Foto: Jam Tangan dan Berbagai Aksesoris Cantik Ini Terbuat dari Lumpur Lapindo

instagram.com/luico.co

Terkini.id, Sidoarjo – Semburan lumpur panas atau biasa disebut Lumpur Lapindo di Sidoarjo sudah menjadi musibah bagi sejumlah warga di daerah tersebut.

Namun, meskipun itu adalah masalah, beberapa anak muda tak patah semangat untuk berkreatifitas menjadikannya peluang.

Sejak bencana lumpur tersebut tahun 2006 silam, banyak rumah terendam lumpur.

Namun, beberapa anak muda yang digawangi Dzai Dzul Zakaria, yang kini menjadi founder sekaligus CEO luido.co, melihat peluang dari pemanfaatan lumpur Lapindo untuk dijadikan kerajinan bernilai tinggi.

Dilansir dari detikfinance, Dzai bercerita pembuatan kerajinan dari lumpur Lapindo tersebut bermula dari tugas akhir bersama lima rekannya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) Jurusan Desain Produk Industri.

instagram.com/luico.co
instagram.com/luico.co

“Dulu awalnya dari proyek tugas akhir skripsi saya di kuliah, jadi awalnya eksperimen-eksperimen di workshop kampus, kira-kira akhir 2016. Begitu sudah lulus kami memutuskan untuk diseriusi. Itu karena respons dari luar sangat bagus,” katanya Jumat 1 Februari 2019.

Lumpur Lapindo menjadi bahan baku tim Dzai karena merasa fenomena tersebut tidak biasa. Apalagi, dampak semburan masih terasa sampai sekarang ini.

Sebagai mahasiswa, timnya mencoba melihat fenomena lumpur Lapindo dari sudut pandang lain yakni, bagaimana memanfaatkan lumpur sehingga menjadi produk bernilai dan diterima masyarakat. Kemudian, tercetuslah untuk memanfaatkan lumpur jadi produk fashion.

Butuh Modal Besar

instagram.com/luico.co

Menurut dia, Menyulap lumpur menjadi produk fashion butuh biaya yang tidak sedikit. Untuk itu, Dzai mencari bantuan dana supaya bisa mengembangkan produk. Bantuan dana itu kemudian menjadi modal awal Dzai membangun luido.co.

“Jadi ketika skripsi itu dulu saya mengajukan dana ke Kemenristekdikti karena saya merasa untuk riset dan eksperimen butuh dana yang lumayan, tetapi setelah mendapat dana kita harus menjadikannya produk jadi yang layak jual. Nah dari situ awal mulanya bikin brand sendiri,” kata dia.

“Modal awal waktu mengajukan dana itu sebesar Rp 11 juta,” sambungnya.

Dzai bilang, awalnya ia hanya memproduksi kalung, gelang, dan anting. Produk pun kemudian berkembang menjadi jam hingga dekorasi rumah.

Soal tahapan produksi, mulanya Dzai mengambil lumpur di lokasi. Pada tahap ini Dzai melibatkan warga untuk pengolahan awal.

Proses selanjutnya, material dibawa ke workshop yang berlokasi di Jalan Ngagel Timur 46-48 Surabaya. Di tempat kerja tersebut, material diolah dan dibentuk sesuai kebutuhan. Lalu, masuk ke proses penyelesaian atau finishing.

Material-material kemudian dirakit sesuai kebutuhan dari jam tangan, jam meja, kalung, dan lain-lain.

“Untuk satu produk rata-rata 3 sampai 5 hari kerja, awal produksi itu kalung sama gelang, ada yang desain dari kita, ada yang custom bentuk. Yang paling susah ketika mencari formula yang paling optimal untuk membuat produknya kuat tapi juga punya estetika,” terangnya.

Harga produk kerajinan yang dijual Dzai variatif. Untuk aksesoris antara Rp 90.000-120.000, tatakan gelas Rp 30.000, lampu meja Rp 190.000.

“Untuk awal-awal kita masih belum bisa dikatakan dapat omzet, mungkin hanya sekitar Rp 1 juta-an per bulannya, untuk sekarang omzet Rp 10-15 juta,” ujarnya.

Produk Dzai kebanyakan masih dijual secara online melalui Instagram @luido.co. Serta, di Tokopedia dan qlapa.com dengan akun luido.co.

Dzai berpesan, untuk memulai usaha terpenting ialah niat. Kemudian, banyak bergaul sesama dengan pengusaha untuk membuka jaringan.

“Terpenting itu perbanyak relasi atau bergaulnya ya di lingkungan entrepreneur biar nyambung dan saling support tentunya,” tutupnya.

Berita Terkait
Direkomendasikan
Komentar
Terkini