Masuk

Diduga Terlibat Pungli Terhadap Narapidana, Kalapas Parepare dan Takalar Dinonaktifkan

Komentar

Terkini.id, Makassar – Diduga terlibat pungli, Kepala Lembaga Pemasyarakatan atau Kalapas di Parepare dan Takalar dinonaktifkan dari jabatannya

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkumham Sulawesi Selatan yakni Suprapto mengungkapkan, keduanya dinonaktifkan mulai hari Senin, 1 Agustus 2022. Penonaktifan tersebut dilakukan sampai proses pemeriksaan selesai.

“Dua orang Kepala Lembaga Lapas Parepare dan Takalar sedang diperiksa. Untuk sementara dua-duanya kita nonaktifkan untuk pemeriksaan,” ungkap Suprapto saat ditemui di kantornya, Senin, 1 Agustus 2022, dilansir SuaraSulsel.id

Baca Juga: Polisi Akhirnya Pecat Pelaku Pungli Ke Komika Soleh Solihun

Suprapto menjelaskan, pihaknya mendapat laporan soal dugaan pungli yang menyeret dua Kalapas di Sulsel. Mereka kemudian membentuk tim untuk mengungkap kasus tersebut.

Sementara itu, kasus yang di Takalar, ada oknum petugas lapas yang diduga meminta uang ke keluarga salah seorang napi yang Jumlahnya Rp15 juta.Hal tersebut dibuktikan dengan kwitansi dengan jumlah nominal tertentu. Namun, tidak ada nama penerima dan pemberi yang tercantum pada kwitansi tersebut.

“Yang terima juga nama tidak terlihat karena kwitansinya robek. Ada nama saksi juga ditulis, tapi tidak diketahui siapa namanya. Hanya tertulis saksi dan tandatangan,” jelasnya

Baca Juga: Hadi Tjahjanto Kembali Beri Ancaman Keras: Tidak Ada Ampun, Saya akan Pecat!

Kwitansi itu, kata Suprapto tidak bisa dijadikan barang bukti kuat. Namun, pihaknya tetap melakukan pendalaman, karena ada nama anggota Lapas berinisial E yang tertulis di kwitansi tersebut.

“Barang bukti itu tidak kuat. Namun demikian, karena di dalam menyebut nama seorang pegawai inisial E, jadi kami menelusuri kejadian itu. Siapa tahu itu benar,” ungkapnya.

Uang itu diminta sebagai jaminan agar narapidana tersebut bisa bebas saat remisi 17 Agustus mendatang. Awalnya, oknum petugas diduga meminta Rp20 juta. Namun tidak disanggupi oleh keluarga Napi. Mereka hanya mampu Rp15 juta.

Kalapas Parepare, Zainuddin juga dilaporkan hal yang sama. Pekan lalu, puluhan keluarga narapidana melakukan aksi unjuk rasai di depan Kantor Lapas Kelas II Parepare.

Baca Juga: Kekurangan Tenaga IT, Rusia Pekerjakan Narapidana

Kasusnya sama. Ada dugaan pungli. Kata Suprapto, keduanya sudah diperiksa dan menyangkal. Mereka tidak mengakui soal dugaan pungli.

“Mereka mengatakan tidak benar. Tapi kami tidak berhenti sampai di situ. Kami akan mendalami dan akan terus melakukan pemeriksaan dengan orang-orang yang ada kaitannya dengan itu,” jelasnya.

Soeprapto mengakui ada kendala pemeriksaan. Karena keluarga narapidana yang berbicara ke media adalah anonim. Mereka tidak diketahui.

“Napinya gak jelas. Misal, yang dijelaskan di kwitansi ada nama Dari. Tapi saat dicek tidak ada itu nama Dari di sana (lapas),” ungkapnya.

“Tapi sebagai pertanggungjawaban, Kepala Kanwil menarik dua-duanya (dua kepala Lapas) untuk melancarkan pemeriksaan,” jelas Suprapto.