Dihantam 60 C, Negara Ini Memiliki Lonjakan Kematian Cukup Tinggi dari Covid-19

Dihantam 60 C, Negara Ini Memiliki Lonjakan Kematian Cukup Tinggi dari Covid-19

SW
R
St. Wahidayani
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Akibat perubahan iklim yang terjadi beberapa hari belakangan. Dinformasikan bahwa kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (Middle East and North Africa/MENA) diprediksi akan mengalami gelombang panas.

Di mana MENA sendiri telah menjadi wilayah terpanas dan terkering di planet ini, hingga beberapa daerah tidak dapat dihuni dalam beberapa dekade mendatang karena suhunya berpotensi mencapai 60 derajat Celcius atau lebih tinggi.

Selain itu, Dampaknya akan sangat menghancurkan, termasuk kekurangan air kronis, ketidakmampuan untuk menanam makanan karena cuaca dan kekeringan ekstrem, lonjakan kematian terkait panas serta masalah kesehatan.

Dalam studi terbaru di jurnal Nature, sekitar tahun 2100 mendatang, sebanyak 600 juta penduduk, atau 50% dari populasi wilayah tersebut, mungkin terkena peristiwa cuaca “super-ekstrem” jika proyeksi gas rumah kaca saat ini terus berlanjut.

“Berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, panas terik akan berpotensi mengancam jiwa manusia,” kata para ilmuwan.

Lanjut “Kami mengantisipasi bahwa suhu maksimum selama … gelombang panas di beberapa pusat perkotaan dan kota-kota besar di MENA dapat mencapai atau bahkan melebihi 60°C, yang akan sangat mengganggu masyarakat,” tuturnya. Dikutip dari CNBC. Selasa, 9 November 2021.

George Zittis, penulis utama studi tersebut, mengatakan kelembaban yang lebih tinggi dari peningkatan penguapan laut di sekitarnya akan meningkatkan bahaya.

“Tekanan panas selama musim panas akan mencapai atau melebihi ambang batas kelangsungan hidup manusia, setidaknya di beberapa bagian wilayah dan untuk bulan-bulan terpanas,” ujar Zittis.

Pusat-pusat kota besar di sekitar Teluk, Laut Arab, dan Laut Merah – seperti Dubai, Abu Dhabi, Doha, Dhahran, dan Bandar Abbas – semuanya akan lebih sering mengalami suhu yang parah.

Sekitar 70% dari negara-negara yang paling mengalami kesulitan air di dunia berada di MENA. Saat iklim semakin menghangat, dampak sosial dan ekonomi akan semakin parah.

Lebih dari 12 juta orang di Suriah dan Irak kehilangan akses ke air, makanan dan listrik karena kenaikan suhu, rekor tingkat curah hujan yang rendah, dan kekeringan, yang membuat orang-orang di seluruh wilayah kekurangan air minum dan pertanian.

Suriah saat ini menghadapi kekeringan terburuk dalam 70 tahun. Para kelompok bantuan menggambarkan situasi tersebut sebagai “bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

Meningkatnya kekurangan air telah disalahkan untuk memicu konflik regional. Beberapa peneliti khawatir bahwa memperebutkan sumber daya yang langka akan meningkat di seluruh MENA saat dunia semakin memanas.

Kelangkaan air juga akan menjadi beban keuangan dengan perkiraan yang menunjukkan MENA akan paling menderita dari wilayah mana pun di seluruh dunia, merugikan pemerintah 7-14% dari produk domestik bruto mereka pada tahun 2050.

Sementara bagi umat Islam di seluruh dunia, berpartisipasi dalam haji di Arab Saudi akan membutuhkan inovasi yang sangat adaptif untuk melindungi jemaah dari kondisi panas.

Diperkirakan dua hingga tiga juta Muslim melakukan haji setiap tahun dengan masing-masing menghabiskan 20-30 jam di luar selama periode lima hari.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.