Dari BTS hingga Squid Game: Bagaimana Budaya Pop Korea Selatan Bisa Merajai Dunia

Dari BTS hingga Squid Game: Bagaimana Budaya Pop Korea Selatan Bisa Merajai Dunia

Effendy Wongso
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Seoul – Dari BTS hingga Squid Game: bagaimana budaya pop Korea Selatan bisa merajai dunia. Dalam sebuah drama Korea baru yang difilmkan di dalam gedung studio besar di luar Seoul, seorang detektif mengejar seorang pria yang dikutuk untuk hidup selama 600 tahun. Tembakan pistol retak. Sebuah keheningan mengikuti. Kemudian, seorang wanita menembus kesunyian, berteriak: “Sudah kubilang jangan tembak dia di jantung!”

Adegan itu difilmkan beberapa kali selama lebih dari satu jam sebagai bagian dari “Bulgasal: Immortal Souls,” sebuah serial baru yang dijadwalkan akan dirilis di Netflix pada Desember 2021.

Jang Young-woo, sang sutradara, berharap ini akan menjadi fenomena terbaru Korea Selatan untuk memikat penonton internasional.

Sejatinya, sebelum budaya K-Pop merajai dunia, Korea Selatan telah lama kesal karena kurangnya ekspor budaya yang inovatif. Selama beberapa dekade, reputasi negara ditentukan komoditas mobil dan ponselnya dari perusahaan seperti Hyundai dan LG, sementara film, acara TV, dan musiknya sebagian besar dikonsumsi pemirsa regional.

Sekarang, bintang K-Pop seperti Blackpink, drama dystopian “Squid Game“, dan film pemenang penghargaan seperti “Parasite” muncul di mana-mana seperti smartphone Samsung.

Baca Juga

Dengan cara yang sama, Korea Selatan mengadopsi budaya dari Jepang dan Amerika Serikat (AS) untuk mengembangkan kecakapan manufakturnya.

Para direktur dan produser negara tersebut mengatakan, mereka telah mempelajari Hollywood dan pusat hiburan lainnya selama bertahun-tahun, mengadopsi dan menyempurnakan formula dengan menambahkan sentuhan khas Korea.

Begitu layanan streaming seperti Netflix meruntuhkan hambatan geografis, kata pembuatnya, negara itu berubah dari konsumen budaya Barat menjadi raksasa hiburan dan pengekspor budaya utama mereka sendiri.

Dalam beberapa tahun terakhir saja, Korea Selatan mengejutkan dunia dengan ‘Parasite’, film berbahasa asing pertama yang memenangkan film terbaik di Academy Awards. Ini memiliki salah satu band terbesar, jika bukan yang terbesar di dunia dengan BTS.

Netflix sendiri telah memperkenalkan 80 film dan acara TV Korea dalam beberapa tahun terakhir, jauh lebih banyak dari yang dibayangkan ketika memulai layanannya di Korea Selatan pada 2016 lalu. Tiga dari 10 acara TV paling populer di Netflix pada Senin 1 November 2021 misalnya, dikuasai film-film dari Negeri Gingseng.

“Ketika kami membuat ‘Mr Sunshine,’ ‘Crash Landing on You’ dan ‘Sweet Home,’ kami tidak memikirkan reaksi global,” ungkap Jang, yang bekerja sebagai co-produser atau co-director di ketiga acara Netflix Korea yang sukses.

Menurutnya, pihaknya hanya berusaha membuatnya semenarik dan sebermakna mungkin.

“Dunialah yang mulai memahami dan mengidentifikasi dengan pengalaman emosional yang telah kita ciptakan selama ini,” beber Jang, seperti dikutip dari The New York Times via Todayonline.com, Sabtu 6 November 2021.

Meningkatnya permintaan untuk hiburan Korea, telah mengilhami para produser independen seperti Seo Jea-won bersama istrinya untuk menulis naskah film ‘Bulgasal’.

Seo mengatakan, generasinya melahap TV hits Amerika Serikat seperti ‘The Six Million Dollar Man’ dan ‘Miami Vice, mempelajari dasar-dasar terkait film dan bereksperimen secara kreatif dengan menambahkan sentuhan dan warna Korea.

