Dekan FKG Unhas Didaulat Jadi Pembicara Ajang Internasional di Nepal

FKG Unhas
Dekan FKG Unhas, drg. Ruslin, didaulat jadi pembicara di ajang internasional di Nepal

Terkini.id, Makassar – Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Hasanuddin (Unhas) drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BM(K) menjadi pembicara pada “10th Joint Scientific Meeting of NAOMS and JSOMS and Annual Meeting of NAOMS”.

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari yakni di Chitwan, Nepal yang diselenggarakan oleh Nepalese Association of Oral and Maxillofacial Surgeons (NAOMS) bekerjasama dengan Japanese Society of Oral and Maxillofacial Surgeons (JSOMS).

Dokter gigi Ruslin menjadi pembicara pada hari kedua dengan topik “Maxillofacial Fractures on Motor Vehicle Accidents; epidemiology, diagnose and prevention”.

Dalam pemaparannya, drg. Ruslin mengatakan penyebab dari fraktur (patah/retak) daerah maksilofasial diantaranya karena kecelakaan lalu lintas, terjatuh, perkelahian, cedera saat olahraga atau cedera lainnya.

Epidemiologi fraktur ini, kata drg. Ruslin, bervariasi tergantung pada letak geografis, status sosial ekonomi dan waktu dalam penelitian.

“Investigasi dari kecelakaan bermotor yang berhubungan dengan fraktur maksilofasial penting untuk diklarifikasi karena pasien dengan luka pada mulut dan maksilofasial biasanya mengalami cacat dan butuh perawatan jangka panjang,” ujar drg. Ruslin, Selasa, 4 Februari 2020.

“Ketika trauma maksilofasial terjadi, cedera yang paling banyak terjadi adalah cedera pada gigi dan wajah baik jaringan lunak maupun jaringan keras, serta paling banyak terjadi pada anak-anak dan remaja,” sambungnya.

Lanjut drg. Ruslin, hasil penelitian dari Andreasen menemukan bahwa cedera permanen gigi depan 1 diantara 4 pada remaja dan 1 diantara 5 pada anak-anak, prevalensi cidera pada gigi ini bervariasi di tiap negara, hal ini sejalan dari hasil penelitian pihaknya.

“Di sisi lain, penelitian dari peningkatan Serum NSE kepada pasien yang mengalami fraktur maxillofasial berkelanjutan menunjukkan korelasi antara peningkatan dari Level NSE serum dan lokasi fraktur maxillofasial yang diamati. Sedangkan NSE SERUM dapat juga digunakan untuk mendeteksi cedera kepala yang terjadi kepada pasien fraktur maxillofasial pada wajah saja,” jelasnya.

“Selain dari cidera kepala, pasien yang terlibat kecelakaan lalu lintas ditemukan sebagian besar tidak menggunakan helm yang standar,” pungkasnya.

Presentasi tersebut, kata Ruslin, merupakan rangkaian dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan pihaknya dan publikasikan pada jurnal international yang bereputasi (Scopus; Q1) dan telah dirujuk oleh beberapa peneliti.

Dalam acara tersebut, turut hadir pula pembicara-pembicara dari negara lain diantaranya dari Korea, Jepang, Indonesia serta dari Nepal sendiri.

Citizen Reporter: Abdul Majid Asinu (Humas FKG Unhas)

Komentar

Rekomendasi

Mahasiswa Keperawatan Unhas yang Jadi Relawan Pandemi Virus Corona dapat SKS

Ditengah “Badai” COVID-19, LTT Kecamatan Mengkendek Terus Bertambah

Cegah COVID-19, Polbangtan Gowa Lakukan Desinfeksi Berkala

Aliansi Organisasi Unibos Tuntut Kebijakan Kampus Ihwal WTH

Polbangtan Gowa dan Tim Kamtibmas Desa Mappesangka Bone Lakukan Penyemprotan Desinfektan di Kampus II

Tim Satgas Unhas Bikin Pusat Informasi Covid-19

Pandemi Covid-19 Tidak Menyurutkan Semangat Petani Kecamatan Mengkendek Tana Toraja untuk Tanam Padi

PKL di Enrekang dimanfaatkan Mahasiswa Polbangtan Gowa bersama Penyuluh malaksanakan IB dan PKB

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar