Terkini, Makassar — Kinerja ekspor Sulawesi Selatan mengalami tekanan berat sepanjang awal tahun ini. Penurunan paling tajam tercatat pada dua komoditas unggulan daerah, yakni besi baja dan nikel, yang berkolerasi dengan terhentinya produksi industri nikel di Bantaeng, PT Huadi Nickel Alloy dan isu pemutusan hubungan kerja ribuan karyawan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Sulsel pada Januari–Mei 2025 cuma mencapai US$636,65 juta. Angka ini menurun signifikan sebesar 20,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Penurunan terbesar disumbangkan oleh komoditas besi dan baja yang ambles 25,20 persen menjadi US$144,29 juta. Sementara ekspor nikel turun 13,97 persen menjadi US$56,07 juta secara year-on-year (yoy).
Terkait turunnya ekspor nikel dan bahan baku besi, salah satu perusahaan pengolahan nikel di Sulsel, PT Huadi Nickel Alloy Indonesia, yang selama ini memproduksi produk turunan nikel seperti nickel pig iron dan feronickel, membuat keputusan merumahkan ratusan karyawannya.
Arief R Pabettingi, Ketua Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) Sulsel sekaligus pengurus pusat Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), ikut menanggapi masalah beratnya komoditas tersebut, lantaran pasarnya memang turun secara global.
- BPJS Ketenagakerjaan dan Pemkot Makassar Hadirkan Program Makassar Berjasa untuk 81.500 Pekerja Rentan
- PT Kalla Inti Karsa Borong Empat Penghargaan Indonesia Sustainability Award 2026
- Wali Kota Makassar: Sensus Ekonomi 2026 Kompas Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Makassar
- Great World Circus 2 On Ice Kembali Hadir di Makassar, Hadirkan Sensasi Musim Dingin dan Atraksi Kelas Dunia
- Kampanyekan #Cari_Aman, Asmo Sulsel Ajak Pengguna PCX160 Nikmati Wisata Alam Bersama Keluarga
Menurut dia, harga nikel banyak kondisi geopolitik negara tujuan ekspor.
“Ekspor ini urusannya luas, terkait dengan stabilitas dan kondisi keamanan global, khususnya negara-negara tujuan. Apalagi, kita tahu terjadi perang Ukaina-Rusia, perang di Kawasan Timur Tengah, itu sangat mempengaruhi,” ungkap dia.
Dari sejumlah komoditas yang dicatat oleh BPS Sulsel, komoditas seperti garam, belerang, dan kapur tetap tumbuh 50,33 persen atau setara US$8,89 juta.
Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah strategis untuk memitigasi dampak ekonomi dan sosial dari penurunan ekspor ini.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
