China Alami Krisis Listrik! Apa Kabar Matahari Buatan?

China Alami Krisis Listrik! Apa Kabar Matahari Buatan?

SW
St. Wahidayani
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, JakartaKrisis listrik yang sedang melanda diberbagai Negara bahkan merugikan pertumbuhan ekonomi disetiap Negara termasuk Indonesia. Kini China juga telah diprediksi mengalami risiko stagflasi selama beberapa kuartal ke depan.

Hal tersebut disebabkan karena di China memiliki harga produsen melonjak 10,7% pada September 2021 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Akibatkan dalam makroekonomi, stagflasi dan kontraksi terjadi secara bersamaan.

Sementara itu, pemadaman listrik di seluruh negeri mendorong beberapa bank besar untuk memangkas perkiraan PDB untuk China.

Lantas bagaimana kabar matahari buatan China yang diklaim bisa memberikan pasokan energi besar bagi China?

Matahari buatan China disebut-sebut dapat menyinari negara tersebut selama satu dekade alias 1 dasawarsa (10 tahun). Tapi tentunya, ini bakal terjadi jika proyek tersebut mendapatkan persetujuan akhir dari pemerintah di bawah kendali Presiden Xi Jinping.

Baca Juga

Teknologi fusi sendiri dikenal sebagai matahari buatan, disebut dapat menyediakan pasokan energi bersih tanpa akhir dengan mensimulasikan fusi nuklir di matahari.

Oleh Karena itu, Pemerintah meminta para ilmuwan untuk membuat persiapan untuk China Fusion Engineering Testing Reactor (CFETR), termasuk merancang teknik dan membangun fasilitas pengujian besar di kota Hefei, Provinsi Anhui.

Namun, Menurut Song Direktur Institut Fisika Plasma di Hefei, persetujuan akhir masih tertunda, karena tujuannya agar CFETR menjadi fasilitas pertama yang menghasilkan listrik dengan panas fusi. Dikutip dari CNBC. Jumat, 29 Oktober 2021.

Rencana ini membawa serta tantangan yang ada yakni mengendalikan gas yang sangat panas, hidrogen, dengan suhu di dalam reaktor yang diperkirakan mencapai atau melebihi 100 juta derajat Celcius.

Sementara analis senior untuk keuangan makro China di Autonomous Research, Charlene Chu mengatakan Ekonomi China menghadapi banyak tantangan. Pertumbuhan 4,9% pada tahun yang tercatat pada kuartal ketiga adalah yang paling lambat dalam setahun terakhir.

Selain krisis listrik yang berdampak pada produksi pabrik, perlambatan di sektor real estat juga mengurangi pertumbuhan ke permukaan dalam beberapa bulan terakhir pasca Evergrande dan pengembang lainnya memiliki banyak utang.

Chu juga mengatakan perlambatan di sektor real estate sangat membebani pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

“Saya tidak berpikir pihak berwenang ingin menciptakan krisis kepercayaan di seluruh sektor pengembang,” kata Chu lagi menambahkan negara itu belum mencapai titik di mana kepercayaan di pasar properti utama runtuh.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.