Terkini.id, Jakarta – Seperti diketahui, virus Covid-19 varian Omicron beberapa waktu lalu telah memasuki Indonesia sehingga sukses membuat masyarakat panik.
Pasalnya, Covid-19 jenis Omicron disebut-sebut sebagai varian yang sangat berbahaya bagi mereka yang sampai tertular.
Nah, menanggapi hal itu, akhirnya juru bicara Kementerian Kesehatan RI, yakni Siti Nadia Tarmizi, buka suara.
Namun, secara mengejutkan ia justru mengemukakan bahwa 74 persen dari total 68 kasus Omicron di Indonesia dialami pasien yang telah menerima vaksin dosis lengkap dengan kondisi tanpa gejala dan ringan.
“Artinya, varian Omicron memiliki tingkat penularan yang tinggi, tapi dengan risiko sakit berat yang rendah,” ungkapnya, dikutip terkini.id dari Antara via Voi pada Jumat, 31 Desember 2021.
- Gejala Omicron Mengalami Peningkatan 21 Kasus BA.4, 122 Kasus BA.5
- PPKM Level 3 Diberlakukan, Ini Aturan Resepsi Pernikahan Terbaru!
- PTM di Jakarta Masih Dilaksanakan saat Covid Meroket, Ahli Kritik Keras
- Angka Covid-19 Terus Meningkat di Indonesia, Fadli Zon : Hapus Saja Karantina
- Omicron Mendominasi di Ibu Kota, 92 Persen Kasus Berasal dari Transmisi Lokal
“Walaupun begitu, masyarakat tetap harus waspada karena situasi dapat berubah dengan cepat.”
Nadia mengatakan dalam waktu dua pekan, tepatnya 26 Desember 2021, 46 kasus Omicron terdeteksi di Indonesia.
15 orang di antaranya (32,6 persen) merupakan pelaku perjalanan dari Turki. Sisanya adalah kasus konfirmasi Omicron yang berasal dari pelaku perjalan dari Inggris, UEA, Arab Saudi, Jepang, Malaysia, Malawi, Republik Kongo, Spanyol, USA, Kenya, Korea, Mesir, dan Nigeria.
Ia mengatakan sebanyak 74 persen kasus Omicron sudah divaksin lengkap, 80 persen tanpa gejala atau bergejala ringan, dan 96 persen kasus adalah WNI.
Hingga 29 Desember 2021, kata Nadia, ada penambahan kasus konfirmasi Omicron di Indonesia sebanyak 21 kasus yang merupakan pelaku perjalanan luar negeri sehingga total kasus Omicron sebanyak 68 orang.
Berdasarkan laporan dari WHO HQ. Enhancing readiness for Omicron (B.1.1.529): Technical Brief and Priority Actions for Member States, 23 Desember 2021, disebutkan varian Omicron memiliki karakteristik penularan yang lebih cepat daripada varian Delta pada negara-negara yang telah mengalami transmisi komunitas.
Di Inggris, tingkat keparahan varian Omicron menyebabkan 29 kematian. Estimasi risiko masuk perawatan gawat darurat Omicron 15-25 persen lebih rendah dibandingkan Delta.
Estimasi risiko hospitalisasi atau rawat inap satu hari atau lebih akibat Omicron mencapai 40-45 persen lebih rendah.
Sebagai informasi, mutasi Omicron mengurangi efektivitas antibodi monoklonal termasuk Ronapreve atau kombinasi Casirivimab dan Imdevimab.
Data awal menunjukkan Sotrovimab masih bisa menghambat Omicron dibandingkan antibodi monoklonal lainnya.
Data WHO dari penghitungan prediksi peningkatan kasus akibat Omicron dibandingkan dengan Delta dan dengan mempertimbangkan tingkat penularan dan risiko keparahan, maka didapati hasil kemungkinan akan terjadi peningkatan penambahan kasus yang cepat akibat Omicron.
“Akan tetapi diiringi dengan tingkat penggunaan tempat tidur rumah sakit atau ICU yang lebih rendah dibandingkan dengan periode Delta,” ujarnya.
Oleh karena itu, Kemenkes mendorong upaya pencegahan dan pengendalian serta upaya mitigasi lainnya harus tetap berjalan optimal untuk mengantisipasi potensi gelombang lanjutan pada 2022.
Nadia juga mengingatkan bahwa kasus Omicron telah terjadi transmisi lokal di Indonesia sehingga asyarakat diminta waspada dan tetap disiplin protokol kesehatan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
