasiswa selalu baik kepadanya.

Daeng Sangnging sangat bersyukur atas hidupnya sekarang, dikarenakan anaknya pertamanya sudah bekerja walapun masih berstatus honorer, kurang lebih bebannya sudah cukup berkurang dan saat ini sisa membiayai sekolah anak keduanya yang masih duduk dibangku SMA.

Citizen Reporter: Aswar Anwar

Berita Terkait
Komentar
Terkini