“Ketika layanan streaming over-the-top seperti Netflix tiba dengan revolusi dalam mendistribusikan acara TV, kami siap untuk bersaing,” imbuhnya.

Sejatinya, hasil budaya Korea Selatan masih kecil ketimbang ekspor utama seperti semikonduktor, tetapi hal itu telah memberi negara semacam pengaruh yang sulit diukur. Pada September 2021, Oxford English Dictionary menambahkan 26 kata baru asal Korea, termasuk ‘hallyu’ atau gelombang Korea.

Korea Utara Sebut Invasi K-Pop sebagai Kanker Ganas

Korea Utara menyebut invasi K-Pop sebagai ‘kanker ganas’. Sementara itu, China telah menangguhkan puluhan akun penggemar K-Pop di media sosial lantaran perilaku yang diangap ‘tidak sehat’ mereka.

Kemampuan negara untuk meninju di atas bobotnya sebagai pembangkit tenaga listrik budaya kontras dengan kampanye yang dipimpin Beijing, yang tidak efektif untuk mencapai jenis kekuasaan yang sama. Pejabat Korea Selatan yang berusaha menyensor artis negara itu tidak terlalu berhasil.

Sebaliknya, para politisi mulai mempromosikan budaya pop Korea Selatan, memberlakukan undang-undang yang mengizinkan beberapa artis pop pria untuk menunda wajib militer. Bulan ini, para pejabat mengizinkan Netflix untuk memasang patung ‘Squid Game’ raksasa di Taman Olimpiade Seoul.

Keberhasilan eksplosif tidak terjadi dalam semalam. Jauh sebelum ‘Squid Game’ menjadi serial TV yang paling banyak ditonton di Netflix atau penampilan BTS di PBB, serial TV Korea seperti ‘Winter Sonata’ dan band-band seperti Bigbang dan Girls Generation telah menaklukkan pasar di Asia dan sekitarnya.

Kendati demikian, mereka tidak dapat mencapai jangkauan global yang terkait dengan gelombang saat ini. Gangnam Style dari  Psy adalah keajaiban lainnya yang dapat dilihat secara kasatmata.

“Kami senang bercerita dan memiliki cerita yang bagus untuk diceritakan. Tetapi pasar domestik kita terlalu kecil, terlalu ramai. Kami harus mengglobal,” kata Kim Young-kyu, CEO Studio Dragon, studio terbesar di Korea Selatan yang membuat lusinan acara TV dalam setahun.

Baru pada tahun lalu ketika ‘Parasite’, sebuah film yang menyoroti kesenjangan yang menganga antara kaya dan miskin memenangkan Oscar, penonton internasional benar-benar mulai memperhatikan meskipun Korea Selatan telah memproduksi karya serupa selama bertahun-tahun.

“Dunia tidak tahu tentang film-film kami, sampai platform streaming seperti Netflix dan Youtube membantu mereka menemukan film-film Korea, di mana orang menonton lebih banyak hiburan online,” beber Dr Kang Yu-jung, seorang profesor di Universitas Kangnam di Seoul.

Sebelum Netflix, sejumlah penyiar nasional tertentu mengendalikan industri televisi Korea Selatan. Penyiar tersebut telah dikalahkan platform streaming dan studio independen seperti Studio Dragon, yang menyediakan pembiayaan dan kebebasan artistik yang dibutuhkan untuk menargetkan pasar internasional.

Media Korea Selatan menyensor konten yang dianggap kekerasan atau eksplisit secara seksual, tetapi acara Netflix tunduk pada pembatasan yang tidak terlalu ketat dibandingkan yang disiarkan di jaringan TV lokal.

Para produser juga mengatakan, undang-undang sensor domestik telah memaksa mereka untuk menggali lebih dalam imajinasi mereka, menyusun karakter dan plot yang jauh lebih menarik ketimbang tema kebanyakan.

Adegan sering meluap dengan interaksi yang kaya secara emosional, atau ‘sinpa’. Pahlawan biasanya sangat ‘cacat’, orang biasa terjebak dalam situasi yang tidak mungkin, berpegang teguh pada nilai-nilai bersama seperti cinta, keluarga, dan kepedulian terhadap orang lain.

