Di Balik Geliat Ekonomi Lutim: Sentuhan Perusahaan Tambang yang Menaikkan Taraf Hidup Warga Pesisir Matano

Di Balik Geliat Ekonomi Lutim: Sentuhan Perusahaan Tambang yang Menaikkan Taraf Hidup Warga Pesisir Matano

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

DI balik hijau dan jernihnya hamparan Danau Matano, Luwu Timur, ada cerita tentang bagaimana program pemberdayaan bisa mengubah nasib masyarakat dan wajah lingkungannya, jika program itu dikelola dengan baik dan tepat.

Luwu Timur, daerah yang dikelilingi gugusan pegunungan yang kaya dengan sumber daya mineral serta keanekaragaman hayati, tumbuh menjadi kunci masa depan Indonesia. Daerah yang merayakan Ulang Tahun ke-22 pada 3 Mei 2025 lalu itu, mencatat lompatan besar dari sisi investasi ekonomi.

Dinas Penanaman Modal Provinsi Sulsel, bahkan menempatkan Luwu Timur sebagai daerah nomor urut dua dengan realisasi investasi terbesar setelah Makassar.

Tentu saja, penggeraknya adalah sektor pertambangan. Di Sorowako, salah satu kawasan di Bagian utara Luwu Timur, perusahaan tambang PT Vale Indonesia (Tbk) sebagai bagian dari Group Mining Industry (MIND ID) sudah beroperasi sejak 56 tahun lalu. Keberadaan perusahaan ini sudah memberi banyak multiplier effect ke penyerapan tenaga kerja, infrastruktur, hingga fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Investasi yang dikeluarkan perusahaan juga bukan main. Setidaknya ada dua proyek besar yang sedang dikembangkan PT Vale dalam beberapa tahun belakangan di Luwu Timur. Itu adalah proyek eksplorasi di Blok Tanamalia dan Industri Smelter HPAL Limonite Ore Sorowako.

Baca Juga

Tapi investasi tambang di Lutim itu cerita yang sudah sangat populer. Hal lain yang tak kalah penting dan jarang diceritakan adalah langkah nyata perusahaan tambang itu mengubah daerah terisolasi menjadi terhubung, mengangkat harkat dan kesejahteraan masyarakat, merehabilitasi sungai, hingga menanamkan budaya baru bertani yang ramah ekologi dan menjaga kearifan lokal.

Matano Iniaku: Contoh Konkret Pemberdayaan Masyarakat di Tepian Danau

Di Balik Geliat Ekonomi Lutim: Sentuhan Perusahaan Tambang yang Menaikkan Taraf Hidup Warga Pesisir Matano
Wisatawan menikmati kejernihan dan dinginnya air sungai Laa Waa River Park di Matano, beberapa waktu lalu.(terkini.id/hasbi)

Matano Iniaku –daerah yang membuat PT Vale Indonesia menjadi perusahaan nikel pertama di Indonesia yang diganjar penghargaan PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup pada 2024, bukan cuma destinasi wisata di Luwu Timur. Vale tidak cuma mempercantik bagian Hilir Sungai Laa Waa dan ‘membranding’-nya menjadi Laa Waa River Park yang eksotis.

Di tempat yang hanya bisa dijangkau dengan rakit selama 60 menit dari dermaga PT Vale Indonesia itu, perusahaan melakukan berbagai intervensi ekologis, sosial, hingga ekonomi yang terukur dan memberi dampak luas bagi masyarakat Dusun Matano.

Dahulu, kehidupan di Matano Iniaku berjalan lambat, dengan tantangan yang tak ringan. Tidak ada akses jalan darat yang layak, jaringan komunikasi tidak tersedia, dan kebutuhan pokok harus didapat dengan menyeberangi danau sebelum ombak tinggi datang selepas pukul dua siang.

Banyak yang terpaksa pindah demi kehidupan yang layak. Anak-anak harus berjalan jauh untuk sekolah, dan masyarakat menggantungkan hidup dari berkebun lada secara monokultur—yang dari waktu ke waktu mulai menimbulkan dampak lingkungan seperti erosi, longsor, dan penurunan kualitas tanah.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.