Terkini.id, Jakarta – Anggota Tim Pembela Ulama Eggi Sudjana, membantah adanya dugaan penyebaran ujaran kebencian terhadap KSAD Jenderal Dudung yang ditudingkan kepadanya.
Hingga kini, ia pun masih merasa heran dan bertanya-tanya dimana letak kesalahannya sehingga harus dilaporkan ke Polda Metro Jaya.
“Saya belum paham kenapa dilaporkan. Bagian yang mana dari konteks yang saya bicarakan. Kalau dalam istilah hukum, locus, deliknya apa, di mana saya bicara? Kenapa dilaporkan gitu,” kata Eggi dalam Catatan Demokrasi tvOne, Selasa 21 Desember 2021.
Dalam kesempatan itu, Eggi yang dihadapkan langsung dengan sang pelapor yaitu Husin Shihab bertanya soal legal standing pelaporannya.
“Sehingga dipertanyakan, apa motivasi membuat laporan itu. Apakah justru ini yang mendatangkan kegaduhan? Karena setelah saya ngomong itu nggak ada masyarakat yang gaduh, biasa-biasa aja,” ujarnya.
- Jokowi Absen di Sidang Ijazah Palsu, Penggugat Sindir Reunian UGM
- Penggugat Ijazah Palsu Jadi Tersangka Dugaan Penistaan Agama, Eggi Sudjana: Mengacu Pada Kasus
- Sindir Pemerintah, Eggi Sudjana: Ketuhanan yang Maha Esa Sudah Berubah Jadi Keuangan yang Maha Kuasa
- Eggi Sudjana: Ketuhanan yang Maha Esa Sudah Berubah Menjadi Keuangan yang Maha Kuasa
- Bela Terdakwa Penganiaya Ade Armando, Eggi Sudjana: Harusnya Dia Dibebaskan!
Ia menekankan, bahwa pihaknya mengganggap Dudung sebagai saudara, bukan musuh atau sebagainya. Bahkan, ia menyebut dirinya dan Dudung berasal dari suku yang sama yaitu suku Sunda.
“Karena yang saya juga mendengar dan membaca, melihat apa yang disampaikan saudaraku. Jangan lupa Dudung itu saudaraku, bukan musuh, bukan apa. Bahkan, kalau konteksnya sama-sama orang Sunda,” tutur Eggi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan faktor dirinya mengkritik omongan Dudung. Ia pun menegaskan bahwa sebenarnya tak ada masalah saat Dudung mengaku berdoa dengan bahasa Indonesia sebab Tuhan maha mengerti.
“Nah, berdoa dalam Bahasa Indonesia ini nggak ada masalah. Sampai di situ clear. Mau doa dalam Bahasa Indonesia, Allah maha mengerti,” imbuhnya
Namun, kata dia, kalimat ‘Tuhan bukan orang Arab’ itu yang disorotnya. Alasannya karena Tuhan tidak bisa disetarakan dengan makluk.
“Tapi, ketika Tuhan itu bukan orang Arab. Nah, itu kan, Allah itu khaliq. Orang itu makhluk. Nggak mungkin mensetarakan Allah dengan makhluknya sebagai pencipta. Jadi, dataran berpikir saya harus dipahami sebagai catatan demokrasi,” ucapnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