Sutradara dan produser mengatakan mereka sengaja ingin semua karakter mereka humanis dan disebut ‘berbau seperti manusia’.

Tema yang Mengangkat Isu-isu Aktual dan Perubahan Sosial

Saat Korea Selatan keluar dari pusaran perang, kediktatoran, demokratisasi, dan pertumbuhan ekonomi yang pesat, para seniman mengembangkan kepekaan yang tajam terhadap apa yang ingin dilihat dan didengar orang, dan sering kali berkaitan dengan perubahan sosial.

Sebagian besar film laris nasional memiliki alur cerita berdasarkan isu-isu yang dibicarakan orang biasa, seperti ketimpangan pendapatan dan keputusasaan serta konflik kelas yang ditimbulkannya.

Sutradara ‘Squid Game’ Hwang Dong-hyuk pertama kali membuat namanya sendiri melambung dengan ‘Dogani,’ sebuah film produksi 2011 berdasarkan skandal pelecehan seksual kehidupan nyata di sebuah sekolah tunarungu.

Kemarahan yang meluas dari film tersebut memaksa pemerintah untuk menemukan guru yang memiliki catatan pelecehan seksual terhadap anak disabilitas di bawah umur di sekolah tersebut.

Meskipun artis K-Pop jarang berbicara tentang politik, namun musik mereka telah menjadi tema-tema aktual dan telah menjadi ‘budaya protes’ yang semarak di Korea Selatan.

Ketika mahasiswa di Ewha Womans University di Seoul memulai aksi unjuk rasa kampus yang menyebabkan pemberontakan anti-pemerintah nasional pada 2016, mereka menyanyikan ‘Into the New World’ melalui Girls Generation.

Sementara, lagu ‘One Candle’ dari boyband g.o.d menjadi lagu tidak resmi untuk ‘Revolusi Cahaya Lilin’ yang menggulingkan Presiden Park Geun-hye.

“Salah satu fitur yang mendominasi konten Korea adalah daya saingnya,” kata Lim Myeong-mook, penulis buku tentang budaya anak muda Korea.

Menurutnya, hal itu menyalurkan ungkapan frustrasi rakyat, dan menggerakkan mobilitas protes ke pejabat teras.

“Ungkapan kemarahan mereka dalam lagu dan karya, merupakan motivasi yang mengajuk aktivisme massa,” beber Lim Myeong-mook.

Ia menambahkan, pandemi Covid-19 telah menjebak banyak orang di rumah saja. Mereka mencoba mengelola kecemasan besar dengan hiburan-hiburan di layar kaca. Sehingga, mereka sebagai audiens global mungkin dapat lebih menerima tema-tema itu ketimbang sebelumnya.

“Kreator Korea mahir dengan cepat menyalin apa yang menarik dari luar negeri, dan menjadikannya milik mereka dengan membuatnya lebih menarik dan lebih baik,” ungkap Dr Lee Hark-joon, seorang profesor Universitas Kyungil yang ikut menulis ‘K-Pop Idols’.

Di salah satu pembuatan serial ‘Bulgasal’, lusinan staf bergegas berkeliling untuk mendapatkan setiap detail gambar dengan tepat, di mana kabut asap memenuhi udara, tetesan air jatuh di lantai yang lembap, dan tampilan ‘sedih dan menyedihkan’ dari orang-orang yang ditembak.

Plot supernatural acara ini mengingatkan pada serial TV favorit Amerika seperti ‘X-Files’ dan ‘Stranger Things’. Kendati demikian, Jang telah menciptakan tragedi unik Korea yang berpusat pada ‘eopbo,’ sebuah keyakinan di antara orang Korea bahwa perbuatan baik dan buruk akan mempengaruhi seseorang di akhirat.

Berdasarkan kesuksesan film dan serial TV Korea baru-baru ini di luar negeri, Jang mengatakan ia berharap pemirsa akan berbondong-bondong ke serial baru mereka.

Tentu, hasilnya adalah apa yang dijual di Korea Selatan juga dapat dijual secara global!

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.