Terkini.id, Makassar – Sejumlah orang tua-anak difabel di Makassar kehilangan haknya untuk mendapat fasilitas layanan kesehatan, usai putusnya kerja sama antara Klinik Cerebellum dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Makassar.
Kepada terkini.id, para orang tua anak-anak difabel yang selama ini menjadi pasien di Klinik Cerebellum merasakan ruwetnya urusan terapi dan berobat di rumah sakit rujukan BPJS Kesehatan. Sebagian di antaranya bahkan belum mendapat haknya untuk mendapat layanan terapi, lantaran terapis di rumah sakit tersebut tidak ada.
BPJS Kesehatan sebelumnya tidak melanjutkan kerja sama dengan Klinik Cerebellum yang terletak di jalan Jl. Swadaya No.4, Kota Makassar itu, per 1 Januari 2023. Padahal, rumah sakit ini dipercaya banyak orang tua anak difabel dan pasien pasca-stroke sebagai tempat terapi pengobatan terbaik.
Khusus anak difabel, klinik ini punya lebih dari 300 pasien. Usai putusnya kerja sama dengan BPJS Kesehatan, mereka pun dirujuk ke beberapa rumah sakit atau klinik lain yang pelayanan dan fasilitasnya jauh berbeda.
Salah satu orang tua anak difabel, menceritakan anaknya yang mengalami perubahan yang baik selama menjalani terapi di RS Cerebellum.
“Anak saya masuk di Cerebellum sejak November tahun lalu. Waktu itu didiagnosa speech delay. Jadwal terapinya tiga kali seminggu, sudah bagus perkembangannya kalau bicara, dia dapat mental support yang bagus. Kemudian setelah putus kerja sama, kita dirujuk ke Hermina,” ungkap dia.
Saat di rumah sakit lain itu, dia kaget karena anaknya didiagnosa mengalami ADD, yakni gangguan perkembangan yang menyebabkan anak sulit mempertahankan atau memusatkan perhatian. Gangguan yang lebih parah dari speech delay.
“Kita heran, karena kalau ADD, kenapa selama proses terapi, justru bagus sekali perkembangannya. ADD itu kan lebih riskan,” ungkap dia.
Belum lagi, dari dua jenis terapi yang harus diikuti anaknya, satu jenis terapi belum dia terima, yakni terapi okupasi (OT). “Anakku harus terapi wicara (TW) dan OT. Ini sudah tiga minggu mi nda pernah terapi OT karena terapisnya tidak ada,” ungkap dia lagi.
Hal lain yang dia keluhkan adalah, SDM yang minim. “Di Cerebellum, itu untuk terapi wicara (TW) satu ruangan satu terapis. Tapi di Hermina, satu ruangan ada 3 terapis di dalam. Kadang ada 4 sampai 5 pasien dalam satu ruangan, jadi anak-anak nda fokus,” ungkap dia.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
