Oleh: Dewi Setiawati
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar
“Terima kasih banyak, Dokter.”
Kalimat sederhana itu hampir setiap hari terdengar di ruang-ruang perawatan. Bagi sebagian orang, ucapan tersebut merupakan bentuk penghargaan kepada tenaga medis.
- MTQ VIII KORPRI di Makassar, Sejumlah Lokasi Parkir Disiapkan untuk Peserta dan Tamu
- Asmo Sulsel Bagikan Pesan Keselamatan: Jangan Biarkan Handphone Ganggu Fokus Berkendara
- Makin Kritis! Keluarga Besar, Parpol, Anggota DPRD hingga Sejumlah ASN Dikabarkan Tak Percaya Bupati Gowa
- Demi Kualitas Hidup Masyarakat, PT Vale-Kodim 1412 dan Pemkab Kolaka Wujudkan Hunian Layak dan Akses Kesehatan
- PLN Mobile Padel Competition 2026 'Smash Your Energy' Dimulai, Kolaborasi PLN dengan 52 Instansi
Namun, bagi saya, kalimat itu selalu menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang dokter bukan semata hasil kemampuan pribadi, melainkan buah dari pertolongan Allah, ilmu pengetahuan, kerja sama tim, serta ikhtiar yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Pengalaman mendampingi pasien yang berhasil melewati masa kritis setelah mengalami perdarahan hebat pascapersalinan kembali mengingatkan saya pada satu pertanyaan mendasar: mengapa profesi ini disebut dokter?
Menariknya, istilah “dokter” tidak berasal dari dunia pengobatan. Kata tersebut berakar dari bahasa Latin docēre, yang berarti mengajar atau mendidik.
Dari akar kata itu lahir istilah doctor, yang pada awalnya merupakan gelar bagi seseorang yang memiliki otoritas mengajar di universitas. Gelar ini diberikan kepada para cendekiawan di bidang teologi, hukum, maupun kedokteran.
Seiring perkembangan zaman, masyarakat kemudian lebih mengenal para lulusan kedokteran dengan gelar Doctor of Medicine, hingga akhirnya kata “doctor” identik dengan profesi medis.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
