Gatotkaca dan Prabowo Subianto

Prabowo menari gatotkaca saat kampanye Pilpres 2014 silam.

GATOTKACA dan Prabowo Subianto merupakan dua tokoh yang tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Kesatria, kata yang tepat untuk menggambarkan keduanya. Jika Gatotkaca sebagai kesatria Bharatayuda, Prabowo di mata pendukungnya adalah kesatria pada Pilpres 2019.

Prabowo berpasangan Sandiaga Uno bertarung melawan Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin. Hasilnya, Prabowo-Sandi kalah. Namun meskipun kalah, semangat Prabowo tidak surut sejengkal pun untuk membangun bangsa Indonesia. Hal ini bisa dilihat pemberitaan media massa yang tetap gencar mengungkapkan ketegaran Prabowo.

Hingga akhirnya kabinet baru di bawah kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf pun terbentuk. Melalui lobi politik yang panjang, Prabowo kemudian menjadi bagian dari kabinet sebagai Menteri Pertahanan.

Banyak pujian atas posisi itu, tetapi tidak sedikit juga cibiran yang ditujukan kepadanya. Bagi pemujanya, Prabowo kembali menunjukkan sikap kesatrianya. Demi pengabdian pada bangsa, Prabowo kini jadi anak buah Jokowi.

Sikap tegar Prabowo tidak lepas dari sosok Prof. Dr. Margono Djojohadikusumo (alm). Dia adalah eyang Prabowo yang mendirikan Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) dan Bank BNI 46. Kecintaan pada bangsanya yang begitu besar, Margono berharap turun pada anak cucunya. Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo (alm), adalah anak Margono yang kemudian sebagai begawan ekonom terkenal pada masa Presiden Soeharto.

Sejatinya eyang Margono inilah yang mengajarkan budaya Jawa kepada Prabowo kecil dengan menari atau berjoget ala Gatotkaca setiap kali menyambut kedatangan cucunya.

Kebiasaan ini ditiru Prabowo berjoget ala Gatotkaca ketika mengunjungi kampus UKRI di Bandung pada Maret 2019 lalu. Nilai-nilai tentang rasa kebangsaan Gatotkaca yang ditanamkan sejak kecil oleh sang eyang terbukti. Prabowo menginginkan UKRI bisa dijadikan universitas bergengsi di dunia seperti Universitas Oxford di Inggris dan Universitas Harvard di Amerika Serikat. Semoga cita-cita beliau dapat terwujud. Amin.

Kenapa eyang Margono menginginkan Prabowo bisa berprestasi seperti Gatotkaca? Siapa sebenarnya Gatotkaca itu? Bagaimana kiprahnya terhadap bangsa dan negaranya? Gatotkaca adalah kesatria sakti di kerajaan Pringgodani. Gatotkaca adalah putra Bima dan Dewi Arimbi, perempuan yang berwujud raksasa. Gatotkaca punya kuku pancanoko yang sakti. Gatotkaca bisa terbang tanpa sayap. Namun Gatotkaca sangat santun dan hormat kepada kedua orangtuanya dan orang-orang tua lainnya. Hal ini yang menjadi idola para orang tua untuk memiliki anak seperti Gatotaka. Mereka ingin anaknya cerdas tapi santun seperti Gatotkaca.

Ketika perang Bharatayuda antara Kurawa dan Pandawa berkobar, Gatotkaca merupakan salah satu andalan keluarga Pandawa karena ia berjasa menghancurkan banyak musuh. Anak Bima tersebut sangat gagah perkasa selalu siap membela bangsa dan negaranya. Gatotkaca berani mempertaruhkan nyawanya untuk kepentingan negara kerajaan Amarta dalam perang Bharatayuda.

Selama perang Bharatayuda, Pandawa didampingi penasihat ulung, Sri Kresna yang juga titisan Dewa Wisnu. Oleh karena itu Pandawa selalu diberi peringatan oleh Kresna di tengah berkecamuknya peperangan ini. Contohnya di pihak Kurawa ada seorang kesatria bernama Adipati Karno yang memiliki senjata konta, pemberian Dewa Indera yang dibarter dengan baju konta yang selalu dipakai Karno. Untuk jelasnya Karno adalah saudara seibu dengan Yudhistira, Bima dan Arjuna. Sewaktu ibu Kunti masih gadis, ia mendapatkan hadiah dari Resi Druwasa, gurunya berupa mantra yang bisa memanggil dewa yang dikehendakinya.

Resi Durwasa sangat kagum dan bahagia dengan sikap Dewi Kunti yang penuh perhatian, sabar dan ikhlas dalam mengurusnya sehingga ia menghadiahkan mantra sakti bernama ajian Adityaberdaya kepada putri kecil itu. Katanya, “Dengan mantra ini, engkau bisa memanggil dewa, siapa pun dia. Ia akan muncul di hadapanmu dan memberimu seorang anak yang mempunyai keagungan sepertinya.” Resi Durwasa menghadiahi putri kecil mantra itu karena ia dengan kekuatan yoganya bisa meramalkan bahwa kelak Kunti kecil akan mengalami nasib buruk dengan suaminya.

Resi Druwoso berpesan kepada Kunti agar hati-hati dengan mantra ini. Jangan dibaca pada waktu matahari mulai terbit, tanpa memberikan alasannya. Pesan ini membuat Kunti penasaran. Ia sangat ingin tahu. Suatu hari Dewi Kunti mencoba membaca mantra tersebut pada pagi hari. Tiba-tiba langit menjadi gelap tertutup awan. Tak lama kemudian, muncullah Batara Surya dari balik awan berdiri di hadapan Kunti.

Batara Surya menatap takjub pada kecantikan Dewi Kunti dan bergairah. Begitu pula Dewi Kunti terpesona oleh kekuatan gaib dan kewibawaan tamu agungnya sambil bertanya, “Siapakah yang mulia?”. Batara Surya menjawab, “Wahai putri yang cantik, akulah Dewa Surya. Engkau memanggilku dengan mantramu. Ada apa gerangan? Tanpa disadari terjadilah sesuatu yang tidak diharapkan. Dewi Kunti mengandung, padahal ia masih gadis.

Ayah Dewi Kunti, Prabu Kuntiboja mempersalahkan Resi Druwasa dan menuntut agar Resi Druwasa membantu Kunti agar bisa melahirkan jabang bayi yang dikandung Dewi Kunti tanpa merusak kegadisannya. Dengan kesaktian Resi Druwasa, bayi tersebut dapat dikeluarkan lewat telinga Dewi Kunti. Bayi tersebut diberi nama Karno yang berarti lewat telinga.

Prabu Kuntiboja memerintahkan bayi itu dibuang ke sungai agar tak seorang pun mengetahuinya. Berikutnya bayi itu ditemukan seorang kusir bernama Hadirata bersama istrinya, Nado. Merekalah yang mengasuh dan mengangkatnya sebagai anak kandung sendiri. Kelak bayi tersebut tumbuh besar menjadi seorang kesatria sakti yang bernama Basukarna.

Sebagai seorang yang berilmu tinggi, Resi Druwasa tahu kelak Dewi Kunti akan sangat membutuhkan ilmu ini. Suatu ketika suaminya tidak akan dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami karena kutukan Begawan Kimindama, padahal ia sangat membutuhkan keturunan. Maka ajian Adityarhedaya terbukti memang bermanfaat untuk memanggil para dewa sehingga garis keturunannya terselamatkan.

Pada saat perang Bharatayuda, Gatotkaca mendapat tugas berat dari pamannya Sri kresna untuk melenyapkan senjata konta milik Adipati Karno. Menurut Kresna, hanya Gatotkaca yang mampu melenyapkan senjata konta tersebut. Padahal Adipatyi Karno ingin senjata itu untuk membunuh Arjuna, adiknya. Strategi Kresna berpendapat tanpa melenyapkan senjata konta tidak mungkin Pandawa akan menang perang untuk meminta haknya Kerajaan Indraprasta kembali ke Pandawa.

Senjata konta ini sangat sakti untuk mengejar sasarannya walaupun bersembunyi di balik awan. Senjata konta hanya sekali pakai untuk sang pemberani yang berkali-kali terbang menyelinap dan bersembunyi di balik awan. Para dewata menangis dan mengeluarkan air mata mengiringi Gatotkaca sebagai pahlawan sejati yang setia membela bangsa dan negara.

Sikap patriot dan cinta pada bangsa dan negara tersebut Eyang Margono ingin diwariskan kepada cucunya Prabowo. Oleh karena itu kemauan dan cita-cita Prabowo ingin menyumbangkan tenaga dan pikirannya kepada tanah air tercinta Indonesia. Kini sebagai menhan, saatnya bagi Prabowo untuk membuktikan dermanya bagi NKRI tercinta. Kita tunggu.

Penulis adalah Dosen Universitas Esa Unggul, Jakarta

Komentar

Rekomendasi

Sepenggal Cerita Awak Kabin Mengudara di Tengah Pandemi Covid-19

Seribu Bayangan Kematian di Udara

Isra’ Mi’raj dan Dunia Global

Apa Kabar Omnibus Law?

Pelakon Ekonomi Kerakyatan di Zaman Social Distancing

Al-Isra Wal-Mi’raj dan Covid-19

Zakir

Kehabisan Kata

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar